Kabur bukan solusi, karena di manapun kita berada, sistem yang diterapkan tetaplah kapitalisme yang menindas.
WacanaMuslim-Belakangan ini, banyak anak muda Indonesia menggaungkan tagar #KaburAjaDulu di media sosial. Mereka merasa lebih baik mencari kehidupan di luar negeri daripada bertahan di Indonesia dengan kondisi ekonomi yang dianggap tidak berpihak kepada mereka. Gaji rendah, lapangan pekerjaan terbatas, dan ketidakadilan dalam sistem ekonomi menjadi alasan utama. Namun, sebagai seorang muslim, apakah solusi dari permasalahan ini adalah meninggalkan negeri sendiri? Ataukah ada solusi lain yang lebih sesuai dengan Islam?
Dalam Islam, bekerja adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab seorang Muslim. Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
Namun, sistem ekonomi yang berbasis kapitalisme saat ini telah menciptakan kesenjangan yang lebar antara pekerja dan pemilik modal. Upah rendah, tingginya biaya hidup, serta ketidakadilan dalam distribusi kekayaan membuat banyak orang merasa sulit untuk bertahan. Apakah solusinya adalah meninggalkan negeri ini dan mencari kehidupan di luar negeri?
Hijrah dalam Islam : Untuk Apa dan Ke mana?
Dalam sejarah Islam, hijrah dilakukan bukan sekadar untuk mencari kehidupan yang lebih baik secara materi, tetapi untuk menegakkan Islam dan membangun peradaban yang lebih baik. Rasulullah saw dan para sahabat berhijrah ke Madinah bukan hanya karena Mekah sulit secara ekonomi, tetapi karena di Madinah ada peluang untuk menegakkan syariat Islam secara menyeluruh. Jika hijrah dilakukan hanya demi mengejar gaji yang lebih besar, tanpa memikirkan bagaimana Islam akan diterapkan dalam kehidupan, maka hijrah semacam ini patut dipertanyakan.
BACA JUGA : Tren “Kabur Aja Dulu”, Salah Siapa ?
Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar daripada sekadar berpindah tempat. Solusi itu adalah menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
- Distribusi Kekayaan yang Adil, Islam melarang penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Allah berfirman:
“…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al-Hasyr: 7)
Dalam sistem Islam, negara wajib memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak dan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan. - Sistem Upah yang Adil
Islam menetapkan bahwa upah pekerja harus cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya secara layak. Rasulullah saw bersabda,
“Berikanlah pekerja upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).
Kapitalisme membuat upah ditekan serendah mungkin demi keuntungan pemilik modal. Dalam Islam, negara bertanggung jawab untuk memastikan keadilan dalam sistem pengupahan. - Pemerintah yang Bertanggung Jawab
Dalam Islam, pemimpin bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyatnya. Rasulullah saw bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pemimpin tidak boleh hanya berpihak kepada korporasi besar, tetapi harus memastikan bahwa seluruh rakyat mendapatkan kesejahteraan yang adil.
Fenomena #KaburAjaDulu menunjukkan bahwa ada ketidakadilan dalam sistem ekonomi yang membuat rakyatnya merasa tidak dihargai. Namun, kabur bukan solusi, karena di manapun kita berada, sistem yang diterapkan tetaplah kapitalisme yang menindas. Solusi Islam bukan sekadar hijrah secara fisik, tetapi hijrah menuju penerapan syariat Islam secara menyeluruh. Islam memiliki sistem ekonomi yang adil, yang menjamin kesejahteraan rakyat dan memastikan bahwa setiap individu dapat bekerja dengan upah yang layak. Maka, daripada hanya memikirkan bagaimana “kabur” ke negara lain, tidakkah lebih baik kita berjuang untuk menerapkan sistem Islam yang benar-benar memberikan keadilan bagi seluruh umat? Sebab sejatinya, kemuliaan bukanlah terletak di mana kita tinggal, tetapi di sistem apa kita hidup.[]
Syahida
Dramaga Bogor
Sumber Foto : http://www.canva.com

