Seruan hangat untuk seluruh kaum muslim, baik para generasi muda dan tua untuk bersama-sama meleburkan visi dan langkah dengan menyongsong Islam sebagai agama dan sistem hidup yang membumikan hukum-hukum Allah.
Oleh: Darti ( Pegiat Literasi)
WacanaMuslim-Dua generasi satu amanah bermakna generasi tua dan generasi muda yang memiliki satu tujuan atau misi yang sama, yaitu mengemban dakwah dan perjuangan Islam kafah.
Allah SWT kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah (HR Ahmad). Sebuah hadis yang pendek, namun memiliki makna yang begitu dalam bagi siapa saja yang mau merenungkannya. Para ulama menafsirkan makna dari shobwah ini adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran. Berarti Allah SWT dan Rasul-Nya mempunyai standar yang sama dalam menilai pemuda, yakni mereka yang istiqomah berjuang meninggikan kebenaran meskipun onak dan duri menyertai jalannya.
Hadis tersebut juga menjadi validasi atas segala rasa sakit dan luka perjuangan dalam arus kapitalisme yang merusak sendi-sendi kehidupan, melemahkan keimanan, dan menjauhkan manusia dari kebenaran.
Nyatanya, di kehidupan hari ini tidaklah mudah menggenggam keimanan dan ketakwaan kepada Rabb dan Rasul-Nya. Ada harga yang harus dibayar untuk tetap menguatkan iman itu, berupa keterasingan dan fitnah hidup.
Betapa banyak aturan Allah yang sengaja diabaikan, padahal kaum muslim banyak jumlahnya namun seperti buih di lautan. Identitas kemusliman hanyalah sebatas di atas kertas, malu ketika harus menjalani syariat Islam, tidak pede dengan agamanya sendiri, atau yang lebih parah lagi menolak dengan terang-terangan, dan melabeli ekstremis, radikal, bahkan sesat bagi kaum muslim yang masih istiqomah pada tali agama Allah.
Tidak bisa kita pungkiri banyak kaum muslim yang harus menderita sampai terenggut nyawanya demi mempertahankan akidah mereka. Palestina, Sudan, Rohingya, Uygur, muslim India, dan berbagai belahan bumi lain yang tidak memihak pada kaum muslim yang memperjuangkan agamanya. Fakta ini menjadi fitnah hidup yang harus dijalani kaum muslim hari ini dimanapun. Dan pastinya perasaan terasing pasti akan muncul pada mereka yang masih gigih mencoba menjalani hidup sebagai muslim sejati, terutama para pejuang agama Allah Swt.
Hal ini menjadi konsekuensi yang masuk akal atas garis kebenaran yang dipilih. Karena sejatinya kebenaran tidak akan pernah bisa berdampingan dan berdamai dengan kebatilan. Sebagaimana hari ini, rasa keterasingan yang ada pada para pejuang Islam menjadi faktor penguat, bahwa apa yang diperjuangkannya adalah sebuah kebenaran. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang terasing” (HR. Muslim no. 145).
Hadis ini menjadi bisyarah terindah untuk senantiasa berada di jalan kebenaran dan terus melaksanakan ketaatan pada Allah sekalipun orang-orang membenci, mencibir atau bahkan merintangi perjuangan yang ada. Pantang mundur, karena Allah dan Rasul-Nya telah menggambarkan dengan begitu jelas fase akhir zaman ini dan berbagai asam garamnya.
Seruan hangat untuk seluruh kaum muslim, baik para generasi muda dan tua untuk bersama-sama meleburkan visi dan langkah dengan menyongsong Islam sebagai agama dan sistem hidup yang membumikan hukum-hukum Allah. Seperti halnya yang telah Rasulullah tunjukkan. Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin secara nyata karena penerapannya yang paripurna.
Namun semua ini tidak akan bisa terealisasi dengan hanya bertumpu pada potensi besar para generasi muda saja atau menyerahkan perjuangan pada mereka para generasi tua dengan pengalaman hidup yang mumpuni. Perjuangan ini harus dilakukan oleh semua, baik generasi tua maupun generasi muda yang saling bersinergi dalam perjuangan ini.
Sebenarnya kaum muslimin disatukan oleh ikatan akidah Islam, satu Rabb yang sama, satu Al-Qur’an menjadi satu umat. Tinggal menyatukan semua ini pada satu kepemimpinan di bawah naungan khilafah yang sesuai manhaj kenabian.
Visi utama dan amanah yang harus diemban kaum muslim saat ini adalah mengembalikan Islam kaffah. Berbagai hambatan dan rintangan yang sengaja dibuat oleh para musuh-musuh Islam dan kaum munafik tidak akan bisa memadamkan cahaya kemenangan yang Allah takdirkan untuk terang kembali di penghujung zaman.
Hanya saja, semua ini tidak cukup untuk diyakini dengan iman semata. Akan tetapi butuh aksi nyata untuk mengemban amanah ini. Dengan cara kerja yang sesuai dengan metode dakwah Nabi Saw dalam membina para sahabat, serta menyebarkan dakwah secara strategis dan politis hingga menjadikan Madinah sebagai institusi yang menerapkan Islam secara totalitas.
Apa yang telah dicontohkan bagaimana metode dakwah Nabi Saw inilah yang menjadi dasar berdirinya peradaban Islam hingga 1400 tahun lamanya, yang sangat layak untuk diikuti dan diperjuangkan. Wallaahu’alam Bishshawaab.[] Sumber Foto : Canva

