Negara tidak boleh hanya mengatur kurikulum, tetapi juga menciptakan suasana sosial yang bersih dari kekerasan dan pelecehan sehingga pelajar tumbuh dalam masyarakat yang menjaga kehormatan manusia sebagai nilai utama.
Oleh Arnita Fakhris
Aktivis Muslimah
WacanaMuslim-Rangkaian kasus kekerasan yang melibatkan remaja dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan kondisi yang makin genting. Seorang santri di Aceh membakar asrama pesantren setelah lama menjadi korban bullying dan merasa sakit hati atas perlakuan teman-temannya (BeritaSatu.com, 7-11-2025). Laporan lain dari lokasi yang sama menguatkan bahwa santri tersebut mengalami tekanan sosial yang konstan berupa ejekan, pelecehan, dan pengucilan. (Kumparan.com, 7-11-2025)
Situasi yang tidak kalah serius terjadi di Jakarta. Seorang siswa SMAN 72 diduga melakukan ledakan rakitan di lingkungan sekolah. Berdasarkan keterangan saksi, siswa itu kerap menjadi sasaran bullying sejak lama. Polisi juga menyatakan sedang mendalami kasus tersebut dengan mempertimbangkan aspek tekanan psikologis yang dialami pelaku. (CNN Indonesia.com, 7-11-2025)
Rangkaian peristiwa ini bukanlah kejadian sporadis, tetapi sinyal bahwa bullying telah menjadi problem sistemik dalam dunia pendidikan Indonesia.
Bullying sebagai Gejala Sistemik dan Krisis Adab
Kasus yang muncul dari pesantren hingga sekolah negeri memperlihatkan bahwa bullying terjadi di berbagai lapisan. Ini bukan hanya masalah kedisiplinan sekolah, tetapi tanda hilangnya fungsi pendidikan sebagai pembentuk adab. Media sosial memperburuk situasi. Remaja menjadikan ejekan sebagai hiburan publik, bahkan sebagai konten viral. Fenomena ini mengungkap krisis adab yang sangat dalam.
Di sisi lain, korban bullying menjadikan media sosial sebagai tempat mencari pembenaran bagi tindakan nekat. Contoh ledakan rakitan yang dilakukan siswa SMAN 72 menjadi bukti bahwa pelampiasan rasa tertekan kini mengambil bentuk yang semakin ekstrem (Kumparan, 7-11-2025). Ketika remaja tidak menemukan perlindungan dan pembinaan, amarah yang menumpuk dapat berubah menjadi ancaman bagi lingkungan.
Semua ini menunjukkan gagalnya sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang lebih menekankan nilai akademik, kompetisi, dan output materi dibanding pembentukan kepribadian. Pendidikan kehilangan dimensi ruhiyah, maknawi, dan moral yang diperlukan untuk membangun karakter kuat pada generasi.
Pandangan Islam, Pendidikan untuk Membentuk Kepribadian
Dalam Islam, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak siswa berprestasi, tetapi membentuk kepribadian Islam (pola pikir yang berlandaskan akidah dan pola sikap yang mengikuti syariat). Pendidikan tidak boleh lepas dari nilai-nilai moral dan adab. Karena itu, proses pembinaan harus bersifat intensif, terarah, dan menyentuh seluruh aspek kehidupan anak baik akal, emosi, dan spiritualitas.
Kurikulum pendidikan Islam berakar pada akidah. Semua mata pelajaran, proses interaksi, dan lingkungan sekolah harus mendukung tumbuhnya adab, hormat kepada sesama, serta kesadaran bertanggung jawab. Pendidikan semacam ini tidak menciptakan ruang bagi bullying untuk tumbuh.
Dalam sistem pemerintahan Islam (khilafah), negara memiliki kewajiban untuk menjamin pendidikan yang membentuk akhlak, memelihara keamanan pelajar, dan melindungi generasi dari kezaliman sosial. Negara tidak hanya mengatur kurikulum, tetapi juga menciptakan suasana sosial yang bersih dari kekerasan dan pelecehan. Pelajar tumbuh dalam masyarakat yang menjaga kehormatan manusia sebagai nilai utama.
Menutup Luka Sosial, Mengembalikan Fungsi Pendidikan
Kasus bullying yang berujung pada pembakaran asrama atau percobaan ledakan bukan hanya tragedi personal, tetapi potret retaknya bangunan pendidikan kita. Jika sistem pendidikan terus menekankan pencapaian materi tanpa memprioritaskan adab dan karakter, maka tindakan ekstrem akan terus muncul.
Islam memberikan solusi jelas, dengan pendidikan berbasis akidah, pembinaan intensif, kurikulum yang menanamkan adab, dan negara yang berperan aktif menjaga moral dan keamanan generasi. Tanpa pembenahan sistemik, kita hanya akan menyaksikan siklus kekerasan yang terus berulang dan semakin berbahaya. Wallahualam bissawab[] Sumber Foto : Canva

