Pendidikan sekular yang hanya berorientasi pada prestasi akademik tidak mampu menanamkan nilai-nilai moral dan ketakwaan.
Poppy Kamelia P. BA(Psych), CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
WacanaMuslim-Tragedi demi tragedi kekerasan terhadap anak terus menghantui nurani kita. Kasus pemerkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur, seperti yang dialami DCN (7) di Banyuwangi (Kompas.com, 17-11-2024) , atau CNA yang sepeda pink-nya menjadi saksi bisu kebengisan pelaku (Liputan6.com,17-11-2024), adalah cerminan suram dari realitas masyarakat kita hari ini. Lebih dari sekadar berita tragis, ini adalah potret krisis multidimensi yang mempertanyakan keberadaan benteng perlindungan bagi anak-anak kita.
Kemerosotan Sistem Perlindungan Anak
Data yang dirilis oleh Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak mengungkapkan bahwa di Jawa Barat, selama Januari hingga November 2024, tercatat 485 kasus kekerasan terhadap anak laki-laki. Dari jumlah tersebut, 35 persen atau sekitar 171 kasus adalah kekerasan seksual. Ironisnya, hampir 50 persen dari kekerasan terhadap anak-anak ini terjadi di sekitar lingkungan rumah tangga. (Antaranews.com, 7-10-2024).
Para pelaku sering kali berasal dari lingkungan terdekat yaitu orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung seperti kerabat dekat maupun tetangga. Situasi ini mengungkapkan rapuhnya lapisan perlindungan yang seharusnya hadir di tingkat keluarga masyarakat hingga negara.
Keluarga, yang semestinya menjadi pelindung pertama, sering kali gagal menjalankan peran ini. Hal ini tidak terlepas dari lemahnya keimanan individu, rendahnya literasi moral, hingga minimnya pemahaman tentang tanggung jawab mendidik anak. Sementara itu, masyarakat justru kerap abai atau bahkan membiarkan kejahatan terjadi karena takut terlibat atau merasa itu bukan urusan mereka.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah minimnya peran negara dalam melindungi anak-anak. Pendidikan sekular yang hanya berorientasi pada prestasi akademik tidak mampu menanamkan nilai-nilai moral dan ketakwaan. Sistem sanksi yang ada pun sering kali tidak memberikan efek jera.
Akar Masalah Yang Sistemik
Maraknya predator anak adalah akibat langsung dari penerapan sistem sekular. Sistem ini tidak hanya mengabaikan moralitas tetapi juga menciptakan lingkungan yang merusak naluri dan akal manusia. Pornografi yang mudah diakses, lemahnya kontrol sosial, serta norma interaksi yang permisif menjadi lahan subur bagi kejahatan seksual.
Negara, alih-alih bertindak tegas, sering kali bersikap pasif. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Choiri Fauzi, mengecam keras kekerasan terhadap anak (Kompas.com, 17-11-2024). Namun, tanpa langkah konkret yang menyentuh akar masalah, kecaman tersebut hanya menjadi angin lalu.
Islam, Solusi Hakiki untuk Melindungi Generasi
Berbeda dengan sistem sekular, Islam menawarkan solusi menyeluruh yang berorientasi pada pencegahan dan perlindungan. Islam menetapkan tiga pilar utama dalam melindungi generasi.
Pertama adalah Ketakwaan Individu. Setiap individu dididik untuk memiliki ketakwaan yang tinggi. Keimanan yang kuat akan menjadi pengendali moral, sehingga seseorang takut berbuat kejahatan meski tidak diawasi.
Kedua, Peran Keluarga dan Kontrol Masyarakat. Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah benteng pertama dalam melindungi anak. Orang tua bertanggung jawab penuh mendidik anak dengan nilai-nilai Islam. Sementara itu, masyarakat berfungsi sebagai pengawas sosial yang aktif melaporkan dan mencegah kejahatan.
Selanjutnya adalah penegakan hukum yang tegas dan menjerakan. Sistem sanksi dalam Islam bukan hanya menghukum pelaku, tetapi juga memberikan efek jera bagi orang lain. Hukuman qishash, hudud, dan ta’zir diterapkan untuk memastikan keadilan dan perlindungan bagi masyarakat.
Namun, semua ini hanya dapat terwujud jika sistem kehidupan Islam diterapkan secara menyeluruh (kafah). Negara wajib berperan aktif melindungi generasi melalui kebijakan yang berbasis syariah, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga hukum pidana.
Menuju Perlindungan yang Kafah
Kasus-kasus yang terus bermunculan menunjukkan bahwa solusi parsial tidak cukup. Negara harus mengambil langkah nyata untuk membongkar akar permasalahan. Regulasi tegas terhadap penyebaran pornografi, perbaikan sistem pendidikan yang berbasis nilai-nilai moral, hingga penerapan sanksi yang menjerakan adalah langkah-langkah yang mendesak dilakukan.
Namun, semua itu membutuhkan paradigma yang berbeda. Paradigma yang tidak hanya menilai keberhasilan dari angka ekonomi atau indeks prestasi, tetapi juga dari keselamatan dan kesejahteraan generasi mendatang. Islam, dengan seluruh sistemnya, memberikan solusi komprehensif untuk menciptakan masyarakat yang aman, beradab, dan berketuhanan.
Sudah saatnya kita berhenti menggantungkan harapan pada sistem yang berkali-kali terbukti gagal melindungi generasi penerus kita. Betapa seringnya kita menyaksikan anak-anak tumbuh dalam ketidakpastian, menghadapi ancaman yang datang dari segala arah—baik itu berupa kerusakan moral, krisis mental, maupun tekanan sosial dan ekonomi. Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan bahwa sistem yang ada saat ini lebih sering menciptakan masalah daripada menawarkan solusi.
Inilah waktunya untuk kembali kepada sistem yang benar-benar mampu memberikan perlindungan sejati, sistem yang tidak hanya menjanjikan tetapi juga mewujudkan keamanan dan kesejahteraan bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam. Sebuah tatanan yang dibangun di atas landasan keimanan yang kokoh, yang menjadikan setiap individu memiliki tujuan hidup yang jelas, dan setiap keluarga menjadi tempat tumbuhnya cinta, kasih sayang, serta penguatan moral.
Sistem Islam tidak hanya berhenti pada individu dan keluarga. Ia merangkul masyarakat untuk saling peduli, menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi dengan nilai-nilai luhur. Lebih dari itu, negara dalam sistem Islam memikul tanggung jawab penuh, memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, pendidikan yang berkualitas, dan jaminan hidup yang layak. Inilah perlindungan sejati yang tidak hanya melindungi fisik mereka tetapi juga menjaga hati, pikiran, dan jiwa mereka dari segala bentuk ancaman. Kita tidak bisa terus-menerus berharap pada sistem yang telah nyata membawa kerusakan. Kini saatnya kita melangkah dengan penuh keyakinan untuk kembali kepada Islam—satu-satunya sistem yang tidak hanya memuliakan manusia tetapi juga menjamin masa depan generasi dengan keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab yang nyata. Sebab, hanya dengan Islam, kehidupan kita dan anak-anak kita akan terlindungi dengan utuh, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
Wallahu A’lam Bisshawaab[]
Sumber Foto : Canva

