Pelaparan Bagian Kebrutalan Zionis, Kebutuhan akan Khilafah Makin Mendesak

Bagikan Artikel ini

Oleh: Esnaini Sholikhah,S.Pd(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)

WacanaMuslim-Israel melakukan pembunuhan para jurnalis yang meliput berita di Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa dan organisasi hak asasi manusia untuk media mengkritik serangan yang dilakukan oleh Israel di Gaza yang merenggut nyawa lima jurnalis Al Jazeera. Insiden ini berlangsung pada hari Minggu (10/8/2025) dan menghilangkan nyawa koresponden senior Anas Al Sharif beserta empat rekan kerjanya. Israel mendakwa Sharif sebagai bagian dari kelompok bersenjata yang berhubungan dengan Hamas. Pembunuhan jurnalis hakikatnya untuk membungkam media agar tidak menyiarkan kejahatan genosida di Gaza. Pembunuhan jurnalis tak hanya menghilangkan nyawa seorang manusia tapi juga membunuh nyawa perjuangan rakyat Gaza hingga kejahatan yang mereka lakukan sunyi senyap. (Kompas.com,12/8/2025)

Israel sangat brutal dan tak peduli dengan hukum apapun. Perilaku ini menunjukkan ketidakmampuan mereka mengalahkan perjuangan rakyat Gaza secara kesatria. Banyak pihak, mulai dari PBB, lembaga internasional dan nasional, aliansi, hingga tokoh internasional dan nasional, media mengutuk hal tersebut. Puluhan ribu demonstran berkumpul pada Minggu malam 17 Agustus 2025 di Tel Aviv, Israel untuk menyerukan diakhirinya perang di Gaza dan pembebasan sandera. Ini adalah salah satu demonstrasi terbesar di Israel sejak dimulainya pertempuran pada Oktober 2023. Unjuk rasa tersebut merupakan puncak dari protes nasional selama sehari dan pemogokan umum untuk menekan pemerintah agar menghentikan kampanye militer.(MetroTv,18/8/2025)

Sejak 2023, Israel melakukan segala cara untuk menaklukkan Jalur Gaza. Israel melakukan aksi bumi hangus, seperti penghancuran infrastruktur Jalur Gaza dan genosida warga Gaza. Sekitar 70-80 persen infrastruktur Jalur Gaza hancur-lebur. Serangan Israel juga menyebabkan lebih dari 59.000 warga Gaza tewas, serta lebih dari 100.000 lainnya luka-luka. Jalur Gaza pun sudah tidak layak huni. Namun, faksi-faksi Palestina bersenjata di Jalur Gaza, khususnya Hamas, tidak  menyerah. Kini, Israel menggunakan senjata pemungkas untuk menaklukkan Jalur Gaza, yaitu gerakan pelaparan warga Jalur Gaza yang berjumlah sekitar 2,3 juta jiwa.(Kompas.Id,18/8/2025)

Satu juta perempuan dan anak perempuan menghadapi kelaparan massal, kekerasan, dan pelecehan di Gaza, demikian disampaikan Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) pada Sabtu (16/8) di platform media sosial X. Menurut UNRWA, kelaparan menyebar dengan cepat di Gaza. Perempuan dan anak perempuan terpaksa mengambil strategi bertahan hidup yang semakin berbahaya, seperti keluar mencari makanan dan air dengan risiko yang sangat tinggi untuk kehilangan nyawa.(Antara,17/8/2025)

Penerapan blokade total sejak 2 Maret 2025 mengakibatkan warga Gaza benar-benar hidup penuh keterbatasan. Berbagai krisis, seperti krisis air, tepung, bahan bakar, hingga obat-obatan pun menjadi problem keseharian. Bahwa situasi ini merupakan kesengajaan, tampak dari apa yang secara sistematis telah pihak Zion*s lakukan. Pertama, mereka memberlakukan boikot total wilayah Gaza dengan dalih demi mempersempit ruang gerak Ham*s yang dituding kerap merampok bantuan dan menggunakannya untuk kepentingan perang. Lalu sebagai kompensasinya, mereka menjanjikan akan tetap memberi bantuan. Caranya adalah dengan membentuk sebuah badan amal bernama Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang ditugasi menyalurkan bantuan di empat titik di Gaza tengah dan selatan.

Kementerian Luar Negeri Zion*s memang sempat mengatakan bahwa 4.400 truk berisi bantuan kemanusiaan dari mereka telah memasuki Gaza sejak pertengahan Mei. Sebanyak 700 truk lainnya sedang menunggu untuk diangkut oleh PBB ke Gaza dari perbatasan. Begitu pun dengan Amerika. Pada kesempatan bertemu dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Minggu (27-7-2025), Trump sempat menyatakan dua minggu sebelumnya pemerintah AS telah mengirimkan bantuan makanan senilai USD60 juta (sekitar Rp985 miliar) untuk warga Palestina di Gaza. Ia bahkan marah karena tidak ada satu pun pihak berterima kasih kepadanya. Hanya saja, fakta di lapangan berkata lain. Banyak video dan gambar beredar di media sosial yang menggambarkan kondisi anak-anak dan orang tua yang sangat kelaparan. Mereka makan apa saja yang bisa dimakan, termasuk pakan ternak dan rerumputan. Mereka minum apa pun yang bisa diminum, termasuk air limbah pembuangan. Tubuh mereka pun kering kerontang, bahkan ada yang sampai hilang kesadaran. Sempat viral sebuah video tentang seorang kakek yang meninggal saat antre mengambil jatah makanan. Penguasa negeri muslim masih tetap diam tak kunjung mengirimkan pasukan. Pengkhianatan mereka makin nyata. Nasionalisme dan cinta dunia menyandera mereka. Pembunuhan jurnalis tak akan memadamkan perjuangan rakyat Gaza. Mereka memahami kemuliaan yang Allah berikan atas tanah yang diberkahi dan juga kemuliaan menjaga tanah tsb. Umat Islam wajib menolong dan mengobarkan perjuangan rakyat Gaza hingga tanah mereka bisa dibebaskan seutuhnya. Masalah Gaza-Palestina adalah masalah politik yang berkelindan dengan konstelasi politik global. Biang keroknya adalah perampasan tanah milik umat Islam oleh entitas Zion*s di bawah dukungan dan skenario negara-negara adidaya, khususnya imperialis kapitalis Inggris dan AS. Diikuti dengan pelanggaran hak-hak penduduk Gaza-Palestina, bukan sebatas harta dan kehormatan saja, melainkan sudah merampas hak hidup alias nyawa dalam proyek genosida. Dengan demikian, solusi yang semestinya dituntut oleh masyarakat dunia adalah pengusiran penjajah Zion*s dari setiap jengkal Tanah Palestina, tidak terkecuali di Gaza. Mengakui keberadaan mereka sebagai negara, termasuk dengan mendukung solusi dua negara sebagaimana ditawarkan Amerika dan sekutunya, hanyalah memberi amunisi pada mereka untuk terus bertindak semena-mena.

Masalahnya, pengusiran itu tentu menuntut pengerahan tentara dan senjata yang hanya bisa dilakukan oleh level sebuah negara. Negara itu jelas bukan negara biasa, melainkan harus negara yang siap menantang Amerika dan semua sekutunya. Negara seperti itu hanya ada pada ajaran Islam. Ialah Khilafah, negara yang akan menyatukan seluruh potensi umat Islam di seluruh dunia, dan siap memobilisasi tentara memimpin jihad fi sabilillah. Ini sebagaimana perintah Allah Taala, “Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 191).

Oleh sebab itu, urusan Gaza-Palestina bagi umat Islam bukanlah sekadar urusan kemanusiaan. Sejatinya, ini adalah urusan hukum syarak dan urusan iman karena di dalamnya berkelindan perkara perintah dan larangan, termasuk menyangkut pembelaan terhadap sesama umat Islam sebagai barometer iman. Penguasa negeri muslim masih tetap diam tak kunjung mengirimkan pasukan. Pengkhianatan mereka makin nyata. Nasionalisme dan cinta dunia menyandera merekaRasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim). Allah Taala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lainnya.” (QS At-Taubah: 71).

Jihad dan Khilafah adalah solusi pembebasan genosida di Gaza. Wajib membangun kesadaran umat agar jihad dan Khilafah dapat segera terwujud. aktivitas dakwah bersama jamaah dakwah ideologis menjadi kebutuhan penting. Semua itu tentu tidak boleh menyurutkan langkah kita umat Islam untuk terus lantang menyuarakan urgensi dan kewajiban Khilafah. Khilafah adalah sang penjaga, bukan hanya akan membebaskan muslim Gaza-Palestina, melainkan akan menghapus penderitaan masyarakat dunia akibat penerapan sistem destruktif yang lahir dari hawa nafsu manusia. Kesungguhan kita dalam memperjuangkannya adalah salah satu wujud dari takwa. Kelak, semua ikhtiar kita akan menjadi hujah bahwa kita tidak diam saat agama dan saudara kita terhina. Juga menjadi bukti bahwa kita termasuk penjaga risalah Islam yang tepercaya sebagaimana yang seharusnya.Wallahu a’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *