Semestinya kaum muslimah tidak mencukupkan diri dengan posisi sebagai istri saja, tetapi juga harus mengambil peran sebagai pencetak generasi dan pengemban dakwah yang istiqomah
Kota Banjar
Aminah
WacanaMuslim-Sakit di Taiwan, PMI Asal Pangandaran minta dijemput Dedi Mulyadi. Dalam kondisi sangat lemah dengan selang infus terpasang, ia menyampaikan permohonan yang membuat haru. harapanrakyat.com (09-11-2025)
Kesulitan mencari lapangan kerja di dalam negri membuat mereka terpaksa menjadi PMI. Kenyataannya, kondisi Ketenagakerjaan Indonesia makin murah. Ditambah angka pengangguran mencapai 7,28 juta orang dari februari 2025.
Kerusakan Di Mana Mana
Sistem saat ini yaitu, sistem kapitalisme liberal telah mendudukkan perempuan sebagai objek eksploitasi, seperti menyanyi di kafe, menjadi pekerja seks komersial, model dan sebagainya. Profesi ini diharamkan islam dan merendahkan martabat perempuan, bahkan membuat perempuan rawan mengalami kekerasan seksual.
Apa lagi, sistem ekonomi liberal yang menciptakan kemiskinan massal, juga menyeret perempuan terpaksa bekerja di pabrik-pabrik, bekerja di Tenaga Kerja Indonesia (TKI), demi membantu ekonomi keluarga. Interaksi yang tidak terjaga di Tenaga kerja Indonesia (TKI) berpotensi memunculkan kekerasan seksual terhadap perempuan. Manusia dalam masyarakat sekular liberal hanya dibangun dengan asas manfaat, dan kebebasan. Bukan asas kemanusiaan, apalagi nilai ruhiyah dan moral yang memuliakan perempuan.
Ketika perempuan didorong untuk bekerja, justru akan membebani perempuan dengan sesuatu yang seharusnya bukan menjadi tugasnya. Ketika seorang perempuan didorong untuk mandiri, tidak bergantung membutuhkan siapa pun, bahkan suaminya sendiri, ini juga melawan fitrah. Perempuan juga tentu ingin dilindungi, disayangi, dijaga, dan wajar bergantung pada laki-laki. Ketika perempuan mandiri, mereka justru rentan dari sisi perlindungan. Perempuan harus bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam, untuk memenuhi kebutuhannya.
Sementara itu, ada sang buah hati di rumah yang menunggu senyuman dan belaian lembut tangan sang bunda, akhirnya anak harus menelan kekecewaan. Ibu bahkan tidak sempat lagi memberi senyuman ataupun sekedar sapaan karena anaknya sudah tidur kelelahan menunggu ibu tercinta.
Kalau lah kaum muslim mau menengok atau memahami Islam, sebenarnya islam telah memberikan jawaban tuntas terhadap semua permasalahan apa pun, termasuk permasalahan perlindungan terhadap perempuan. Kita tinggal mengikuti yang telah diwahyukan oleh Allah SWT.
Rusaknya tatanan keluarga akibat abainya kaum ibu terhadap tanggung jawabnya sebagai ummun warabbatul bait. Wanita mengadopsi konsep kesetaraan gender, mendorong para perempuan mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dengan laki-laki, mengarahkan kepada pemberdayaan perempuan dalam politik dan ekonomi. Kaum perempuan akan terperangkap dalam jebakan sekular kapitalisme, yang menjadikan perempuan sebagai salah satu alat produksi, bahkan menjauhkannya dari fitrahnya sebagai seorang ibu dan istri. Kaum perempuan harusnya jangan sampai terseret arus yang seolah-olah memberikan kebaikan bagi perempuan padahal justru makin menjauhkannya dari tugas utamanya sebagai ummu waranatul bait, yang berarti makin menjauhkan kaum muslimah dari aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt.
Islam telah memberikan aturan khusus bagi istri dan suami, istri sebagai pemimpin rumah suaminya sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. Sedangkan suami sebagai kepala dan pemimpin keluarga.
Kaum ibu adalah sebagai rahim peradaban. Ibu menjadi madrasah pencetak. Menghasilkan pemimpin- pemimpin pada setiap masa . Tengoklah ibunda Imam Hanafi rela menggendong anaknya menuju masjid setiap subuh, ibu Shalahuddin al-ayyubi bertekad melahirkan pembebasan Baitulmaqdis, ibu Imam Syafi’i membanting tulang membiayai pendidikan anaknya, ibu Muhammad al-fatih setiap pagi membangun tekad anaknya untuk penaklukan Konstantinopel. Mereka telah mengukir gemilang peradaban Islam.
Berkaca pada ibu Palestina. Mereka tidak berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mereka berjuang dengan hamil, melahirkan, menyusui, dan mendidik anak sebanyak mungkin dalam kondisi yang penuh keterbatasan dan kekurangan. Mereka menghadapi berbagai kesulitan yang kadang sampai merenggut nyawa mereka, demi melahirkan dan mencetak para pejuang yang akan membebaskan tanah suci umat Islam dari penjajahan Israel laknatullah.
Saat kaum muslimah berbenah diri, berjuang mencurahkan segenap kemampuan untuk menyiapkan generasi khairu ummah (generasi terbaik) yang berjuang bagi Islam. Generasi muda adalah generasi kebangkitan Islam yang akan mengantarkan Islam kembali pada kejayaannya melalui penerapan Islam seutuhnya dalam Institusi Khilafah Islam.
Semestinya kaum muslimah tidak mencukupkan diri dengan posisi sebagai istri saja, tetapi juga harus mengambil peran sebagai pencetak generasi dan pengemban dakwah yang istiqomah. Kaun muslimah harus mengoptimalkan semua potensi yang mereka miliki semata-mata untuk menggapai ridho Allah swt.
Adapun yang terjadi dalam kehidupan kita, ketika kita berada di puncak kejayaan, ataupun terpuruk di lembah ujian, ingat satu hal, dakwah tidak boleh berhenti. Karena jalan dakwah bukan jalan kemewahan, dan bukan jalan untuk mencari sanjungan, tetapi jalan perjuangan, jalan pengorbanan, jalan menuju Ridha Allah swt yang menjadi cita-cita bersama.
Tidak boleh lelah, jangan menyerah. Kita boleh jatuh, tetapi jangan berhenti melangkah. Kita boleh diuji, tetapi jangan lari dari misi. Kebenaran harus tetap disampaikan, kebobrokan sistem harus terus dibongkar, kezoliman harus dihentikan, dan kebijakan yang menyengsarakan umat harus dikritisi. Jangan biarkan urusan pribadi memalingkan, luka kecil di hati menghentikan langkah besar dakwah ini. Fokuslah pada ketaatan, fokuslah pada perjuangan menegakkan kalimat Allah, biarlah masalah kecil kita biarlah menjadi urusan pribadi kita, Allah swt yang akan menyelesaikan.
Karena selama kita teguh di jalan dakwah, niat kita tulus karena Allah swt, maka pertolongan nya pasti datang, bukan cepat atau lambat tapi pada waktu yang paling tepat. Maka teruslah bergerak…!
Allah tidak pernah abai. Allah selalu melihat setiap tetes air mata pengorbananmu, setiap keringat perjuanganmu, setiap langkahmu dalam menjaga agamanya. Meski seluruh manusia mengabaikan semua upayamu. Jika hatimu mulai goyah karena manusia, kembalilah pada alasan awal mengapa kamu memulai jalan ini.
Dakwah ini milik Allah, dan hanya Allah yang pantas menjadi tujuan. Yuk.. Mari jaga keiklasan, agar langkah tidak mudah patah hanya karena luka dari manusia. Mari kuatkan ikatan dengan Allah swt, dan hadirkan ruh dalam semua aktifitas, hingga lelahnya kita tidak butuh validasi manusia. Biarlah Allah swt saja yang membayar lunas semuanya dengan sebaik-baiknya balasan di syurga.[] Sumber Foto : Canva

