Inilah potret buram pendidikan, karena dalam kapitalisme pendidikan dijadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan demi keuntungan.
Oleh: Eni Imami, S.Si, S.Pd (Pendidik dan Pegiat Literasi)
WacanaMuslim-Marak pemberitaan adanya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2025. Dalam dua hari pelaksanaannya ditemukan ada 19 kasus kecurangan. Kasusnya masih terus didalami, sangat dimungkinkan ada pihak di luar peserta yang terlibat. (kompas.com, 25-04-2025).
Menurut panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) kasus tersebut bukan bocornya soal, melainkan kecuraan oknum peserta yang merekam soal di sesi pertama UTBK. Lebih lanjut, panitia juga menyoroti modus kecurangan baru yang sangat variatif dari pelaku, yakni dengan memasang kamera yang tidak terdeteksi metal detector di behel gigi, kuku, ikat pinggang, dan kancing baju. (beritasatu.com, 25-04-2025).
Potret Buram Pendidikan
Kecurangan dalam UTBK bukan kali ini saja. Pada UTBK 2023, di Universitas Sumatera Utara (USU) ditemukan tujuh peserta yang melakukan kecurangan. Sebagaimana dilansir liputan6.com, para pelaku menggunakan alat komunikasi tersembunyi di tubuhnya. Meski kasus ini sudah dilaporkan ke pihak berwenang, USU memutuskan untuk tidak melanjutkan proses hukum setelah dilakukan mediasi dengan para peserta.
Meski berulangkali terjadi, kasus kecurangan seperti ini hanya dianggap sebagai masalah individu, adanya oknum yang tidak jujur. Tidak dipandang sebagai masalah sistemik. Padahal jika ditelisik lebih dalam, ditemukan bahaa akar persoalannya akibat diterapkannya sistem Kapitalisme. Sistem Kapitalisme telah menjadikan materi sebagai standar kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.
Dalam sistem kapitalisme nilai seseorang diukur dari pencapaian materi dan status sosialnya. Jika seorang pelajar dapat masuk di perguruan tinggi bergengsi, akan lebih dipandang. Sehingga terjadi tuntutan dan tekanan untuk masuk di universitaa favorit. Karena dipandang mampu memperbaiki masa depan ekonomi lebih cerah dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Itu membuat banyak orang menghalalkan berbagai cara, termasuk melakukan tindak kecurangan.
Inilah potret buram pendidikan, karena dalam kapitalisme pendidikan dijadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan demi keuntungan. Orang rela membayar mahal demi pendidikan yang diinginkan. Lembaga pendidikan mahal karena orientasinya bisnis. Ada jaringan koneksi elite hingga praktik perjokian menjadi bukti nyata bahwa kapitalisme menyebabkan ketimpangan dunia pendidikan.
Kecurangan UTBK jelas bukan sekadar masalah individu, melainkan masalah sistemik. Dari laporan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang dilakukan oleh KPK, ditemukan masih banyak kasus menyontek dan ketidakjujuran akademik. Di sekolah sebanyak 78%, dan di kampus lebih banyak lagi mencapai 98%. (detik.com, 25-04-2025)
Persoalan ini tidak boleh dibiarkan, apalagi diserahkan secara individu untuk menyelesaikannya. Ini harus disolusi secara sistemik, karena akar masalahnya adalah sistem kapitalistik.
Sistem Islam Solusinya
Sistem Islam merupakan solusi yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam Islam, penguasa adalah raa’in yang bertanggungjawab mengurusi rakyat. Membina rakyat agar terbentuk manusia yang berkarakter mulia, memiliki keterampilan keahlian untuk kehidupan melalui pendidikan.
Pendidikan dalam sistem Islam diselenggarakan bukan untuk mengejar materi dan status. Sistem pendidikan Islam berasaskan akidah Islam akan mencetak generasi unggul berkepribadian Islam, terikat pada syariat Allah, dan menjadi agen berubahan. Dengan demikian terwujudlah generasi yang menjunjung tinggi kejujuran, baik dalam ujian maupun hidup keseharian.
Negara menyediakan pendidikan gratis bagi seluruh rakyatnya tanpa ada diskriminasi. Selain itu, kualitas pendidikan sangat diprioritaskan. Mulai dari fasilitas, sarana, prasarana, dan para pendidik yang mumpuni. Oleh karena itu masyarakat tidak akan menghalalkan segala cara, seperti praktik perjokian atau kecurangan, karena negara telah menjamin kebutuhan pendidikan rakyatnya.
Jika terjadi tindak pelanggaran, Islam memiliki sistem persanksian yang adil dan tegas. Dengan ini negara dalam sistem Islam mampu mewujudkan sistem pendidikan dan sosial untuk mencegah tindakan kecurangan, apapun bentuknya. Sistem Islam mampu mencerahkan buramnya sistem pendidikan sekular-kapitalistik yang ada hari ini. Wallahualam bissawab.[] Sumber Foto : Canva

