Problematika pengangguran menjadi pr bagi pemerintah, berbagai upaya pemerintah mengatasi pengangguran telah dilakukan namun tidak merubah kondisi tersebut.
Oleh : Melani N
Aktivis Muslimah
WacanaMuslim-Magang adalah latihan belajar sambil bekerja yang dilakukan mahasiswa atau pelajar dalam sebuah perusahaan. Disebagian negara maju magang menjadi pelajaran wajib dari kurikulum pendidkan bagi mahasiswa dan pelajar, mahasiswa dan pelajar tidak hanya belajar teori tapi juga praktek.
Saat ini negara mengalami masalah pengangguran yang cukup tinggi, menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025. Angka ini sama dengan 4,76 persen, yang berarti ada lima orang penganggur dari 100 orang angkatan kerja.
Kementrian Ketenagakerjaan (Kemenaker) akan membuka kesempatan magang bagi fresh graduate, dengan gaji setara dengan upah minimum propinsi (UMP), lowongan magang ini rencana dimulai Oktober 2025. Magang untuk fresh graduate ini menargetkan sekitar 20ribu peserta dari kalangan mahasiswa lulusan baru atau maksimal lulus satu tahun sebelumnya. Magang fresh graduate dirancang untuk memberikan kesempatan kerja bagi lulusan baru sekaligus, dan memperkuat link dan match antara dunia pendidikan dan Industri.
Setelah sukses menjaring 20.000 peserta magang, Selanjutnya kementerian Ketenagakerjaan menargetkan tambahan 80.000 peserta untuk batch kedua yang akan dibuka pada November mendatang.(SindoNews.(20/10).
Ada sisi positif yang di dapat dari magang seperti mendapat pengalaman di dunia kerja, pada akhirnya menjadi karyawan tetap, mengasah kemampuan tehnis, komunikasi dan kerja tim, karena magang berbayar peserta dapat memenuhi kebutuhan hidup sambil belajar.
Namun, tentu ada juga sisi negatifnya, resiko eksploitasi tenaga kerja, banyak ditemui perusahaan bisa memanfaatkan peserta magang bekerja untuk pekerjaan berat, magang tidak sesuai bidang, karena keterbatasan kesempatan magang jika kuotanya berbatas.
Problematika pengangguran menjadi pr bagi pemerintah, berbagai upaya pemerintah mengatasi pengangguran telah dilakukan namun tidak merubah kondisi tersebut. Alhasil problem ini menjadi warisan dari rezim ke rezim karena angka pengangguran terus bertambah.
Meski dirasa menjadi angin segar kaum pencari kerja, namun sebagian peserta banyak yang megeluhkan tidak sesuai dengan latar pendidikan, mereka tetap menerima dan menjalani, berharap setelah magang mereka langsung memperoleh pekerjaan. Pada realitasnya fresh graduate susah mendapat pekerjaan dan disayangkan beralih menjadi ojek online.
Seharusnya pemerintah tidak perlu memberikan batasan jumlah peserta magang. Pemerintah berkewajiban memaksimalkan kekuasaannya mencarikan pekerjaan sesuai dengan latar pendidikan. Serta tidak perlu perhitungan mengenai anggaran.
Lebih mencolok lagi fenomena rangkap jabatan dikalangan pejabat, dengan mudah keluarga pejabat dengan mudah memperoleh pekerjaan dan jabatan tanpa bersusah payah melamar kesana kemari. Semua didapat dengan mudah tanpa berdesakan dan bercucur keringat.
Akar masalah pengangguran tidak lepas dari sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang melahirkan turunan masalah yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Seperti sistem pendidikan sekuler melahirkan generasi rapuh, daya juang rendah, mudah steres, menginginkan hasil instan, gagal memahami makna dan hakekat hidup, alhasil menciptakan generasi buruh, bukan generasi pemimpin, lebih parah lagi minim ketaqwaan.
Sistem ekonomi kapitalis, kebijakan pemerintah yang pro-oligarki, bukan kebijakan pro-rakyat kecil. Memperlakukan rakyat kecil sebagai konsumen dengan penuh perhitungan, pemerintah tidak berperan sebagai pelayan yang wajib melayani rakyat yang membutuhkan.
Sistem sosial sekuler, kontribusi perempuan dalam sektor publik mendorong perempuan rela meninggalkan tugas sebagai pelayan rumah tangga dan pendidik anak. Sehingga banyak pekerjaan yang diserap oleh kehadiran perempuan.
Mengingat pengangguran merupakan masalah yang berkaitan satu dengan lainnya maka dibutuhkan solusi yang komprehensif, dan Islam satu-satunya sistem komprehensif memiliki peran dominan , bukan hanya sebagai regulator. Dan dalam negara Islam dipimpin oleh seorang Khalifah sebagai kepala negara yang berperan sebagai pelayan rakyat.
Pengentasan pengangguran dalam Islam dilakukan melalui mekanisme individu dan peran negara dalam memfasilitasi,
- Memberikan pemahaman kepada individu tentang kewajiban bekerja terutama laki laki.
- Memberikan pelatihan dan ketrampilan bagi yang belum memiliki.
- Memberikan modal bagi yang tidak memiliki.
Hanya negara Khilafah yang mampu menyelesaikan masalah pengangguran. Khalifah sebagai pemimpin negara adalah pelayan umat. Oleh karena itu umat seharusnya sadar sistem kapitalisme saat ini telah gagal memberikan solusi pengangguran karena terbukti setiap tahun terus meningkat. Sistem kapitalisme tidak boleh dibiarkan bertahan lama dan harus segera dihentikan.
Solusi kembali kepada sistem Islam tidak bisa ditawar lagi, sistem ekonomi Islam telah terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan selama beradad-abad. Seseorang yang cacatpun akan terpenuhi kebutuhan pokoknya dan tidak akan membiarkan rakyatnya pengangguran terlalu lama.
Allah SWT telah berjanji kepada penduduk negeri yang beriman dan bertakwa ketika menerapkan Syariat Islam secara kaffah. Sebagaimana Allah berfirman ” Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kamu menyikasa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan. (QS Al -A’raf(7): 96). Wallahu ‘alam[] Sumber Foto : Canva

