Trend bunuh diri yang semakin sering ditemui di berbagai media memberikan “inspirasi” bagi gen Z untuk meniru hal-hal yang tidak semestinya diikuti.
Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
WacanaMuslim-Belum lama, terungkap fakta mengejutkan terkait kondisi gen Z yang tengah menghadapi krisis paruh baya yang cenderung lebih cepat daripada seharusnya (okezone.com, 18-1-2025).
Krisis paruh baya atau middlelife crisis terjadi karena tekanan finansial yang luar biasa. Porsinya pun tidak sedikit, mencapai 38 persen dari jumlah keseluruhan. Hal ini berdampak pada penurunan kondisi kesehatan holistik secara umum. Generasi Z selalu berpikir kesulitan keuangan, kelelahan, kekecewaan, rendahnya stabilitas pengendalian emosi hingga mengalami ketidakpuasan hidup yang mengkhawatirkan. Fakta ini tidak boleh dibiarkan begiu saja. Karena akan berdampak buruk pada pola pikir dan keadaan sosial masyarakat.
Dampak Sistemis Sistem Rusak
Terkait kesehatan mental, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama untuk remaja 10-17 tahun di Indonesia menunjukkan hasil survei bahwa satu dari tiga remaja Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental. Data tersebut sebanding dengan 15,5 juta remaja (timesindonesia.co.id, 17-10-2024). Dalam survei lainnya, data menunjukkan bahwa satu dari duapuluh remaja mengalami gangguan mental akut.
Tidak hanya itu, gen Z pun disapa masalah ekonomi yang memprihatinkan. Data BPS mencatat terdapat 42,62 persen gen Z di Indonesia pada rentang usia 15-24 tahun, terkategori dalam kelompok Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Dan sejumlah 4.303.938 tenaga kerja muda dari seluruh populasi gen Z, 44.495.300 orang, tercatat tidak bekerja (viva.co.id, 22-1-2025).
Betapa banyak masalah yang dihadapi gen Z mulai dari depresi, mahalnya biaya pendidikan, pengangguran dan masalah lainnya. Gaya hidup yang bermasalah pun berdampak pada arah digitalisasi dan teknologi yang semakin kacau, memberikan andil yang cukup signifikan pada masalah gen Z.
Trend bunuh diri yang semakin sering ditemui di berbagai media memberikan “inspirasi” bagi gen Z untuk meniru hal-hal yang tidak semestinya diikuti.
Tidak hanya itu, gaya hidup hedon pun menjadi pemantik rusaknya generasi. Arus westernisasi kian mempengaruhi pemikiran gen Z. Budaya konsumerisme dan life style ala hedon, menjadi hal yang dinormalisasi dan dipandang trendi.
Semua kerusakan ini sebagai akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekularistik. Yakni sistem yang mengorientasikan setiap keputusan hanya pada kepuasan jasadiyah dan berfokus pada keuntungan materi. Semua diaruskan hanya demi kebahagiaan duniawi. Individu pun akhirnya melawan fitrahnya sebagai manusia yang utuh. Alhasil dampak buruk menjadi hal yang tidak terelakkan. Dan terus menjadi ancaman.
Konsep pengaturan ala sekularisme yang menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan membuat individu pun tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Nilai benar salah menjadi tidak jelas. Halal haram dilalaikan. Semua dilakukan sesuka hati tanpa memperhitungkan akibat yang pasti terjadi.
Gen Z, Kekuatan Peradaban
Generasi Z adalah aset besar yang dapat mengarahkan kehidupan menuju perubahan. Dalam pandangan sistem Islam, generasi merupakan ujung tombak peradaban. Dari merekalah kekuatan dan kejayaan peradaban terwujud. Namun, sistem kapitalisme sekular yang rusak telah menjauhkan generasi ini dari pemikiran Islam. Oleh karena itu, sistem rusak ini perlu segera diganti dengan sistem yang mampu mengembalikan manusia pada esensi kemanusiaannya yang utuh, yakni dengan sistem Islam.
Sistem Islam adalah satu-satunya sistem sempurna dengan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Tidak hanya mengatur individu, namun juga mengatur kehidupan sosial dan imteraksi antara manusia dengan manusia beserta hubungannya dengan Dzat Pencipta. Semua konsep ini tertata apik dalam sistem Islam yang bijaksana.
Menyoal gen Z, generasi membutuhkan pendidikan yang mendalam terkait pemahaman konsep agama dan akidah Islam yang akan membimbing generasi Z menuju pemikiran yang benar. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan partai politik yang konsisten dalam memahami dan mengajarkan tsaqafah dan akidah Islam. Hal ini akan membentuk generasi yang berkepribadian Islam dan menyadari bahwa Islam adalah “The Way of Life“.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), hendaklah ia menguasai ilmu.” (HR. Ahmad)
Hanya dengan tsaqafah dan akidah Islam, generasi unggul dengan sakshiyyah Islam (kepribadian Islam) dapat menjadi generasi tangguh harapan umat. Menuju peradaban yang gemilang dengan pemikiran yang cerdas dan mampu mencerdaskan umat secara keseluruhan. Wallahu alam bisshowwab.[] Sumber Foto : Canva

