Fenomena Brain Rot dan Akal-akalan Kapitalisme

Bagikan Artikel ini

Kapitalisme melihat generasi muda sebagai pasar dan data sedangkan Islam melihat mereka sebagai calon pemimpin peradaban.


Oleh : Putri Melati
(Aktivis Remaja Muslimah)

WacanaMuslim-Di tengah derasnya arus konten sosial media hari ini, banyak dari kita jadi merasa susah fokus, cepat lelah, dan sulit berpikir panjang, akibat dampak dari scrolling time yang berlebihan. Fenomena ini belakangan dikenal dengan istilah brain rot, sebuah kondisi di mana kemampuan berpikir kritis dan fungsi kognitif perlahan menurun akibat konsumsi konten digital yang dangkal, cepat, dan berulang, seperti reesls, meme, video ingkat tiktok, dsb. Ini bukan sekadar istilah viral, tapi sebuah peringatan serius tentang arah generasi digital.

Sejumlah akademisi dan peneliti telah mengingatkan dampaknya. Dosen dan peneliti dari berbagai universitas di Indonesia, seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta, menjelaskan bahwa brain rot muncul karena otak terus-menerus disuguhi konten instan yang tidak menantang nalar. Penelitian psikologi dan neurosains juga menunjukkan bahwa konsumsi konten singkat secara berlebihan dapat melemahkan fungsi eksekutif otak, mulai dari daya fokus, memori, hingga kemampuan mengambil keputusan. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memperkuat kekhawatiran ini: Generasi Z adalah kelompok pengguna internet terbesar di Indonesia. Hal ini berarti, gen z lah yang paling terpapar, sekaligus paling rentan.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah: apakah ini semata-mata kesalahan Gen Z? Apakah generasi ini benar-benar “malas berpikir”? Atau justru ada sebuah sistem yang secara halus membentuk kebiasaan ini?

Jika ditarik lebih dalam, brain rot bukan terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari desain algoritma digital yang berada di bawah payung sistem kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, teknologi tidak diarahkan untuk mencerdaskan manusia, tetapi digunakan untuk memaksimalkan keuntungan. Algoritma media sosial dirancang agar kita merasa betah berlama-lama di layar, bukan agar kita memahami kebenaran, tapi agar emosi kita terpancing. Yang viral diutamakan, bukan yang benar. Yang menghibur lebih laku daripada yang mencerahkan. Akhirnya, generasi muda tidak diposisikan sebagai subjek berpikir, melainkan objek pasar.

Hal tersebut menjadikan banyak anak muda kesulitan membaca tulisan panjang, cepat bosan dengan diskusi serius, dan lebih mudah termakan informasi tanpa verifikasi. Daya fokus melemah, menumpulkan nalar, dan refleksi mendalam terasa asing. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya masalah individu, tapi dapat menjadi masalah peradaban. Generasi yang kehilangan kemampuan berpikir kritis akan mudah diarahkan, mudah dibelokkan, dan sulit berdiri sebagai pemimpin perubahan. Kapitalisme digital diuntungkan, sementara umat manusia dirugikan.

Di titik ini, Islam hadir dengan posisi yang sangat jelas. Islam sendiri tidak pernah memusuhi teknologi. Sejarah Islam justru menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat ketika ummat memuliakan akal. Namun, Islam dengan tegas menolak pembodohan. Akal dalam Islam adalah amanah, bukan alat yang boleh dirusak perlahan demi keuntungan segelintir pihak. Allah SWT di dalam Al Qur’an menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ diutus untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan manusia, dan mengajarkan kitab serta hikmah. Yang mana hal itu merupakan sebuah proses pendidikan yang menumbuhkan pemahaman, bukan sekadar informasi.

Islam juga menanamkan budaya berpikir mendalam dengan adanya tadabbur, tafakur, dan muhasabah. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama. Ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan dalam Islam bukan soal viralitas atau popularitas, melainkan kedalaman pemahaman. Maka, budaya scroll tanpa berpikir mendalam bertabrakan dengan nilai dasar Islam.

Solusi Islam atas fenomena ini tidak berhenti pada nasihat individu untuk “kurangi main HP”. Islam menawarkan solusi yang lebih sistemik.yaitu :

Pertama, pembinaan tsaqofah dan literasi ideologis harus ditanamkan sejak dini, di keluarga, sekolah, dan masyarakat, agar generasi muda memiliki kerangka berpikir yang kokoh.
Kedua, Islam meletakkan batasan syariat dalam penggunaan teknologi: apa yang merusak akal, iman, dan akhlak tidak boleh dibiarkan bebas.
Ketiga, negara memiliki peran strategis untuk melindungi rakyatnya dari kerusakan sistemik, termasuk dengan kebijakan yang mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan, bukan sekadar profit.

Di sinilah perbedaan antara sistem kapitalisme dan sistem islam terlihat jelas. Kapitalisme melihat generasi muda sebagai pasar dan data. Sedangkan Islam melihat mereka sebagai calon pemimpin peradaban. Kapitalisme membiarkan algoritma membentuk akal manusia. Islam menuntut manusia mengendalikan teknologi dengan nilai dan tujuan yang benar.

Maka, permasalahan brain rot sejatinya bukan soal digital atau non digital. Ini tentang siapa yang memegang kendali, apakah akal yang tercerahkan oleh kebenaran, atau sistem tamak yang menjadikan manusia sekadar objek keuntungan. Islam tidak anti teknologi digital. Namun, Islam Anti Pembodohan, memusuhi segala bentuk pembodohan yang mematikan akal dan menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya. Generasi muda bukanlah objek algoritma yang diproses untuk profit, mereka adalah pemegang amanah pemikiran yang akan menentukan masa depan peradaban.

Dan selama masih ada generasi yang mau berhenti sejenak dari arus digital kapitalisme saat ini, dan berani bertanya “Apa sebenarnya tujuan hidupku?,penciptaku menginginkanku hidup seperti apa?”, serta memilih berpikir daripada sekadar terbawa arus, maka harapan itu belum padam. Sebab generasi yang mampu mengendalikan teknologi dengan akidah yang lurus dan pemikiran yang jernih, mereka bukan hanya akan selamat dari brain rot, mereka lah yang akan memimpin kebangkitan dan mengembalikan arah peradaban. Wallahu ‘allam bishawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *