Gen Z saat ini menghadapi arus besar yang membentuk pola pikir, problem mental dan kecemasan sosial, nilai inklusif-progresif yang sering berbenturan dengan syariat, kecenderungan merelatifkan kebenaran serta munculnya moralitas baru yang terputus dari generasi sebelumnya.
Oleh: Kiki Puspita
WacanaMuslim-Teknologi dan media sosial yang terus tumbuh dalam era digital saat ini semakin dekat dengan para generasi Z. Berbagai platfrom seperti Instgram, TikTok, dan Twiter, yang selalu menampilkan idenditas, minat, serta pandangan hidup mereka secara luas, menjadikan mereka para generasi Z semakin mudah untuk berekspresi.
Akhirnya banyak dari generasi Z bersaing untuk tampil sempurna, mempertontonkan gaya hidup hedonis, dan selalu ingin tampil menarik. Hal ini menjadikan para generasi Z akhirnya merasa tertekan, karena diri seseorang sering di tentukan oleh jumlah like, komentar dan follower.
Kebebasan berekspresi dan gaya hidup Gengsi para Generasi Z saat ini telah dipengaruhi oleh algoritma dan ekspresi sosial yang tidak selalu reality. Sehingga banyak individu yang merasa membandingkan diri mereka dengan orang lain. Media sosial dengan sistem kapitalisme saat ini juga telah menciptakan kecemasan dan perasaan rendah diri pada generasi Z. Akhirnya banyak dari Gen Z yang terkena depresi.
Berdasarkan penelitian Patricia dkk 2024 sebanyak 81% anak muda mengaku bahwa ketika mereka melihat status atau seseorang di media sosial menjadikan mereka akhirnya memandikan dirinya dengan orang lain.
Dikutip dari detik.com mengungkap bahwasanya bahwa 46% remaja berusia 13 hingga 17 tahun mengatakan media sosial membuat mereka memiliki pandangan buruk terhadap tubuh mereka. Ini menunjukkan Bagaimana dampak dari paparan konten digital dalam sistem kapitalisme telah membentuk persepsi negatif terhadap diri sendiri.
Internet merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Di Indonesia saja internet kembali mencatat rekor baru berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau (APJII), yang bertajuk profil internet Indonesia 2025 pada semester pertama tahun ini jumlah pengguna internet di tanah air telah mencapai 229.428.417 jiwa. Angka ini menunjukkan kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (Cloudcomputing.id)
Para Generasi Z pada dasarnya merupakan generasi yang cepat belajar, kreatif dan mampu menganalisa aktivitas sosial hanya dalam satu unggahan. Paradoks inilah yang menjadikan mereka generasi paling potensi dan juga paling rapuh.
Dominasi dengan nilai sekuler kapitalistik telah menjadikan ruang digital tidak Netral. Nilai sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan publik menjadikan budaya konsumtif, kompetisi Citra dan rusaknya pola pikir masyarakat. Sistem ini tidak mampu membentuk pola sikap dan pola pikir yang terpuji berdasarkan ideologi Islam. Ini harusnya menjadikan kita sadar bahwa paradigma saat ini harus dirubah ke dalam cara atau paradigma berpikir Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh taqiudin anabani bahwa setiap ruang yang membentuk opini dan perilaku manusia pasti didominasi oleh ideologi yang berkuasa. Dalam hal ini, ruang digital global dibangun oleh nilai sekuler-kapitalistik yang mengagungkan kebebasan tanpa batas dan menjadikan manusia serta datanya sebagai komoditas.
Nilai sekuler memisahkan agama dari kehidupan publik. Sementara kapitalisme mendorong budaya konsumtif, kompetisi citra, dan eksploitasi atensi. Hasilnya, Gen Z menghadapi arus besar yang membentuk pola pikir, problem mental dan kecemasan sosial, nilai inklusif-progresif yang sering berbenturan dengan syariat, kecenderungan merelatifkan kebenaran serta munculnya moralitas baru yang terputus dari generasi sebelumnya.
Syaikh Taqiyuddin menegaskan bahwa opini publik lahir dari persepsi yang dibentuk oleh pemikiran dasar (qaidah fikriyah). Jika pemikiran dasar generasi ini sekuler, maka opini dan perilaku mereka pun akan sekuler, meski lahir dari keluarga Muslim.
Karena itu, masalah utama Gen Z bukan sekadar gadget atau media sosial, tetapi paradigma hidup yang membungkus ruang digital itu sendiri. Meski terpapar hegemoni sekuler, Gen Z menyimpan kekuatan luar biasa. Akses pengetahuan yang luas, kemampuan adaptasi tinggi, serta keberanian menyuarakan isu global menjadikan mereka pionir glocal activism, gerakan yang terinspirasi global namun dieksekusi di ruang lokal.
Namun ada sisi lain yang perlu diwaspadai bahwa aktivisme mereka cenderung pragmatis, diarahkan oleh algoritma, dan sering berorientasi viral, bukan solusi. Tanpa fondasi ideologis, aktivisme ini seperti gelombang besar, tetapi tidak berakar.
Menurut Syaikh An-Nabhani, perubahan hakiki tidak cukup dengan gerakan emosional atau spontan, tetapi harus bertumpu pada pemikiran ideologis yang menghancurkan pemikiran rusak dan menggantinya dengan pemikiran Islam. Jika tidak, gerakan hanya akan menjadi fenomena musiman.
Karena akar persoalannya ada pada paradigma sekuler-kapitalistik, maka penyelamatan Gen Z harus dimulai dari perubahan cara berpikir. Bukan dengan sekadar edukasi digital, tapi dengan menanamkan kembali kerangka berpikir Islam yang menjadikan Allah sebagai pusat orientasi.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menegaskan bahwa ideologi adalah fondasi perubahan masyarakat. Sebuah generasi hanya akan bangkit jika memiliki penilaian benar terhadap realitas,
pemikiran solusi yang berasal dari akidah, serta
metode perubahan yang sesuai syariat.
Tanpa ini, Gen Z akan terus hanyut oleh banjir wacana digital yang menormalisasi nilai asing. Dengan paradigma Islam, Gen Z tidak lagi menjadi korban algoritma, tetapi subjek perubahan yang membawa nilai-nilai Qur’ani ke ruang digital.
Syaikh Taqiyuddin menekankan bahwa masalah masyarakat tidak akan selesai tanpa perubahan sistem yang mengaturnya. Artinya kerusakan moral, kecanduan digital, problem mental, hingga krisis identitas Gen Z, semua memiliki akar yang sama, yaitu sistem sekuler-kapitalistik yang menjadi payung regulasi, pendidikan, media, dan budaya.
Karena itu, arah aktivisme Gen Z perlu dikembalikan pada perjuangan ideologis, yaitu memperjuangkan syariat sebagai solusi kehidupan, memperbaiki opini publik, serta mendorong lahirnya sistem yang berlandaskan Islam.
Perubahan generasi tidak bisa berjalan individual. Islam mengajarkan bahwa pembinaan manusia membutuhkan tiga pilar,
Pertama, keluarga. Pondasi spiritual, adab digital, dan keteladanan. Keluarga harus menjadi ruang yang memperkuat akidah, bukan sekadar pengawasan teknis gadget.
Kedua, masyarakat. Menjaga norma, menguatkan budaya Islam, serta menjadi lingkungan yang mendorong interaksi sehat dan produktif.
Ketiga, negara. Dalam pandangan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, negara memiliki fungsi strategis untuk mencetak generasi berkepribadian Islam melalui sistem pendidikan, kebijakan media, ekonomi, hingga politik luar negeri.
Tanpa negara yang menegakkan syariat secara menyeluruh, generasi akan selalu terpapar nilai asing tanpa pelindung.
Era digital memberikan peluang besar tetapi juga ancaman serius. Gen Z adalah generasi yang kritis dan berdaya, namun jika berada di tengah pusaran hegemoni sekuler-kapitalistik, maka justru bisa mengikis identitas Muslim mereka.
Maka tugas kita bukan sekadar mengatur penggunaan teknologi, tetapi mengembalikan paradigma hidup mereka kepada Islam. Sebagaimana ditekankan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa perubahan sejati lahir dari pemikiran ideologis yang kokoh dan sistem yang menegakkannya.
Dengan sinergi keluarga, masyarakat, dan negara yang berlandaskan Islam, Gen Z dapat menjadi kekuatan besar yang bukan hanya mewarnai ruang digital, tetapi membangun peradaban. Waulohualam bi ash-shawaab.[] Sumber Foto : Canva

