Persembahan ibu mungkin tidak selalu terlihat, tapi sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak pernah lahir tanpa ibu-ibu yang sadar, sabar, dan terlibat dalam perjuangan Islam
Oleh : @imtinana.nafilah
WacanaMuslim-Tak semua perjuangan terdengar lantang. Sebagian justru bergerak sunyi, Work In Silence. Di ruangan rumah yang tak pernah hening. Di sela kantuk, lelah, dan doa-doa yang tak sempat diunggah ke media sosial. Beginilah wajah perjuangan banyak ibu hari ini.
Di era ketika pencapaian diukur dari seberapa viral dan seberapa terlihat, peran ibu sering terasa kecil. Tak ada panggung, No applause. Sering dianggap “cuma dan nggak prestisius”, bahkan penghambat mimpi. Padahal, di sanalah fondasi peradaban diletakkan.
Sistem kapitalisme tak pernah ramah pada peran keibuan. Kapitalisme ingin semua orang jadi mesin produktivitas. Ibu dituntut serba bisa: ngurus rumah iya, cari uang iya, tetap glowing iya, tapi waras entah kapan. Jika memilih fokus mendidik generasi, dianggap “tidak produktif”. Bila ikut arus produktivitas, perannya dilemahkan bahkan terlalaikan. Serba salah.
Lebih dari itu, sistem sekuler ber-mindset fashlud diin ‘anil hayah. Sehingga, boleh saja seorang ibu salihah secara personal, tapi tidak diarahkan untuk melahirkan generasi yang memiliki kesadaran ideologis Islam. Akibatnya, peran ibu dipersempit menjadi urusan teknis bukan strategis, sekedar pengasuh bukan pencetak generasi.
Padahal, Islam memandang ibu dengan cara yang sangat berbeda. Dalam Islam, ibu bukan hanya pengasuh. Ia adalah pendidik generasi, penjaga nilai, dan penentu arah peradaban. Dari rahimnya lahir generasi. Dari lisannya tertanam cara berpikir. Dari sikap hidupnya, anak belajar makna iman, keberanian, dan tujuan hidup. Bukan dengan pidato, tapi dengan keteladanan. Bukan dengan ambisi duniawi, tapi dengan kesadaran ilahiyah.
Inilah yang sering terlupakan: peradaban tidak dibangun hanya oleh mereka yang berdiri di mimbar atau medan juang. Namun juga dibangun oleh mereka yang memastikan generasi siap berdiri di sana.
Persembahan ibu bagi perjuangan menegakkan peradaban Islam bukanlah hal instan. Ia berupa kesabaran dalam mendidik. Keteguhan dalam menjaga nilai. Kesadaran untuk tidak sekadar membesarkan anak agar “sukses”, tetapi agar siap mengemban Islam sebagai sistem kehidupan. Namun, persembahan sebesar ini tidak mungkin lahir tanpa pembinaan.
Cinta ibu kepada anak memang fitrah. Tapi cinta tanpa arah bisa salah tujuan. Karena itu, ibu juga butuh dibina. Butuh mindful. Butuh lingkungan yang menguatkan. Ibu perlu tahu bahwa apa yang ia lakukan bukanlah rutinitas, tetapi bagian dari proyek peradaban.
Di sinilah peran jamaah dakwah Islam ideologis jadi krusial. Jamaah bukan hanya tempat ngaji, tapi ruang pembinaan. Tempat ibu belajar Islam sebagai pandangan hidup, bukan sekadar ritual. Tempat ibu disambungkan dengan visi perjuangan Rasulullah ﷺ tuk memulai perubahan.
Dari ibu yang tercerahkan secara ideologis, lahirlah rumah yang hidup dengan Islam. Dari rumah yang hidup dengan Islam, lahirlah generasi yang siap berjuang. Generasi yang tidak hanyut arus zaman. Generasi yang tahu siapa dirinya, ke mana arahnya, dan untuk apa hidupnya. Dan dari generasi inilah peradaban Islam akan kembali bangkit.
Untuk penerus generasi, memahami ini tentulah penting. Karena perjuangan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di ruang publik, tapi juga tentang bagaimana pembentukan generasi. Karena peran ibu ialah akar peradaban itu sendiri.
Persembahan ibu mungkin tidak selalu terlihat, tapi sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak pernah lahir tanpa ibu-ibu yang sadar, sabar, dan terlibat dalam perjuangan Islam. Dan dari persembahan yang sunyi itulah, perubahan besar dimulai. Mari menjadi bagian persembahan terbaik peradaban tersebut. Allahu akbar! [] Sumber Foto : Canva

