Kapitalisme Merusak Bangunan Keluarga

Bagikan Artikel ini

Suami yang mengikat janji setia dalam ikatan suci dan sudah menjalani hidup bersama dalam waktu cukup lama, berubah menjadi penjahat hingga tega menganiaya, menzolimi, bahkan tega menghabisi istrinya tanpa rasa empati

Oleh: Yuliana (Aktivis Muslimah)

WacanaMuslim-Achmad Syarifuddin (30) menjadi tersangka pembunuhan terhadap istrinya yang bernama Febriana Fatmawati (26) di Jakarta Selatan. Pelaku dijerat pasal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman pidana 15 tahun penjara atau denda paling banyak 45 juta, sebagaimana pasal 44 ayat 3 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT.

Pembunuhan yang dilakukan Achmad Syarifuddin ini dilakukan secara spontan, meskipun pisau diambil dari rumah mertuanya. Pelaku Achmad Syarifuddin (AS) mengajak korban Febriana Fatmawati (FF) untuk pulang, setelah sampai di kontrakan terjadilah percekcokan antara pelaku (AS ) dan korban (FF). Saat korban lagi tidur di kamar, Achmad lantas menusuknya.

Korban memberontak dengan memukuli pelaku sambil berteriak minta tolong. Bukannya berhenti, Achmad justru menusuk korban membabi buta hingga tewas dengan sejumlah luka tusukan di tubuhnya (DetikNews.com, 5/9/24)

Tekanan Kapitalisme

Sungguh tragis kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini. Seorang suami yang mengikat janji setia dalam ikatan suci dan sudah menjalani hidup bersama dalam waktu cukup lama, berubah menjadi penjahat hingga tega menganiaya, menzolimi, bahkan tega menghabisi istrinya tanpa rasa empati. Naluri kasih sayang suami seketika hilang, ketika dirinya dirundung dengan kemarahan. Perilaku suami melebihi buasnya hewan.

Perkara KDRT sering terjadi. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari ekonomi, orang ke tiga, tipisnya iman, kurangnya harta kekayaan, dan sempitnya lapangan pekerjaan. Semua itu membuat ia kalut dan bertindak kejam.

Penyebab hakiki dari permasalahan ini adalah penerapan kapitalisme. Ideologi/mabda buatan manusia ini memisahkan aturan agama dari kehidupan yang biasa dikenal dengan sekularisme.
Penerapan UU yang digerakkan oleh sekularisme dan materialisme membuat tekanan hidup makin berat. Penerapan aturan ekonomi kapitalistik membuat harga kebutuhan pokok naik. Kenaikan ini tidak seimbang dengan kenaikan gaji. Malah banyak kasus PHK. Inilah yang mempengaruhi kemampuan sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhannya.

Setiap manusia memiliki ghorizah baqo’ (naluri mempertahankan diri). Saat suami merasa istri merendahkan wibawanya, hatinya tersakiti dan tidak terima kemudian suami marah dan melampiaskan kemarahannya itu pada istri.
Akan tetapi, tidak adanya kontrol emosi membuatnya kalut dan terjadilah KDRT hingga pembunuhan.

Solusi Islam

Sesuatu yang mampu menjadi kontrol atas emosi atau naluri manusia adalah agama. Mestinya kita sebagai orang muslim harus meyakini bahwa Islam mampu menyelesaikan masalah, termasuk mengatasi kemarahan dengan cara mengontrol nalurinya dan mengikuti aturan Islam.

Apabila keyakinannya kepada Allah Swt. sangat kuat, suami istri akan senantiasa bersabar dalam segala kesulitan. Mereka akan meyakini setiap sesuatu yang menimpa mereka adalah kehendak Allah Swt. Mereka yakin bahwa kesabaran dalam mengahadapi segala kesulitan dan masalah akan membuahkan pahala, yang akan menjadi tabungan di akhirat kelak.

Di dalam keluarga kita harus menerapkan sikap timbal balik. Jika suami keras maka istri sebaiknya mengalah atau diam, karena sejatinya laki-laki tidak ingin disalahkan atau dinasehati. Begitupun suami, harus bisa memahami kondisi hati dan aktivitas istri yang juga membutuhkan perhatian, kepedulian, kasih sayang, dan dihargai. Jika dalam rumah tangga menerapkan sistem Islam sudah pasti ketenangan dan kedamaian akan hadir dalam rumah tangga tersebut.

Sebagai mana di jelaskan dalam Q.S. Ali-Imron :159
“Maka berkat Rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka .Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka.Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad,maka bertakwalah kepada Allah,sungguh Allah mencintai orang yang bertakwa.”

Oleh karena itu, setiap permasalahan yang muncul harus dimusyawarahkan atau diselesaikan dengan baik tanpa adanya kekerasan. Dalam Q.S An-Nisa : 148, Allah juga menjelaskan,
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini juga menerangkan tidak diperbolehkannya melontarkan kata-kata buruk kepada sesama manusia, termasuk terhadap suami dan istri. Apabila hal ini dilakukan berlarut-larut, maka akan terjadi permusuhan dan kebencian. Jadi bisa di garis bawahi, bahwa di dalam rumah tangga harus ada rasa kasih sayang, kejujuran, perhatian, dan sikap saling menghargai. Jika hal ini diterapkan, maka tidak akan ada yang namanya perceraian ataupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).[]

Sumber Foto : Canva

One thought on “Kapitalisme Merusak Bangunan Keluarga

  1. Terus berkarya dan berusaha sesuai kemampuan Allah tidak tidur suatu saat pasti ada masanya yg indah ………..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *