Trump dan Pengkhianatan Pemimpin Muslim

Bagikan Artikel ini

Kegagalan para pemimpin dunia dan lembaga internasional seharusnya menjadi bukti bahwa sistem yang saat ini diterapkan sama sekali tidak berfungsi.

Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor

WacanaMuslim-Gaza masih terus berduka. Serangan Israel yang bertubi-tubi telah meluluhlantakkan Gaza. Tidak ada lagi yang tersisa. Meskipun beberapa waktu lalu ditetapkan gencatan senjata, namun penderitaan Gaza tidak seketika mereda. Bantuan kemanusiaan pun masih dirasa sulit masuk wilayah Gaza.

Dalam keadaan yang semakin mengkhawatirkan, Presiden Amerika, Donald Trump, pemimpin negara adidaya dengan kekuatan militer nomor satu di dunia, justru mengancam akan menghancurkan Gaza jika pembebasan tawanan Israel tidak dilakukan (republika.co.id, 8-3-2025).

Bagi kebanyakan warga Gaza, ancaman Trump tidak lebih dari sekadar pembenaran untuk melakukan kekerasan lebih parah dan hukuman “jamaah” terhadap warga Gaza. Masyarakat Gaza pun menjadi apatis dan skeptis atas segala usaha dunia internasional untuk menuntaskan masalah Gaza.

Di sisi lain, Washington telah menolak usulan Mesir terkait nasib Gaza pascaperang. Negara Arab mendukung pembangunan kembali Gaza yang tidak menginginkan pemindahan. Kehidupan pascaperang yang tidak manusiawi disebut-sebut sebagai alasan pemindahan Gaza. Rencana tersebut diharapkan Amerika agar Hamas menyerahkan pemerintahannya atas Gaza. Sejumlah dana dari negara-negara pendonor telah disiapkan. Puluhan ribu milyar US Dollar telah diplotkan untuk membangun Gaza yang direncanakan akan dilakukan dalam tiga fase. Fase tersebut diperkirakan akan menghabiskan waktu selama 6 bulan. Yakni fase pemulihan awal, fase rekonstruksi awal dan fase rekonstruksi kedua.

Rangkaian solusi ini masih juga mengusahakan solusi perang dengan solusi “two state nations”. Solusi dua negara yang diklaim akan menghentikan peperangan secara adil. Namun faktanya, jauh dari harapan.

Refleksi Pengkhianatan

Trump menipu Mesir dan Yordania dalam pernyataan sebelumnya bahwa mereka akan membangun kembali Gaza. Mesir membuat proposal membangun kembali Gaza dan ditolak oleh Trump.

Namun pembicaraan ini berubah-ubah. Ucapan Trump tidak konsisten sejak awal. Intinya, Amerika tetap pada satu hal yakni mengambil alih dan merebut Gaza serta menyerahkannya kepada zionis Yahudi.

Sementara itu, pengkhianatan pemimpin negara-negara Arab dan pemimpin negeri muslim terdekat seperti Mesir dan Yordania telah nampak jelas. Para pemimpin Mesir dan Yordania berada di pihak Trump. Alasan inilah yang menjadikan Trump kian percaya diri dengan setiap lisannya. Bahkan dalam cuitannya beberapa waktu lalu, Trump mengancam mujahiddin.

Kegagalan para pemimpin dunia dan lembaga internasional seharusnya menjadi bukti bahwa sistem yang saat ini diterapkan sama sekali tidak berfungsi. Sistem kapitalisme sekular yang kini diterapkan justru merusak harapan perdamaian dunia. Jaminan keamanan dan kedamaian dunia hanya sebatas impian yang jadi angan-angan.

Sementara itu, negara-negara Barat terus-menerus menyebarluaskan paham sekularisme liberal ke berbagai negeri sebagai alat penjajahan yang menzalimi. Dengan pemikiran yang keliru, negara adidaya dengan mudah menguasai negara lain. Penjajahan semakin meluas. Lembaga-lembaga perdamaian dunia berada dalam setir negara imperialis adidaya. Kebijakan yang diambil didominasi pada materi dan kepentingan penguasa. Korban perang hanya mendapat simpati dalam bentuk kecaman, tanpa ada tindakan nyata seperti pengiriman pasukan untuk melawan.

Liberalisme kapitalistik telah menjadi sistem yang diadopsi banyak negara. Parahnya lagi, konsep nasionalisme semakin menguatkan batas antar negara. Konsep inilah yang menjadi penghalang rasa persaudaraan antar kaum muslim dunia.

Para pemimpin negara terjebak dalam drama politik negara-negara kapitalis. Pembelaan terhadap kaum tertindas hanya sebatas ucapan, tanpa tindakan militer yang nyata.

BACA JUGA : Pemimpin Baru Harapan Baru, Benarkah ?

Solusi Pasti

Negara-negara terdampak perang seperti Gaza, Lebanon, dan Yaman yang mengalami penjajahan membutuhkan pembelaan nyata, bukan hanya kecaman atau sekedar ucapan. Bentuk perlindungan ini harus diwujudkan melalui kekuatan militer serta sistem militer yang kuat. Dunia memerlukan sistem yang tangguh untuk menjaga perdamaian. Sistem Islam adalah satu-satunya harapan yang mampu menyajikan solusi nyata.

Sistem Islam mampu mengerahkan tentara muslim yang memiliki kekuatan militer. Kebijakan ini hanya mampu dijalankan dalam mekanisme pemerintahan Islam di bawah institusi khilafah.

Dalam Islam, setiap individu berhak mendapatkan jaminan perlindungan secara menyeluruh. Khilafah akan menetapkan strategi dan mekanisme untuk membebaskan tanah kaum muslim dari penjajahan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Muttafaqun ‘alayh)

Islam menekankan bahwa ukhuwah ditetapkan atas dasar akidah, yang menjadi ikatan kuat di antara sesama muslim tanpa membedakan batas imajiner antar negara. Dengan kekuatan ukhuwah, khilafah dapat menetapkan kebijakan militer yang kuat dalam membela umat Islam. Selain itu, khilafah juga berperan dalam membangun kesadaran ideologis dalam tubuh umat terkait kewajibannya membela saudara muslim yang tertindas. Dengan konsep inilah, akidah Islam dapat mengikat kekuatan ukhuwah kaum muslim.

Melalui strategi ideal yang disandarkan pada hukum syarak, khilafah akan membina umat agar memiliki pemahaman politik Islam yang menyeluruh. Kesadaran politik ini akan membangkitkan semangat dakwah dan jihad fi sabilillah. Pemahaman akidah yang sempurna akan menyatukan umat melalui pemikiran dan perasaan yang sama. Hal inilah yang menciptakan kekuatan nyata untuk melawan penjajahan dan mewujudkan perdamaian hakiki. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *