Mengirim Anak Ke Barak Militer, Efektifkah?

Bagikan Artikel ini

Apakah benar militerisasi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan kenakalan remaja? Atau justru menunjukan kemiskinan imajinasi kebijakan publik dalam menangani masalah anak?

Aminah
Kota Banjar

WacanaMuslim-Pemerintah provinsial Jawa Barat resmi memberlakukan aturan jam malam bagi peserta didik. Di Ciamis mulai berlaku bagi para pelajar, terutama jenjang SMA dan SMK dilarang beraktivitas di luar rumah sejak pukul 21.00 hingga 04.00 wib. Bagi peserta didik yang melanggar Pemerintah telah menyiapkan sanksi pelanggar bisa masuk Barak Militer. Radartasik.id (01-06-2025)

Apakah benar militerisasi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan kenakalan remaja? Atau justru menunjukan kemiskinan imajinasi kebijakan publik dalam menangani masalah anak?

Ketika Sistem Sekuler Gagal Membina Generasi

Barak militer bisa saja menerbitkan perilaku remaja secara fisik tapi tidak menyentuh akar persoalan, tanpa perubahan cara aqliah (berpikir) dan standar nafsiyah (perilaku), pelatihan fisik hanya akan menjadi tempelan sesaat.

Faktor -faktor kerusakan generasi saat ini harus dikupas terlebih dahulu, dicari akar masalah dan solusinya, jika ditinjau secara lebih mendalam ini masih terlalu normatif dan persial, hal tersebut mengabaikan konteks sistemik yang justru menjadi akar persoalan generasi muda. Dunia pendidikan merupakan garda terdepan pembentuk karakter anak-anak secara teoritis, tetapi dalam perakteknya, justru sering gagal membentuk kepribadian yang tangguh, cerdas secara holistik dan bermoral. Sistem pendidikan Indonesia justru menjadi alat reproduksi penyimpangan identitas, nilai-nilai materialistik, kebijakan tambal sulam yang tidak mampu menanggulangi krisis moral dan sosial remaja.

Sistem pendidikan sekuler ini adalah fakta buramnya dunia pendidikan kita. Sistem pendidikan sekuler liberal, memisahkan agama dari kehidupan dan membebaskan manusia untuk bertingkah laku, termasuk bebas untuk berbuat curang. Sistem ini berdampak pada lahirnya sumber daya manusia (SDM) yang culas, enggan bekerja keras, bermental lemah, serta tidak kapabel. Siswa yang dilingkupi kecurangan menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai yang bagis dalam ujian.

Kenakalan remaja saat ini sudah bukan lagi ala remaja, berbagai kasus kerusakan generasi makin hari makin bertambah banyak dan makin beragam jenis kerusakannya. Pelakunya juga bukan hanya orang dewasa tetapi usia anak-anak pun tidak luput dari tindakan yang tidak beradab. 90% pelaku tawuran adalah remaja yang kian hari kian meresahkan, apa lagi geng motor, begal, berbagai jenis kekerasan dilakukan remaja hingga berujung pada nyawa melayang.

Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) terdapat 49 jaringan Narkotika Internasional dan Nasional yang telah menyebar di desa dan kota di Indonesia, pengguna narkoba meningkat mencapai 4,8 juta dan kebanyakan dari mereka adalah remaja.

Sistem pendidikan kita menempatkan ilmu sekuler sebagai pallima. Kurikulum dirancang mengikuti Barat yang mengukur keberhasilan siswa dari aspek kognitif dan akademik semata, spiritual dan akhlak sering kali dikesampingkan.

Sistem kapitalistik juga mendorong orang tua bekerja tanpa henti, sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak. Anak kehilangan panutan, dan akhirnya mencari pengungsi diluar lingkungan yang negatif.

Membentuk Generasi Emas Dari Akar

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna, terbukti mampu melahirkan generasi yang seimbang antara akhlak dan ilmu, antara rasionalitas dan iman. Sistem pendidikan Islam menghasilkan generasi muda berkepribadian islam, pola pikir dan pola jiwa islami. Generasi paham jati dirinya sebagi hamba Allah SWT yang harus taat padanya. Generasi paham tujuan hidupnya untuk meraih rida Allah mendorong untuk selalu beramal saleh sehingga mereka selalu menata amalnya secara visioner demi meraih kebahagiaan yang abadi di surga.

Pendidikan islam juga akan mengajarkan sejarah orang-orang saleh dari kalangan Nabi, Rasulullah SAW, Sahabt- Sahabat, Ulama-Ulama, dan Mujahid sehingga menjadi role model generasi muda muslim. Generasi muda akan meniru kebersihan jiwa dan ketangguhan para generasi terdahulu. Generasi yang memiliki nafsiah islami ini akan menjadi pribadi tangguh mampu menghadapi masalah kehidupan, serta menyelesaikannya berbasis ilmu dan tsaqofah yang ia miliki seperti Imam syafii, Ibnu Sina, Al-faribi, Al-khawarizmi, dan lainnya. Generasi tidak hanya ahli dalam sains dan filsafat, tetapi juga menjadi pemimpin umat yang berakhlak tinggi. Generasi muda akan siap meneruskan estafet peradaban islam sehingga mampu mewujudkan kegemilangan islam sebagai (bisyarah) dari Rasulullah SAW yaitu meluasnya wilayah kekuasaan islam hingga kota Roma.

Negara islam (khilafah) menerapkan sistem pendidikan islam dan juga menyiapkan orang tua dan masyarakat untuk mendukung proses pembentukan generasi pembangun peradaban islam yang mulia. Negara juga akan menerapkan sistem ekonomi islam sehingga rakyat merasakan kesejahteraan, seperti kebutuhan pokok sandang, pangan, papan, bahkan pendidikan geratis, dan kesehatan geratis layanannya tersedia berjenjang dari tingkat kota, provinsi, hingga ibu kota negara sehingga rakyat mudah menjangkaunya dan pastinya geratis.
Semua yang (geratis) ini bisa dilakukan karena dibiayai dari baitulmal yang memiliki banyak sumber pemasukan, termasuk dari pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lainya.

Hanya sistem islam kaffah dalam naungan khilafah mampu melindungi masyarakat secara menyeluruh dari kerusakan sistemis. Kepemimpinan yang tidak sekedar memerintah, tetapi mengurus, melindungi, dan memastikan setiap rakyat hidup dalam lingkungan yang bersih dari kejahatan dan maksiat.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *