Sungguh ironis, di negeri yang terkenal orangnya ramah-ramah namun saat ini banyak digemparkan oleh kasus bullying. Apa akar masalahnya? Mengapa kasus tersebut mencuat dan menggejala di berbagai daerah?
Oleh: Asri Prasasti, SE.I
WacanaMuslim-Akhir-akhir ini kita banyak dikejutkan dengan kasus bullying. Tidak berhenti disitu, korban bullying juga semakin membahayakan dalam berperilaku. Seperti baru saja yang terjadi di Aceh. Seorang santri yang membakar asrama dikarenakan sakit hati lantaran menjadi korban bullying. “Pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, saat konferensi pers di Meuligoe Rastra Sewakottama, (www.Kumparan.com. 6/11/2025).
Belum lama juga terjadi kasus bahwa seorang siswa yang menjadi pelaku ledakan di SMA negeri 72 Jakarta lantaran sering terkena bully oleh teman-temannya.
Seolah semua itu terjadi begitu saja, sehingga pelaku melakukan aksi tersebut karena terkena tekanan sosial akibat ejekan, pelecehan dan pengucilan.
Sungguh ironis, di negeri yang terkenal orangnya ramah-ramah namun saat ini banyak digemparkan oleh kasus bullying. Apa akar masalahnya? Mengapa kasus tersebut mencuat dan menggejala di berbagai daerah?
Kasus ini juga merupakan bukti nyata bahwa problem bullying ini merupakan masalah yang bersifat sistemik di dunia pendidikan. Sehingga dalam penyelesaiannya, juga membutuhkan perubahan yang bersifat sistemik dan komprehensif.
Pengaruh Media Sosial
Ketika ditilik lebih dalam, kasus bullying tidak terlepas dari pengaruh media sosial yang membawa dampak besar bagi remaja baik dalam berpikir maupun berperilaku. Sehingga menunjukkan kehidupan remaja didominasi oleh gaya hidup dan standar ala media sosial.
Tak jarang pula kasus bullying dijadikan bahan candaan di media sosial. Namun ironisnya, media sosial justru dijadikan tempat rujukan oleh korban bullying sehingga memperkeruh keadaan dalam melampiaskan kemarahannya. Sehingga perilaku yang ditimbulkan dapat membahayakan nyawa orang lain. Hal ini menunjukkan adanya krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan.
Dampak dari Pendidikan Sekular
Semua ini adalah dampak dari pendidikan sekular yang menjadikan materi sebagai tujuan hidupnya. Sehingga pendidikan hanya dijadikan motor penggerak untuk meraih dunia semata. Dalam pendidikan ala sekular ini juga terdapat pemisahan agama dari kehidupan. Namun dalam kasus bullying ini, semakin membuktikan bahwa sistem pendidikan sekuler telah gagal dalam membentuk kepribadian remaja.
Pandangan dan Kontruksi Pendidikan Islam
Islam merupakan agama yang lengkap dan menyeluruh. Islam hadir sebagai rahmatan Lil ‘alamin sehingga sistem yang ada dalam Islam tidak hanya menguntungkan dan berpihak pada orang Islam saja. Melainkan membawa manfaat dan maslahat bagi seluruh umat manusia.
Adapun tujuan dalam pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam sehingga membentuk kepribadian yang unggul dan khas. Namun semua itu tidak akan terbentuk begitu saja tanpa sebuah proses pembinaan. Maka perlu adanya pembinaan yang intensif dan berkesinambungan sehingga di dalamnya tidak sekedar mengejar nilai dunia semata. Melainkan menanamkan kurikulum berbasis Aqidah. Karena dalam pendidikan islam, aqidah merupakan asas yang mendasar agar seseorang memiliki tauhid yang lurus dan adab yang mulia.
Adapun dalam pendidikan berbasis aqidah Islam akan membentuk jiwa seseorang menjadi sadar akan hubungannya dengan Rabb yang Maha Menciptakan. Selain itu, di dalam pendidikan Islam seseorang akan dibina sesuai dengan fitrah manusia sehingga potensi positif yang dimiliki akan berkembang dengan baik. Inilah gambaran pendidikan dalam Islam yang menanamkan nilai maknawi dan ruhiyah bukan nilai materi semata.
Dengan menanam kurikulum berbasis aqidah dan adab maka seorang pelajar atau remaja akan merasa setiap langkahnya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Untuk itu seorang remaja akan menyadari bahwa Allah sebagai pencipta sekaligus sebagai pengatur.
Namun untuk menerapkan pendidikan Islam secara komprehensif, tidak berhenti pada pembentukan kesadaran individu semata, tetapi juga membutuhkan kontrol masyarakat dan peran negara. Negara seharusnya menjamin pendidikan yang layak tiap tiap individu.
Negara yang menerapkan Islam (Khilafah) akan hadir sebagai penjamin bagi setiap individu untuk mendapatkan ilmu, pembinaan moral, perlindungan generasi dan penjagaan dari kedzaliman sosial. Dalam proses menjalankan sistem pendidikannya tentu memperhatikan fase demi fase, mulai anak anak, pra baligh sampai baligh/ dewasa. Sehingga di dalamnya juga terdapat sanksi yang bersifat tegas ketika terjadi pelanggaran. Maka sudah saatnya negara menerapkan Islam secara komprehensif demi terciptanya keamanan dan tergapainya rahmat bagi seluruh umat manusia. Wallahu’alam bish showab[] Sumber : Canva

