Sebagai kaum muslim, perlu kita tanamkan dalam diri kita bahwasanya hijab bagi muslimah adalah mahkota kemuliaan yang bersumber dari Tuhan semesta Alam yaitu Allah Swt.
Oleh: Siti Julianti, S.Si
WacanaMuslim-Semarak menyambut kemerdekaan Republik Indonesia tengah ramai di lakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Hal ini juga tampak pada antusiasme para pemuda dan pemudi Indonesia dalam kelompok pengibaran bendera merah-putih atau sering kita sebut dengan paskibra.
Namun sayangnya, perayaan yang harusnya membahagiakan bagi seluruh masyarakat Indonesia saat ini justru malah mendatangkan masalah yang tak ada ujung penyelesaiannya, selain dari segi ekonomi masyarakat yang masih terjajah asing dan Aseng , ternyata akidah para penguasa hari ini kacau balau akibat penerapan sistem sekular kapitalisme demokrasi hari ini.
Bukan main-main, bahkan petinggi negeri ini memberi aturan pelarangan bagi seorang muslimah yang berhijab untuk menjadi anggota paskibra. Sungguh aturan yang tidak adil bagi sebagian anggota masyarakat Indonesia. Mereka menganggap bahwasanya hijab hanyalah menghalangi aktivitas muslimah.
Sebagai kaum muslim, perlu kita tanamkan dalam diri kita bahwasanya hijab bagi muslimah adalah mahkota kemuliaan yang bersumber dari Tuhan semesta Alam yaitu Allah SWT. Dan hukum ini adalah mutlak merupakan kewajiban bagi setiap muslimah yang sudah baligh. Apalagi seorang muslimah yang sudah baligh tidak menutup auratnya dengan sempurna maka dosa baginya. Sebagimana yang Allah SWT katakan dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31
وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَا رِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَآئِهِنَّ اَوْ اٰبَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اِخْوَا نِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِ رْبَةِ مِنَ الرِّجَا لِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَ رْجُلِهِنَّ لِيُـعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ ۗ وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur 24: Ayat 31)
Hijab sesungguhnya adalah kebanggaan bagi kita seluruh muslimah yang dengannya Allah Swt melindungi kita dari berbagai fitnah dunia dan fitnah lelaki ajnabi. Selain itu, hijab juga adalah pakaian ketaqwaan seorang muslimah yang takut pada Allah sang pembuat hukum.
Dengan hijab, identitas muslimah terjaga dengan baik. Walaupun yang berhijab belum tentu sempurna keimanan namun sesungguhnya ia tengah berusaha taat pada aturan Rabb nya.
Inilah buah dari kegagalan sistem kapitalisme sekuler dalam memelihara akidah setiap individu masyarakatnya. Bukan hanya tidak memberikan ruang kaum muslim menjalankan syari’at Tuhannya, namun mereka justru memberikan aturan pelarangan yang tidak masuk akal.
Jika kita menilai dengan akal kita, pantaskah aturan manusia mengalahkan aturan dari Allah SWT yang telah menciptakan kita?
Tidak, seharusnya tidak layak aturan buatan manusia menggantikan aturan dari Allah.
Oleh karena itu, kita sebenarnya sudah sangat jelas mengetahui bahwa segala yang terjadi dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini adalah kerusakan. Tak patut kita terus mempertahankannya.
Sudah saatnya kita memperjuangkan sistem Islam yang sumber hukumnya berasal dari Rabbul Alamin yang maha sempurna lagi paripurna dengan penegakan sistem Islam kaffah dalam institusi daulah khilafah Islamiyyah.
Wallahu’alam bishawab.[]
Sumber Foto Canva

