Islam Atasi Masalah Guru Di Sistem Kapitalisme

Bagikan Artikel ini

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, pengelolaan kekayaan negara sebagian besar didasarkan pada pajak, utang luar negeri dan investasi swasta, sehingga ketika pendapatan tidak cukup yang dikorbankan adalah pos-pos pengeluaran yang dianggap tidak mendesak — termasuk kesejahteraan guru.

Oleh : Hanny N.

WacanaMuslim-Pencoretan tunjangan tugas tambahan (Tuta) guru dari APBD 2025 Provinsi Banten telah menciptakan kegemparan. Sejak Januari–Juni 2025, ribuan guru belum menerima Tuta—honor Rp 450 ribu per tugas seperti wali kelas atau kepala laboratorium, bahkan hingga Rp 2,5 juta per bulan untuk wakil kepala sekolah—berdasarkan regulasi lama. Akibatnya, guru-guru yang menjalankan tugas tambahan ini terombang-ambing tanpa kejelasan honorarium.

Kabar dicoretnya tunjangan tambahan ini bukan hanya sekadar soal kebijakan, tetapi menyangkut urusan perut, hidup, dan masa depan mereka yang menjadi pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Wajar jika para guru merasa resah. Bahkan tak sedikit yang siap turun ke jalan demi memperjuangkan hak yang seharusnya mereka terima.

Kejadian ini mencerminkan betapa nasib guru masih memilukan, belum menjadi perhatian utama dalam sistem pemerintahan hari ini. Padahal, kesejahteraan guru seharusnya menjadi indikator penting dari keseriusan negara dalam membangun pendidikan dan peradaban bangsa. Tanpa guru yang sejahtera, mustahil lahir generasi yang unggul dan berkualitas.

Guru Hanya Dianggap Pekerja?

Dalam sistem hari ini, guru kerap diposisikan layaknya profesi lain, yakni sekadar pekerja yang digaji atas jasa. Atau bahkan sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Posisi strategis guru sebagai pendidik generasi masa depan sering kali diabaikan. Padahal, tugas mereka jauh lebih berat dari sekadar mengajar, mereka mendidik, membentuk karakter, dan membangun peradaban. Namun, semua beban berat itu seolah tidak sebanding dengan perhatian yang diberikan negara.

Kebijakan penghapusan tuta menjadi sinyal bahwa negara belum menjadikan kesejahteraan guru sebagai prioritas. Guru harus mencari pekerjaan tambahan, mengajar di banyak tempat, bahkan ada yang membuka usaha sampingan hanya untuk menutupi kebutuhan hidup yang terus membengkak. Hal ini tentu mengganggu fokus dan energi mereka dalam mendidik.

Sumber masalahnya pun jelas: sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini membuat pemerintah sering beralasan “keterbatasan anggaran”. Dalam sistem ini, negara lebih banyak berperan sebagai regulator, bukan penanggung jawab penuh urusan pendidikan. Bahkan pendidikan pun diswastakan, seolah menjadi barang dagangan. Tak heran jika kesejahteraan guru publik maupun swasta menjadi sangat timpang, tidak menentu, bahkan rawan dicoret sewaktu-waktu.

Sumber Dana dalam Sistem Kapitalisme: Lemah dan Terbatas

Salah satu alasan utama kesejahteraan guru sulit diwujudkan adalah karena sumber dana negara yang sempit dan bergantung pada utang. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, pengelolaan kekayaan negara sebagian besar didasarkan pada pajak, utang luar negeri, dan investasi swasta. Ketika pendapatan tidak cukup, yang dikorbankan adalah pos-pos pengeluaran yang dianggap tidak mendesak — termasuk kesejahteraan guru.

Padahal, pendidikan adalah kebutuhan pokok rakyat yang seharusnya menjadi tanggung jawab mutlak negara. Negara seharusnya menjamin pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyatnya, termasuk memberikan perhatian penuh terhadap tenaga pendidik.

Islam Menempatkan Guru dengan Mulia

Berbeda dengan sistem sekuler kapitalis, dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Islam memuliakan ilmu dan para pencarinya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Demikian pula para pengajar ilmu, termasuk guru, mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah dan masyarakat. Dalam sejarah Islam, para guru, ulama, dan pendidik selalu diberikan fasilitas terbaik dan penghormatan tinggi.

Negara Islam tidak menganggap guru sebagai beban anggaran, tetapi sebagai aset penting dalam membangun peradaban. Karena itu, negara memberikan perhatian penuh terhadap kesejahteraan guru, termasuk memberikan gaji yang layak dan memadai.

Negara Islam Mampu Memberikan Gaji Tinggi untuk Guru

Salah satu kekuatan sistem Islam dalam menjamin kesejahteraan guru adalah sistem ekonominya yang kuat. Negara Islam memiliki sumber pemasukan beragam: jizyah, kharaj, fa’i, ghanimah, harta milik negara, serta hasil pengelolaan kepemilikan umum seperti tambang, minyak, hutan, laut, dan lainnya. Semua sumber daya ini dikelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, termasuk pendidikan.

Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”
(QS. At-Taubah: 103)

Zakat hanyalah salah satu instrumen. Dalam sistem Islam, sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum tidak boleh dimiliki individu atau swasta, tetapi harus dikelola negara dan hasilnya dikembalikan untuk rakyat. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api (energi).”
(HR. Abu Dawud)

Dalam sejarah, pada masa Kekhilafahan Abbasiyah dan Umayyah, para guru tidak hanya diberi gaji tinggi, tetapi juga dihormati secara sosial dan difasilitasi secara optimal. Bahkan ada institusi seperti Baitul Hikmah di Baghdad yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dengan pembiayaan penuh dari negara. Hal ini hanya mungkin terwujud dalam sistem yang menjadikan pendidikan dan kesejahteraan guru sebagai prioritas mutlak.

Solusi Tuntas: Terapkan Sistem Islam

Sudah saatnya umat menyadari bahwa problem kesejahteraan guru tidak akan tuntas jika sistem kapitalisme tetap dipertahankan. Sistem ini terbukti gagal mengatur anggaran negara secara adil, menjamin kebutuhan pokok rakyat, dan menghormati peran guru secara layak.

Satu-satunya solusi tuntas adalah dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah, termasuk dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Dalam sistem Khilafah, negara akan menjadi penanggung jawab utama pendidikan, menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas, serta menjamin kesejahteraan guru dengan sumber dana yang sah dan melimpah.

Perubahan sistem bukanlah mimpi kosong, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat. Ketika umat bersatu untuk menegakkan kembali sistem Islam, maka kesejahteraan guru bukan lagi cita-cita, tetapi kenyataan. Wallahu’alam bish shawab.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *