Pesantren, Lentera yang Nyaris Diredupkan

Bagikan Artikel ini

Dalam sistem sekular hari ini, pesantren yang dahulu menjadi benteng akidah, kini perlahan diarahkan menjadi pusat kemandirian ekonomi dan motor perdamaian sosial, santri didorong menjadi “duta moderasi” — istilah yang terdengar manis, tapi sering berujung pada penjinakan semangat dakwah yang kritis terhadap penguasa.

Oleh : Ghooziyah

WacanaMuslim-Ada semangat yang terasa dalam pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, saat membuka Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional. Ia menyebut bahwa ajang ini dapat menjadi “anak tangga pertama menuju kembalinya The Golden Age of Islamic Civilization.” Ia juga menekankan pentingnya “perkawinan antara Iqra’ dan Bismirabbik” — antara ilmu umum dan ilmu agama — agar lahir insan kamil, manusia paripurna.

Kata-katanya menggugah. Tapi di balik ajakan itu, ada pertanyaan besar yang perlu dijawab. Peradaban Islam seperti apa yang ingin dikembalikan? Dan bagaimana peran pesantren yang sesungguhnya dalam mewujudkan hal itu?

Romantika Zaman Keemasan dan Realita Sekarang

Kita sering mendengar istilah “Zaman Keemasan Islam”, sebuah masa ketika ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan keadilan tumbuh seiring iman dan ketundukan kepada syariat Allah. Tapi kini, “kejayaan” sering dipersempit maknanya, cukup dengan reputasi akademik, prestasi budaya, atau kemampuan ekonomi.

Padahal, peradaban Islam tidak dibangun dari “IQ tinggi” semata, tapi dari keyakinan yang melahirkan ketaatan. Ia tumbuh karena ilmu diposisikan sebagai sarana untuk mengenal Sang Pencipta, bukan alat untuk mengejar gengsi dunia.

Ironisnya, dalam sistem sekuler hari ini, pesantren yang dahulu menjadi benteng akidah, kini perlahan diarahkan menjadi pusat kemandirian ekonomi dan motor perdamaian sosial. Santri didorong menjadi “duta moderasi” — istilah yang terdengar manis, tapi sering berujung pada penjinakan semangat dakwah yang kritis terhadap penguasa.

Distorsi Peran Strategis Pesantren

Perubahan arah ini tidak terjadi tiba-tiba. Ia bagian dari strategi panjang yang ingin menjauhkan pesantren dari peran politik Islam yang hakiki. Santri yang semestinya menjadi calon ulama dan pemimpin umat, kini lebih banyak digiring untuk menjadi “penggerak wirausaha” atau “agen toleransi.”

Padahal, sejarah mencatat, pesantren bukanlah institusi netral. Ia lahir dari semangat dakwah, menjadi tempat mencetak generasi yang berani menentang penjajahan dan menegakkan syariat. Di masa lalu, para kiai bukan hanya guru, tapi juga penggerak perjuangan.

Kini, peran itu digeser. Santri diajari berdialog dengan semua pihak, tapi tak diajari lagi bagaimana menegur kekuasaan yang zalim. Mereka dikenalkan pada pluralisme, tapi dijauhkan dari pemahaman tentang syariat sebagai hukum yang wajib ditegakkan.

Maka, pertanyaan besarnya adalah, apakah pesantren akan menjadi pelopor kebangkitan Islam, atau justru pelengkap narasi “Islam moderat” yang jinak di hadapan sistem sekuler?

Pesantren dan Upaya Membumikan Sekulerisme Baru

Bila diperhatikan, program integrasi “kitab kuning dan kitab putih” yang dicanangkan pemerintah terdengar progresif. Tapi di dalamnya terselip satu bahaya laten, upaya melebur nilai wahyu dengan paradigma ilmu sekuler.

Dalam sistem pendidikan kapitalistik, ilmu diukur dari manfaat ekonomi dan nilai jualnya. Sementara dalam Islam, ilmu adalah cahaya yang ia memandu akal untuk tunduk kepada hukum Sang Pencipta. Ketika keduanya disatukan tanpa fondasi aqidah yang kuat, maka hasilnya bukan insan kamil, tapi insan bingung, tahu banyak hal, tapi tak tahu arah hidupnya.

Inilah wajah pendidikan modern yang memisahkan iman dari akal. Dan kini, virus itu perlahan menyusup ke dunia pesantren dengan dalih modernisasi.

Membangun Kembali Peradaban: Dari Mana Mulai?

Jika yang dimaksud dengan “Zaman Keemasan Islam” adalah masa ketika umat Islam memimpin dunia dengan keadilan dan ilmu, maka kuncinya bukan sekadar integrasi kurikulum, tapi integrasi arah hidup. Peradaban Islam tidak dibangun oleh proyek, tapi oleh sistem yang menata manusia dengan hukum Allah.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa kebangkitan sejati bukan hanya soal mencetak ilmuwan, tapi membentuk manusia dengan pola pikir dan pola sikap Islam. Pesantren bisa menjadi pelopor, tapi hanya jika ia kembali pada misi awalnya yaitu mencetak generasi ideologis yang berani berbicara kebenaran di tengah kebatilan.

Solusi Islam: Ilmu yang Menumbuhkan Iman

Islam menempatkan ilmu dalam posisi mulia, tapi terikat dengan akidah. Dalam salah satu pemikiran ulama Islam klasik disebutkan bahwa ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tapi untuk diamalkan dalam bingkai syariat.

Karena itu, Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu dunia dan ilmu agama. Yang ada hanyalah ilmu yang menuntun manusia kepada ketaatan, dan ilmu yang menjerumuskannya dalam kesombongan.

Negara dalam sistem Islam bertanggung jawab memastikan arah pendidikan sesuai aqidah. Negara tidak menukar nilai iman dengan kemandirian ekonomi. Ia tak mengukur pesantren dari omzet, tapi dari sejauh mana pesantren mencetak orang-orang yang berilmu dan bertakwa.

Di bawah kepemimpinan Islam, lembaga seperti pesantren akan menjadi pusat pembinaan umat, tempat lahirnya ulama, pemikir, dan pemimpin yang memahami realitas dan mampu menuntunnya menuju keridhaan Allah.

Dari Pesantren ke Peradaban

Peradaban Islam bukan cita-cita masa lalu. Ia adalah janji Allah bahwa cahaya-Nya akan terus bersinar, meski banyak tangan mencoba memadamkannya. Namun, cahaya itu hanya akan tampak jika pesantren dan para santrinya berani mengambil peran sejatinya, bukan sekadar pewaris budaya, tapi pewaris perjuangan.

Mereka yang hari ini duduk di serambi masjid dan membaca kitab kuning bukan sekadar murid. Mereka adalah calon pembawa obor peradaban, yang kelak akan menyalakan kembali dunia dengan ilmu dan iman.

Sebagaimana dahulu cahaya Islam menyinari Baghdad, Kairo, dan Andalusia, maka suatu hari nanti, mungkin dari pesantren kecil di Nusantara, akan kembali lahir generasi yang berkata lantang, “Kami belajar bukan untuk dunia, tapi untuk mengembalikan kemuliaan umat ini di bawah hukum Allah.” Wallahu a’lam[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *