Perempuan Butuh Islam, Bukan Demokrasi

Bagikan Artikel ini

Banyak kita lihat perempuan justru sering menjadi korban dari kekejaman sistem ini, mereka kehilangan waktu emas mereka bersama anak dan keluarga mereka


Oleh : Rahma Al-Tafunnisa

Wacanamuslim-Di tengah hiruk pikuk kondisi negeri kita yang sedang tidak baik-baik saja. Disaat itu pula pesta demokrasi akan diselenggarakan. Jika kita melihat kondisi ini seperti tidak seimbang karena sudah berapa banyak ketidakadilan yang terjadi sampai hari ini, kezaliman dan pelanggaran hukum syara’ lainnya. Namun, apalah daya masyarakat awam yang tidak mampu merubah keadaan mereka, mereka hanya mampu tunduk dan patuh atas kebijakan yang telah ditetapkan oleh penguasa.

Dikutip dari Banjarmasin – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Selatan (Kesbangpol Kalsel) berupaya meningkatkan partisipasi kepada perempuan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024. Peningkatan partisifasi perempuan tersebut melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi Pilkada Serentak 2024. Peran perempuan sangat penting pada dunia politik, keterwakilan perempuan pada parlemen tentu memiliki kedudukan yang strategis dalam pengmbilan keputusan yang berpihak kepada perempuan, ucap Kepala Badan Kesbangpol Kalsel. Kegiatan edukasi tersebut mengusung tema “Peran Kaukus Perempuan Politik Indonesia dalam Pilkada 2024. Perempuan memiliki peran yang sangat strategis untuk memberi warna penyeimbang bagi dunia politik terkait kesetaraan gender, hubungan sosial, politik, ekonomi dan kemasyarakatan. Kegiatan edukasi tersebut diikuti 200 perempuan yang menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia Normaliyani, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalsel, dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Kalsel.

Kesejahteraan perempuan saat ini memang menjadi perhatian khusus. Berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh pemimpin saat ini. Sayangnya, pemerintah hanya memahami bahwa kesejahteraan ibu terletak pada besar kecilnya keuangan mereka. Sebaliknya, jika penghasilan mereka kecil atau nyaris tidak karena hanya mendapatkan nafkah dari suami, disaat itulah mereka akan dipandang sebelah mata, dan mereka tidak dianggap sejahtera. Permasalahan yang ada saat ini sebenarnya karena penerapan demokrasi sekularisme. Demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang diadopsi oleh kapitalisme tidak mampu menyediakan rasa aman, nyaman, dan tenang bagi perempuan dan anak. Pasalnya, demokrasi nyatanya menjadi tempat eksis para oligarki. Bagaimana tidak? Mereka diperdayakan dengan memanfaatkan potensi mereka dengan melibatkan mereka dalam politik praktis atau menjadi tim sukses yang siap untuk diperintah demi meloloskan salah satu paslon.

Banyak kita lihat perempuan justru sering menjadi korban dari kekejaman sistem ini, mereka kehilangan waktu emas mereka bersama anak dan keluarga mereka. Karena mereka dituntut untuk on time bekerja diluar rumah dengan waktu yang tidak sebentar. Sehingga fitrah mereka sebagai perempuan dan ibu tidak tersalurkan dengan baik. Sebut saja pesta demokrasi, sudah menjadi rahasia umum jika para calon pesertanya memerlukan uang yang tidak sedikit. Perempuan, yang jumlahnya sedikit banyak dari laki-laki, tentu menjadi lahan suara yang menggiurkan. Saat ini peran perempuan dalam politik sangat diharapkan. Suara mereka akan membuat para paslon merenggut suara banyak. Inilah yang diharapkan demokrasi kepada para perempuan. Mereka hanya menjadi komoditas politik. Sebaik apa pun pemimpin atau program kerjanya, selama kita masih percaya pada demokrasi, tidak akan mampu menyejahterakan rakyat.

Demokrasi hanyalah memberikan iming-iming dan janji untuk menyejahterakan rakyatnya, terkhusus perempuan. Yang sebetulnya bukan hanya janji yang mereka inginkan, namun bukti yang nyata yang mereka nantikan. Tapi, nyatanya tidak ada. Apalagi untuk persoalan ekonomi, banyak dari ibu rumah tangga yang menjerit dengan harga makanan pokok yang terus melambung naik, tanpa aspirasi dan keluhan mereka di dengarkan. Biaya Pendidikan tak kalah penting untuk dibahas dalam ini, karena hall itu merupakan kebutuhan pokok pula untuk anak-anak mereka. Nyatanya, sampai hari ini biaya Pendidikan terus naik. Lantas, bagaimana para perempuan bisa Sejahtera jika kondisinya seperti itu? Inilah kondisi demokrasi yang katanya menyejahterakan rakyat.

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna memiliki sistem pemerintahan yang khas, yaitu khilafah. Khilafah akan mengambil hukum Islam sebagai aturan. Perempuan dan anak dalam pandangan Islam merupakan bagian dari masyarakat. Jadi, ketika khalifah mengambil kebijakan untuk menyejahterakan masyarakat, maka perempuan dan anak secara otomatis ikut di dalamnya. Perempuan hanya bisa mulia jika yang diterapkan adalah Islam dalam semua aspek kehidupan termasuk politik.

Wallahu’alam bii ash-shawab[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *