“Bagi seorang muslim, teknologi adalah alat bantu untuk membuatnya makin taat dan banyak beribadah, bukan sebaliknya”
Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
WacanaMuslim-Dunia maya dihebohkan dengan kemunculan video editan digital yang menampilkan simbol-simbol LGBT di sekitar Ka’bah Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Netizen dan umat Islam meradang ( _beritasatu.com_ , 25-05-2025).
Video yang diduga editan teknologi AI itu viral meramaikan jagad raya. Saat ini kemudahan bagi para konten kreator untuk berinovasi telah memenuhi ruang tanpa kontrol diri dan batasan yang pasti, alhasil produk digital kontroversial pun kian menjamur.
Konflik besar terjadi di tengah masyarakat. Tanpa antisipasi dan solusi terbaik bahkan kian meluas. Memang benar teknologi yang merupakan hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan bersifat universal. Siapa pun boleh memanfaatkannya. Hanya saja pemanfaatannya tergantung cara pandang penggunanya. Ibarat pedang bermata dua, teknologi bisa digunakan untuk membangun sekaligus untuk menghancurkan. Jika pola pikir sekuler liberal mendominasi, peluang memanfaatkan teknologi sesuai hawa nafsu tentunya lebih besar karena tidak mengenal standar baik buruk, apalagi halal dan haram. Selama dianggap bermanfaat seolah-olah sah saja untuk dilakukan. Alhasil, penyalahgunaan teknologi menjadi hal yang tidak asing.
Demikianlah yang terjadi pada teknologi AI. Teknologi ini menjadi rawan untuk sarana kejahatan. Menipu sampai menista agama pun terjadi, baik dengan motivasi materi atau sekadar kesenangan diri. Menyedihkan, hingga saat ini, negara belum memiliki hukum spesifik yang mengatur etika AI.
Islam Memiliki Garis Tegas
Dalam Islam, seorang muslim sudah seharusnya berpedoman hanya pada ajaran Islam. Sumber acuan sebagai garis tegas saat memanfaatkan teknologi adalah hukum Allah. Selain halal dan haram, seorang muslim memanfaatkan teknologi hanya untuk kebaikan. Bagi seorang muslim, teknologi adalah alat bantu untuk membuatnya makin taat dan banyak beribadah, bukan sebaliknya. Pada waktu yang sama, seorang muslim juga senantiasa menguatkan rasa diawasi Allah dalam segala hal sebagai alat kontrol paling efektif dari tindakan apa pun tidak terkecuali penyalahgunaan teknologi.
Membekali masyarakat dengan sudut pandang yang benar berdasarkan Islam semestinya menjadi hal mendesak untuk segera dilakukan oleh penguasa negeri muslim. Sayang, akibat negara menganut ideologi sekular kapitalisme, upaya yang demikian itu sungguh berat. Sekularisme sendiri mengharamkan agama untuk mengatur kehidupan. Namun lihatlah kejahatan di dunia digital, makin hari makin banyak serta dengan modus yang beragam. Akibatnya, lagi-lagi individu masyarakat harus susah payah membentengi diri mereka sendiri karena penguasa begitu abai dalam urusan ini.
Dalam Islam media adalah untuk kemuliaan agama. Islam mempunyai seperangkat aturan kehidupan yang sistemis, detil, dan rapi. Islam tidak berpuas hanya dengan penjagaan dari arah individu berupa kontrol yang lahir dari iman. Dalam Islam, urusan strategi media sangat diperhatikan negara. Negara memerankan tiga fungsi penting. Pertama, sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi ideologi dan ajaran Islam dari bahan olok-olok dan penghinaan. Kedua sebagai penyaring dari informasi sampah dan rusak. Ketiga, sebagai sarana syiar dan penyebaran informasi Islam ke seluruh dunia, baik dalam maupun luar negeri. Sungguh, khilafah menjadikan media massa sebagai pelayan ideologi. Dalam Islam, tidak akan diterima dalih apa pun, termasuk alasan kebebasan berekspresi dalam penggunaan teknologi. Dengan begitu, pemanfaatan teknologi informasi bisa dipastikan akan tetap berjalan sehat dalam koridor hukum Islam. Materi dan kesenangan tak akan dibiarkan untuk menista agama. Tak akan dibiarkan pula segala hal seolah-olah menjadi sah untuk dilakukan. Oleh karena itu garis tegas Islam harus benar-benar diaplikasikan di dunia, karena hanya Islam lah yang memiliki aturan lengkap dan sempurna untuk mewujudkan iklim yang sehat dan beradab dalam pemanfaatan teknologi digital dan media massa. Memerjuangkan tegaknya Islam harus benar-benar menjadi resiliensi urgen agar menista agama tidak kian menjadi. Wallahua’lam bisshawaab. [] Sumber Foto : Canva

