Ibu Tega Jual Bayi, Nalarnya dimana?

Bagikan Artikel ini

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya”. (HR.Bukhari)

Oleh : Artika Sunaryo

WacanaMuslim-Satreskrim Polrestabes Medan meringkus empat perempuan yang terlibat jual dan beli bayi seharga Rp 20 juta di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Bayi ini anak kandung dari anak salah satu pelaku yang ditangkap, dijual Rp 20 juta. Penyerahan uang dilakukan bertahap, pertama Rp 5 juta, kedua Rp 15 juta. Keempat pelaku yang ditangkap, perannya sebagai penjual, pembeli dan perantara,” kata Madya didampingi Kepala Seksi Humas Polrestabes Medan Inspektur Satu Nizar Nasution, Kamis, 15 Agustus 2024. (metro.tempo.co.id, 16-08-2024)

Gila, dimana logikanya? Ya kata ini memang sangat pas mengomentari kejadian tersebut. Ibu kandung menjual buah hatinya seharga 20 juta rupiah. Himpitan ekonomi hari ini telah membuat sebagian ibu kehilangan naluri keibuan juga nalar sehatnya. Bayangkan bayi yang dikandung dengan bersusah payah selama sembilan bulan, dilahirkan penuh perjuangan juga bertaruh nyawa rela dijual dengan harga dunia yang tak seberapa.

Kenaikan harga kebutuhan pokok, potongan iuran wajib kesehatan, tapera dsb. Kelangkaan gas yang juga menyebabkan kenaikan harga. Pajak listrik dan air yang semakin hari semakin mahal saja. Ah mungkin ini salah satu dari sebagian banyak permasalahan yang membuat sebagian ibu kehilangan kewarasan.

Sudahlah pendapatan tak menentu, namun kebutuhan semakin menjulang. Tak ada dukungan sistem’ yang bisa diandalkan akhirnya ibu merasa sendirian, keluarga terdekat sibuk dengan kebutuhan masing-masing baik karena faktor individualistis juga faktor ekonomi yang sama-sama miskin. Jangankan membantu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri saja sudah pusing tujuh keliling itupun akhir bulan masih harus kasbon di warung belanja langganan tak sedikit pula yang akhirnya terjerat pinjol (pinjaman online) karena sudah tak ada harapan pertolongan.

Negara yang diharap mampu memberi solusi nyatanya di atas sana sibuk berebut kekuasaan. Sebelumnya lawan hari ini jadi kawan, yang sebelumnya kawan hari ini berubah lawan. Semakin tercengang saat Revisi UU seakan memberikan keuntungan pribadi dan segelintir golongan. Ah, hanya bisa tarik nafas dan mengelus dada dimana sih logikanya. Tak heran sih karena sistem yang kita anut hari ini adalah sistem ekonomi kapitalisme dimana penguasa abai terhadap kebutuhan rakyat dan yang diuntungkan juga memiliki wewenang hanyalah mereka para pemilik modal yang dipastikan hidupnya tambah sejahtera.

Padahal rakyat jelata sedang butuh uluran tangan. Angka pengangguran terus meningkat segaris lurus dengan derasanya angka kemiskinan, sulitnya para suami mendapat lapangan pekerjaan yang pada akhirnya tak bisa memberi nafkah pada keluarga. Para ibu yang seharusnya mengurus kebutuhan rumah tangga dan konsentrasi membangun generasi justru ikut banting tulang mengais rejeki. Jadi yah wajar saja jika sampai ada yang tega menjual bayi karena yang terpikir hanya bertahan hidup dal himpitan kebutuhan ekonomi.

Parahnya tak hanya satu atau dua kasus saja, tapi banyak kasus serupa terus berulang tak ada habisnya. Ini juga mencerminkan sistem pendidikan saat ini tak mampu mencetak manusia yang bertakwa. Mereka goyah karena kejamnya himpitan dunia, hal ini tidak lepas dari sistem pendidikan yang dianut adalah pendidikan sekuler dan tujuan pendidikan yang materialistis. Agama dijauhkan dari pendidikan sehingga mencetak orang-orang yang berbuat semaunya dan tak takut berbuat dosa.

Hal semacam ini tentu tak akan terjadi dalam sistem yang menganut syariat islam. Dalam sistem Islam menetapkan peran negara sebagai raa’in dimana kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab negara dan menjadi prioritas bagi negara. Rasulullah SAW bersabda,

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya”. (HR.Bukhari)

Para suami tentu tak akan kesulitan mencari lapangan pekerjaan karena akan disediakan oleh negara. Para ibu hanya akan fokus dalam mencetak generasi yang berkualitas tanpa dipusingkan oleh himpitan ekonomi.

Sistem pendidikan dalam Islam mampu mencetak generasi yang bertakwa karena asas pendidikannya adalah Islam. Setiap individu ditanamkan akidah yang kuat sehingga setiap perilakunya akan terikat dengan syariat Islam. Suasana ketakwaan akan terasa kental sekali apalagi didukung dengan media massa yang ada didalam sistem Islam adalah media yang sesuai syar’iat. Setiap tayangan, tulisan dan konten-konten di media sosial bertujuan untuk pendidikan dan harus sesuai dengan aturan Islam. Dengan demikian opini yang tersampaikan pada masyarakat adalah opini yang islami sehingga terciptalah masyarakat dengan nuansa yang islami.

Begitulah kiranya keindahan yang tercipta dibawah peraturan sistem Islam. Baik ekonomi, pendidikan bahkan seluruh kehidupan diatur oleh sistem Islam. Sistem yang memang berasal dari Allah SWT yang seharusnya diterapkan secara kafah oleh negara demi terciptanya kesejahteraan bagi seluruh umat.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *