Ramadhan di Gaza, Masih Dalam Derita

Bagikan Artikel ini

Para pemimpin negara-negara muslim hanya sebatas memberikan pernyataan dukungan dan mengecam peperangan tanpa bertindak tegas

Oleh : Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor

WacanaMuslim-Keadaan di Gaza masih memprihatinkan. Terlebih pada bulan Ramadhan tahun ini. Peperangan masih belum berakhir. Meskipun telah ditetapkan gencatan senjata dan pasokan makanan sudah boleh memasuki wilayah Gaza, namun warga Gaza masih kesulitan memenuhi kebutuhannya setiap hari. Kondisi semakin memburuk saat Ramadhan tiba.

Rakyat Palestina di Jalur Gaza memasuki bulan suci Ramadhan di antara reruntuhan bangunan dan dalam keadaan kelaparan. Semua ini sebagai akibat peperangan tanpa henti selama 16 bulan yang mengubah daerah kantong menjadi wilayah bencana. Sebelum peperangan terjadi, warga Gaza biasanya menyambut bulan suci dengan lampu-lampu lentera yang digantung di setiap tempat. Kota pun ramai dengan suara anak-anak melantunkan ayat suci Al Qur’an. Namun kini, lentera-lentera hanya digantungkan diantara puing-puing bangunan. Lantunan ayat suci pun terganti dengan tangisan anak-anak yang tidak berhenti. Menyedihkan.

Bantuan makanan pun langka. Harga makanan yang ada pun terlampau mahal. Parahnya lagi, sebagian besar rakyat Gaza kehilangan pekerjaan akibat peperangan yang berkepanjangan. Kehidupan kian sulit. Tidak kurang dari 2 juta orang menghadapi kekurangan pasokan makanan pokok (antaranews.com, 1-3-2025). Puluhan ribu orang mengungsi di kamp-kamp yang tidak mampu menyediakan kebutuhan dasarnya. Lebih dari 1,5 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza mengungsi dengan paksa sebagai dampak kerusakan yang makin meluas akibat serangan Israel.

Keadaan yang memburuk, tidak mampu mengubah kebijakan yang ditetapkan Amerika beserta negara-negara Arab Bersatu. Rencana Trump telah menyatukan negara-negara Arab sebagai oposisi. Akan tetapi masih terdapat perbedaan pendapat terkait pihak yang harus memerintah daerah kantong dan masalah mekanisme pendanaan rekonstruksinya.

Trump pun memantik kemarahan global saat mengusulkan Amerika Serikat akan “mengambil alih Jalur Gaza”. Sebanyak 2,4 juta penduduk Gaza direncanakan akan direlokasi ke negara tetangga, Mesir dan Yordania (cnbcindonesia.com, 22-2-2025).

Inilah tatanan sistem kapitalisme sekular yang hanya mengutamakan pencapaian keuntungan materi tanpa memperhitungkan dampak kerusakan yang terjadi. Konsep nasionalisme pun menjadi satu dalang utama yang mengacak-acak kesatuan umat muslim dunia. Ukhuwah Islam terkerat-kerat batas imajiner nasionalis (negara). Alhasil, persaudaraan sesama muslim hanya sebatas saudara seagama tanpa mampu saling membela.

BACA JUGA : Ramadan, Momentum Persatuan Bebaskan Palestina

Dampak Sistem Rusak

Kondisi Gaza belum juga berubah. Masalah kemanusiaan, keterpurukan dan kesedihan yang berlarut-larut belum juga tersolusikan. Padahal Ramadhan dan hari kemenangan di depan mata. Pengkhianatan zionis atas perjanjian gencatan senjata terus terjadi.

Serangan zionis terus berlanjut. Korban terus berjatuhan, terutama perempuan dan anak-anak. Namun sayang, negara-negara muslim, masih belum mampu bertindak tegas. Mereka hanya disibukkan dengan diskusi dan proses mediasi kosong, tanpa jalan keluar yang pasti. Berbagai usaha perdamaian yang ditawarkan badan dunia pun terbukti tidak mampu menyajikan solusi. Kekecewaan lagi-lagi menjadi akhir dari perjanjian yang disepakati.

Solusi two-state solution, diklaim sebagai solusi yang mampu mengakhiri konflik. Kenyataannya, solusi tersebut tidak mampu menyentuh akar permasalahan. Justru, konsep ini seakan-akan melegalkan perampasan tanah Palestina oleh zionis. Dampaknya, peperangan terus berlanjut tanpa adanya penyelesaian yang nyata.

Di sisi lain, para pemimpin negara-negara muslim hanya sebatas memberikan pernyataan dukungan dan mengecam peperangan tanpa bertindak tegas. Negara-negara muslim lebih banyak disetir Barat yang terus mengancam negeri Palestina.

Inilah tatanan sistem kapitalisme sekular yang hanya mengutamakan pencapaian keuntungan materi tanpa memperhitungkan dampak kerusakan yang terjadi. Konsep nasionalisme pun menjadi satu dalang utama yang mengacak-acak kesatuan umat muslim dunia. Ukhuwah Islam terkerat-kerat batas imajiner nasionalis (negara). Alhasil, persaudaraan sesama muslim hanya sebatas saudara seagama tanpa mampu saling membela.

Penjagaan Islam

Sistem Islam menetapkan bahwa, setiap muslim adalah saudara, dan persaudaraan ini harus didasarkan pada akidah serta keimanan yang kuat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(QS. As-Saff: 4)

Gaza membutuhkan kekuatan nyata seluruh umat Islam. Kekuatan ukuwah Islamiyyah inilah yang mampu mengenyahkan penjajahan di atas tanah Palestina. Solusi pasti yang dapat mengakhiri penderitaan Palestina adalah dengan menggerakkan kaum muslim dalam gerakan jihad melawan zionis.

Umat Islam wajib menyerukan kepada para pemimpin negeri muslim untuk mengerahkan dan menguatkan kekuatan militer untuk membela Palestina.

Kesadaran umat pun harus dibangun agar kaum muslim mampu memahami bahwa penjajahan ini hanya dapat dihentikan dengan menyatukan kekuatan kaum muslim melalui jihad dan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Untuk memberikan perlindungan yang nyata bagi Palestina dan seluruh wilayah Islam yang tertindas, mutlak dibutuhkan institusi khilafah. Sistem khilafah adalah satu-satunya wadah yang mampu menjaga tanah dan nyawa kaum muslim dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Seruan jihad dan penegakan khilafah harus didakwahkan kepada seluruh kaum muslim dunia. Melalui dakwah yang benar sesuai metode Rasulullah SAW., pemahaman yang jelas mengenai solusi untuk Palestina, akan dengan mudah dan dijalankan melalui kekuatan umat melalui institusi khilafah. Berdasarkan hal ini, dibutuhkan kelompok dakwah ideologis untuk membangun kesadaran umat dan membangkitkan pemikiran Islam secara menyeluruh. Kesadaran inilah yang akan menyatukan pemikiran dan gerakan seluruh kaum muslim. Kekuatan inilah yang mampu menghancurkan segala bentuk kezaliman yang kini terjadi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Wallahu a’lam bishowwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *