Ambisi Israel Raya: Saat Palestina Diluluhlantakkan Dan Nurani Dibungkamkan

Bagikan Artikel ini

Ketika genosida jadi peta jalan dan dunia memalingkan wajah. Opini Islam membongkar ambisi Israel Raya, kebiadaban Zionis, dan mengapa Khilafah adalah solusi nyata membebaskan Palestina.

Oleh: Hanny N

Pembuka: Alarm Kemanusiaan Yang Terus Berbunyi

Bestie, coba bayangkan kamu bangun pagi, rumahmu sudah tidak ada. Tank merobohkan tembok tetangga semalam. Drone masih berputar di atas kepala. Anak-anak di sekitarmu tidak bisa tidur karena suara tembakan. Kamu tidak punya makanan, air bersih, atau obat-obatan. Dan yang paling mengerikan, dunia tahu semua ini terjadi, tapi hanya menonton dari layar ponsel mereka sambil menggulir ke postingan berikutnya.

Ini bukan adegan film distopia. Ini Gaza, Juni 2026.

Artikel MetroTV News (5 Juni 2026) mengungkapkan fakta yang menggemparkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa militer Israel telah menguasai 60% wilayah Gaza dan berencana memperluasnya menjadi 70%. Garis kuning—penanda batas militer Israel yang mulai ditempatkan sejak Oktober 2025—terus bergeser ke barat, memaksa ratusan ribu warga sipil Palestina terjebak di area yang makin sempit. Abdullah al-Astal, warga Khan Younis, mengatakan dengan putus asa, “Tidak ada lagi tempat untuk pergi. Orang-orang sudah terjebak di area yang sangat kecil.”

Data statistik otoritas Palestina mencatat, sejak Oktober 2023, agresi genosida Israel telah menewaskan hampir 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak. Meski gencatan senjata resmi berlaku sejak 10 Oktober 2025, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat Israel tetap membunuh 947 warga dan melukai 2.935 lainnya dalam serangan harian yang terus berlangsung.

Gencatan senjata? Hanya kata-kata kosong di atas kertas. Realitanya genosida berlanjut, tanah dirampas, dan mimpi hidup damai hancur berkeping-keping.

Fakta di Lapangan: Tiga Pilar Kejahatan Zionis

Bestie, mari kita bedah tiga fakta yang sedang terjadi saat ini, bukan teori konspirasi, bukan propaganda—tapi fakta yang tercatat dalam laporan media internasional dan data resmi.

Pertama, perang terhadap Gaza tak peduli gencatan senjata. Israel terus melancarkan serangan udara, artileri, dan operasi darat meski kesepakatan gencatan senjata sudah ditandatangani. Tank dan buldoser masih merobohkan rumah-rumah warga sipil. Drone masih membunuh tanpa pandang bulu. Ini bukan “pertahanan diri.” Ini adalah kejahatan perang yang sistematis dan terencana.

Kedua, pemukiman di Tepi Barat terus diperluas hingga merampas 70% tanah Palestina. Jauh sebelum konflik Gaza, Israel telah membangun ribuan unit pemukiman ilegal di Tepi Barat, melanggar hukum internasional dan resolusi PBB. Sekarang, ambisi itu makin terbuka, menguasai 70% wilayah Gaza, mengusir penduduk asli, dan mengganti demografi dengan pemukim Yahudi. Ini bukan sekadar perluasan teritorial. Ini adalah ethnic cleansing-pembersihan etnis—yang dilakukan secara perlahan tapi pasti.

Ketiga, pengibaran bendera Israel di Masjid Al-Aqsa. Simbolisme ini tidak bisa dianggap remeh. Ketika bendera Zionis berkibar di atas kubah emas tempat suci umat Islam ketiga setelah Makkah dan Madinah, itu bukan sekadar aksi provokasi. Itu adalah deklarasi penguasaan. Pesan yang disampaikan jelas, “Kami mengalahkan kalian. Kami menguasai tanah kalian. Kami merampas tempat suci kalian.”

Dan dunia? Hanya mengutuk dengan kata-kata lemah, sementara AS terus mengirimkan senjata dan dana miliaran dolar.

Analisis Kritis: Di Balik Genosida Ada Peta Jalan

Bestie, kenapa Israel begitu berani melakukan semua ini? Jawabannya sederhana, karena mereka punya peta jalan yang jelas, dan karena tidak ada yang benar-benar menghentikan mereka.

Pertama, ambisi Israel Raya (Eretz Israel). Visi ini bukan mitos. Ia tertuang dalam ideologi Zionis sejak awal, membangun negara Yahudi yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Euphrat. Gaza dihancurkan karena menghalangi peta ini. Tepi Barat dirampas karena bagian dari rencana aneksasi. Al-Aqsa direbut karena simbol dominasi spiritual. Semua yang dilakukan Israel—genosida, pemukiman, aneksasi—adalah bagian dari satu strategi besar yakni menghapus Palestina dari peta.

Kedua, kebiadaban yang dilakukan entitas Zionis adalah kejahatan kemanusiaan terbesar di muka bumi. Ini bukan hiperbola. Membunuh 73.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—dalam waktu kurang dari tiga tahun. Memaksa jutaan orang hidup di tenda-tenda pengungsian tanpa makanan dan air bersih. Merobohkan rumah sakit, sekolah, dan masjid. Ini adalah genosida versi abad 21, dilakukan dengan teknologi canggih, didokumentasikan secara real-time, namun tetap tidak dihentikan.

Ketiga, AS adalah motor utama di balik semua ini. Tanpa dukungan militer, finansial, dan diplomatik Amerika Serikat, Israel tidak akan berani sejauh ini. AS memveto setiap resolusi PBB yang mengutuk Israel. AS mengirimkan bom dan jet tempur. AS melindungi Netanyahu di forum internasional. Dan yang paling memilukan: AS mengajak penguasa negeri-negeri Muslim untuk bersekongkol mendukung “solusi dua negara“—solusi yang sudah mati sejak lama karena Israel sendiri yang membunuhnya.

Keempat, penderitaan Palestina tak kunjung selesai karena dua hal: pengkhianatan penguasa Muslim dan tidak adanya persatuan umat Islam. Negara-negara Muslim kaya dengan sumber daya alam, tentara, dan teknologi, tapi mereka tidak bergerak. Beberapa penguasa malah normalisasi hubungan dengan Israel. Beberapa negara Arab malah membuka perdagangan dan pariwisata dengan Zionis. Umat Islam terpecah oleh nasionalisme, perbatasan buatan kolonial, dan kepentingan politik sempit para elit. Sementara itu, Gaza terbakar.

Konstruksi Islam: Dari Sejarah hingga Solusi

Nah, bestie, sekarang mari kita tengok ke belakang. Bagaimana Islam memandang semua ini? Apakah Islam membiarkan umatnya dianiaya tanpa perlawanan? Apakah Islam membiarkan tanah suci dirampas tanpa pembelaan?

Pertama, Palestina dan Al-Aqsa adalah tanah suci umat Islam yang wajib dibela. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 1 yang artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.”

Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ Mi’raj, dan tanah yang Allah sendiri berkahi. Merampas Al-Aqsa bukan sekadar perampasan properti—itu adalah penistaan terhadap ketentuan Ilahi.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah seseorang berjalan ke suatu masjid untuk melaksanakan shalat, kecuali Allah mempersiapkan baginya surga untuk setiap langkahnya.” (HR. Muslim).

Bayangkan, bestie, jika berjalan ke masjid saja Allah janjikan surga, bagaimana dengan membela masjid suci yang dirampas? Bagaimana dengan membebaskan tanah yang Allah berkahi?

Kedua, membela tanah dan kaum Muslimin adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 190 yang artinya, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Ayat ini menegaskan bahwa membela diri dan membela kaum Muslimin yang dizalimi adalah perintah Allah. Bukan pilihan. Bukan opsional. Tapi kewajiban.

Sejarah Islam membuktikan ketika umat Islam bersatu, mereka mampu mengalahkan kekuatan yang jauh lebih besar. Khalifah Umar bin Khattab RA membebaskan Palestina dan Al-Aqsa dari tangan Romawi pada tahun 638 M. Ketika Umar tiba di Yerusalem, pemimpin Kristen menyerahkan kunci kota tanpa pertumpahan darah—karena mereka tahu reputasi keadilan Islam. Umar menandatangani Pact of Umar, yang menjamin kebebasan beragama bagi non-Muslim, perlindungan tempat ibadah, dan keamanan jiwa dan harta. Itulah Islam, kuat dalam membela, adil dalam memerintah.

Ketiga, ambisi Israel Raya harus dilawan dengan kekuatan dan persatuan nyata. Islam tidak mengajarkan pasifisme dalam menghadapi penjajahan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang mati tanpa pernah berperang di jalan Allah dan tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan nifaq (munafik).” (HR. Muslim). Ini bukan ajaran kekerasan sembarangan, tapi ajaran untuk tidak pasrah dalam menghadapi penindasan.

Tetapi, bestie, persatuan yang dimaksud bukan sekadar deklarasi di konferensi atau hashtag di media sosial. Persatuan yang dimaksud adalah persatuan politik dan militer dalam wujud nyata, Khilafah.

Khilafah: Solusi yang Nyata, Bukan Retorika

Bestie, banyak yang skeptis mendengar kata “Khilafah.” Mereka menganggapnya utopia, khayalan, atau bahkan ancaman. Tapi mari kita lihat secara rasional, apa yang dimaksud Khilafah dalam konteks pembebasan Palestina?

Pertama, Khilafah adalah wujud persatuan umat Islam yang hakiki. Saat ini, 1,9 miliar Muslim terpecah menjadi 50-an negara dengan perbatasan buatan kolonial, mata uang berbeda, dan kepentingan nasional yang saling bertentangan. Khilafah menghapus sekat-sekat nasionalisme ini. Umat Islam menjadi satu entitas politik dengan satu pemimpin, satu tentara, dan satu strategi. Bukan lagi Indonesia vs Malaysia, Arab Saudi vs Iran, atau Turki vs Mesir. Tapi satu umat, satu tujuan.

Kedua, Khilafah menghentikan pengkhianatan para penguasa Muslim. Saat ini, banyak penguasa Muslim lebih memilih aliansi dengan AS dan Israel daripada membela saudara-saudara mereka di Gaza. Mereka normalisasi hubungan, membuka perdagangan, dan bahkan mengizinkan pesawat Israel melewati wilayah udara mereka. Dalam sistem Khilafah, Khalifah bertanggung jawab langsung kepada umat dan syariah. Pengkhianatan terhadap kaum Muslimin bukan sekadar skandal politik—itu adalah pengingkaran terhadap amanah yang bisa dikenai sanksi hukum.

Ketiga, Khalifah wajib mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina. Dalam fiqih Islam, pemimpin Muslim yang memiliki kemampuan militer wajib membela tanah Muslim yang diduduki musuh. Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sultaniyyah menegaskan bahwa jihad untuk membebaskan tanah Muslim dari penjajahan adalah kewajiban negara. Khalifah tidak bisa mengabaikan Palestina sambil menikmati kemewahan istana. Khalifah harus memobilisasi tentara, logistik, dan diplomasi untuk menghancurkan blokade Gaza, mengusir penjajah dari Tepi Barat, dan membebaskan Al-Aqsa.

Sejarah membuktikan ketika Khilafah Utsmaniyah berdiri, Palestina aman selama 400 tahun. Ketika Khilafah runtuh pada 1924, Zionis mulai merampas tanah demi tanah. Kausalitasnya jelas: tanpa Khilafah, tanah Muslim menjadi mangsa. Dengan Khilafah, tanah Muslim terlindungi.

Penutup: Pilihan di Tangan Kita

Bestie, kita berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, genosida berlanjut, tanah dirampas, dan Al-Aqsa terus dipermainkan. Di sisi lain, umat Islam terpecah, penguasa mengkhianati, dan dunia memalingkan wajah.

Tapi kita tidak boleh putus asa. Sejarah Islam penuh dengan contoh ketika umat berada di titik terendah, muncul kebangkitan. Dari kehancuran Romawi di tangan Muslim, dari kekalahan Mongol yang kemudian masuk Islam, dari penjajahan Spanyol yang kemudian dibebaskan—semua membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan pada senjata, tapi pada persatuan dan kepatuhan kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud).

Warisan terbesar Nabi bukan harta, tapi ilmu dan sistem—sistem yang mempersatukan umat, melindungi tanah suci, dan menegakkan keadilan.

Khilafah bukan sekadar slogan. Ia adalah solusi historis yang telah terbukti efektif selama 13 abad. Ia adalah sistem yang menghapus nasionalisme, menghentikan pengkhianatan, dan memobilisasi kekuatan umat untuk membela yang tertindas.

Palestina tidak akan bebas dengan doa saja. Ia butuh aksi. Aksi butuh kekuatan. Kekuatan butuh persatuan. Dan persatuan butuh sistem yang menyatukan, Khilafah.

Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Allah segera membebaskan Palestina dan mempersatukan umat Islam di bawah naungan Khilafah yang adil. Aamiin.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *