Omongan Trump yang berubah-ubah sejak awal telah menunjukkan bahwa dia konsisten pada satu hal yaitu mengambil alih Gaza dan memberikannya kepada Zionis Yahudi.
Oleh:Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)
WacanaMuslim-Setelah ramai pembicaraan mengenai rencana relokasi warga Gaza, sejumlah pemimpin negara-negara Arab bertemu untuk membahas rencana rekonstruksi Gaza. Dalam pertemuan darurat para pemimpin negara Arab di Kairo, disepakati bahwa pemerintah Mesir akan memimpin rekonstruksi Gaza, sekaligus mencegah adanya relokasi warga Gaza dari tanah air mereka. Di samping itu, penolakan terhadap rencana relokasi datang dari Indonesia. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri RI, dengan tegas menolak rencana tersebut dan menyerukan kepada komunitas internasional agar memastikan penghormatan terhadap hukum internasional. (KompasTV, 10/3/2025)
Trump menipu Mesir dan Yordania dalam pidato atau pernyataan sebelumnya bahwa mereka akan membangun kembali Gaza. Mesir membuat proposal membangun kembali Gaza dan ditolak oleh Trump. Washington telah menolak usulan Mesir mengenai Gaza pascaperang yang diajukan oleh negara-negara Arab pada pertemuan puncak di Kairo minggu ini, yang memperkuat visi Presiden AS Donald Trump mengenai pengusiran warga Palestina dan pengambilalihan jalur tersebut. Negara-negara Arab mendukung rencana Mesir untuk membangun kembali Gaza yang menolak pemindahan penduduk Palestina.
“Usulan saat ini tidak membahas kenyataan bahwa Gaza saat ini tidak dapat dihuni dan penduduknya tidak dapat hidup secara manusiawi di wilayah yang tertutup puing-puing dan persenjataan yang belum meledak,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Brian Hughes dalam sebuah pernyataan pada tanggal 4 Maret. (Tribunnews.com, 4-3-2025)
Omongan Trump yang berubah-ubah sejak awal telah menunjukkan bahwa dia konsisten pada satu hal yaitu mengambil alih Gaza dan memberikannya kepada Zionis Yahudi. Rencana tersebut akan membuat Hamas menyerahkan pemerintahannya atas Gaza. Trump mengatakan dalam pidatonya di Kongres pada hari Selasa, “Kami akan membawa kembali sandera kami dari Gaza” – tanpa menyebutkan gencatan senjata di Gaza atau rencananya untuk jalur tersebut. Israel telah menghalangi gencatan senjata agar tidak berlanjut ke tahap kedua, dan dilaporkan sedang membuat rencana untuk memulai kembali perang melawan Gaza.
Di sisi lain, pengkhianatan pemimpin negara-negara Arab dan pemimpin negeri muslim terdekat seperti Mesir dan Yordania telah dibuka dengan mata telanjang. Mereka telah berada di pihak Trump, karenanya dia sangat percaya diri dengan tiap ucapannya. Bahkan dalam tweetnya, Trump mengancam Mujahiddin dengan kedudukannya sebagai presiden US.
Solusi tuntas atas persoalan Palestina hanyalah Jihad dan Khilafah. kaum muslim harus memahami benar akar persoalan ini agar tidak termakan dengan solusi bulus yang ditawarkan Barat atau PBB seperti “solusi dua negara”. Kaum muslim harus satu suara memandang solusi Palestina hanyalah dengan jihad dan Khilafah.
Kaum muslim harus memahami bahwa akar persoalan Palestina adalah okupansi Zionis Yahudi atas Palestina sehingga solusinya adalah mengusir mereka dari tanah Palestina. Ketakberdayaan kaum muslim saat ini karena kaum muslim tercerai-berai dengan sekat kebangsaan. Atas nama nasionalisme, Presiden Mesir Abdul Fattah As-Sisi membatasi Pintu Rafah yang menjadi pintu keluar masuk satu-satunya dari dan ke luar Gaza. Hanya karena problem ekonomi, Mesir menolak pengungsi Palestina. Bahkan, dengan tegas ia mengatakan jika membuka Pintu Rafah dengan bebas, berarti Mesir sedang mencederai perjanjian damainya dengan entitas Yahudi yang sudah terbangun sejak 1979. Bukankah itu artinya Mesir dengan tegas berdiri di pihak entitas Yahudi? Astaghfirullah!
Nasionalisme juga telah menyandera para pemimpin negeri muslim dan menjadikannya antek yang siap mengikuti perintah tuannya, AS. Mereka hanya terus membeo tanpa melakukan aksi nyata. Indonesia pun hanya berkoar-koar akan menurunkan tentaranya, tetapi hingga hari ini masih belum jua terlaksana lantaran menunggu komando PBB.
Wahai penguasa muslim, sungguh PBB tidak akan mungkin memberikan komando pada dunia untuk menyelamatkan Palestina sebab dari sejarahnya saja justru mendeklarasikan berdirinya negara Yahudi pada 1948. Artinya, PBB adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas pembantaian warga Palestina. Sementara itu, di balik PBB ada negara-negara adidaya Barat yang siap melakukan apa pun, termasuk genosida demi langgengnya hegemoni mereka.
Apabila kita menakar dari segi kekuatan, sesungguhnya potensi umat muslim sangat besar. Andai negeri-negeri muslim bersatu, niscaya entitas Yahudi mampu dikalahkan beserta dengan negara penyokongnya, yaitu AS. Setidaknya ada tiga potensi yang sangat Barat takuti jika kaum muslim bersatu: Pertama, potensi demografi dan militernya. Peradaban Barat yang tidak sesuai fitrah manusia menjadikan banyak negara Barat mengalami depopulasi akibat masifnya LGBT dan fenomena “resesi seks”. Sebaliknya, pertumbuhan populasi di negeri-negeri muslim naik pesat walau genosida terjadi di berbagai etnis muslim.
Menurut data World Population Review 2023, jumlah penganut Islam adalah yang terbesar kedua setelah umat Kristen, yaitu dua miliar lebih. Melihat data makin banyaknya muslim dan makin menurunnya populasi nonmuslim, banyak peneliti memprediksi pada 2050 jumlah muslim lebih banyak dari umat Kristen. Andai saja satu persennya menjadi tentara, niscaya potensi militer kaum muslim akan sangat besar. Bayangkan, akan terdapat 20 juta tentara muslim yang siap melindungi seluruh bagian wilayah muslim. Persoalan Palestina pun bisa selesai sebab penduduk entitas Yahudi tidak sampai 10 juta orang per 2023.
Kedua, potensi geopolitiknya. Negeri-negeri muslim menempati Selat Giblatar, Terusan Suez, Selat Dardanella, dan Bosphorus. Semua itu menghubungkan jalur Laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di Teluk, dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Jika negeri-negeri muslim bersatu, niscaya akan tercipta kekuatan besar yang mampu menyetir perdagangan dunia. Inilah yang Barat takuti.
Ketiga, potensi SDA, misalnya minyak bumi yang telah Allah Swt. anugerahkan kepada negeri-negeri muslim. Terbukti, embargo minyak Arab pada 1973 mampu meluluhlantakkan perekonomian AS. Sayangnya, hari ini, Arab Saudi dan negeri-negeri muslim lainnya malah menolak mengembargo minyak pada entitas Yahudi itu dengan alasan penyelesaian konflik dengan Palestina adalah melalui diskusi damai, bukan embargo. Sungguh ini bukti pengkhianatan yang nyata.
“Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu.” (QS Al-Baqarah: 191).
Sesungguhnya, ayat di atas telah jelas memerintahkan kepada seluruh umat Islam , termasuk penguasa negeri-negri muslim, untuk mengusir entitas Yahudi dari tanah kaum muslim Palestina. Islam mewajibkan pembelaan pada Palestina adalah satu kewajiban yang harus dipenuhi sesama muslim dan negeri muslim.
Untuk mewujudkannya butuh adanya partai politik Islam ideologis yang akan mewujudkan solusi tuntas jihad dan khilafah bagi penyelesaian penjajahan atas Palestina. Partai ini akan mencerdaskan umat agar memiliki kacamata ideologis dalam melihat problem Palestina dan tidak mudah tertipu dengan narasi yang diciptakan Barat dan anteknya. Wallahu a’lam bisshowab.[] Sumber Foto : Canva

