Retreat Pejabat, Bermanfaat Untuk Rakyat?

Bagikan Artikel ini

Mustahil terwujud keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, selama sistem yang diterapkan tetaplah sama yakni demokrasi kapitalisme.


Oleh: Dwi Aminingsih, S.Pd (Pemerhati masalah sosial dan politik Islam)

WacanaMuslim-Babak baru kepemimpinan negeri ini telah dibuka. Prabowo Subianto resmi dilantik sebagai Presiden RI untuk masa jabatan 2024 – 2029. Dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil Presiden RI. Beberapa jam setelah dilantik, Presiden mengumumkan susunan kabinetnya yang dinamai Kabinet Merah Putih (KMP). Adapun susunan KMP tersebut terdiri dari 48 menteri, 56 wakil menteri, 5 pejabat setingkat menteri, 1 TNI, 1 Kapolri, dan 1 sekretaris kabinet.

Pada tanggal 24 – 27 Oktober Kabinet Merah Putih secara serentak bertolak menuju Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti retreat bersama Presiden dan wakil Presiden. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut retreat Kabinet Merah Putih di Akademi Militer Magelang, menambah kejelasan visi, misi dan tujuan serta orientasi pemerintahan yang dipimpin Prabowo. Retreat kabinet diperkuat oleh sesi-sesi materi oleh para menteri dan kepala badan yang memberikan orientasi pemerintahan ke depan (www.cnnindonesia.com, 27-10-2024). Masyarakat pun berharap agar semangat yang terbangun dalam retreat ini dapat membawa perubahan positif bagi Indonesia, khususnya dalam aspek ekonomi dan pembangunan nasional. Tut Wuri Handayani (45), guru di SMPN 4 Kota Magelang menambahkan pihaknya juga berharap lewat pemerintahan baru ini Indonesia semakin maju menuju Indonesia Emas 2045 (www.menpan.go.id, 28-10-2024). Namun akankah kedepannya realita seindah harapan?

Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/layakkah-demokrasi-diperjuangkan/

Bukan menjadi rahasia lagi, KMP dibentuk dengan spirit bagi-bagi kue kekuasaan, bukan integritas dan profesionalitas. Adanya tukar guling jabatan antara parpol (golkar dan Gerindra) menguatkan hal itu. Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menceritakan bahwa Golkar sebelumnya telah melakukan komunikasi politik dengan Prabowo untuk menegosiasikan jatah kursi menteri. Akhirnya, kader-kader Partai Golkar mengisi delapan kursi menteri dan tiga kursi wakil menteri. Sebagai gantinya, Partai Gerindra dapat mendudukkan kadernya di posisi Ketua MPR RI (tirto.id, 21-10-24). Gemuknya Kabinet Merah Putih menjadi jalan bagi Prabowo untuk membalas budi kepada partai – partai dan pihak – pihak yang telah membantu kemenangannya dalam Pilpres.

Begitulah potret buruk sistem demokrasi yang kental dengan bagi-bagi kekuasaan. Sistem bobrok dan merusak. Tiada keberpihakan pada rakyat. Adanya koalisi antar partai bukanlah untuk memperjuangkan nasib rakyat, akan tetapi untuk kepentingan eksistensi partai dan golongan masing-masing. Hal ini yang menjadikan kekuasaan sebagai ajang bancakan.

Dengan demikian mustahil terwujud keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, selama sistem yang diterapkan tetaplah sama yakni demokrasi kapitalisme. Retreat Kabinet Merah Putih yang digelar untuk menyelaraskan kedisiplinan dan kesetiaan pada bangsa dan negara tidak akan membawa pengaruh apapun bagi kehidupan rakyat. Rakyat bukan hanya butuh pejabat yang disiplin dan sinergi tapi harus punya visi baru untuk perubahan yang lebih baik.

Dalam Islam, pejabat dipilih sebagai pembantu pelaksanaan tugas khalifah. Mereka dipilih dari orang yang memiliki integritas (syakhshiyah Islamnya tinggi) dan punya kapabilitas, jauh dari konflik kepentingan. Dan itu hanya bisa terwujud manakala negara menerapkan aturan Islam secara kaffah yang mengikat semua pihak, baik pejabat, aparat maupun rakyat. Keterikatan yang kuat terhadap hukum Islam, yang muncul karena adanya keimanan yang tinggi menjadikan penguasa maupun rakyat memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatan yang mereka lakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Sehingga akan muncul sosok – sosok penguasa ataupun pejabat yang amanah karena Allah dan rakyat yang taat kepada pemimpin karena Allah. Penerapan aturan Allah secara kaffah akan menjadikan kehidupan Sejahtera dan terwujud rahmat bagi seluruh alam.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 96:
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Untuk itu sudah saatnya umat ini sadar bahwa perubahan yang lebih baik itu membutuhkan adanya sistem yang baik. Dan sistem yang baik adalah sistem Islam. Saatnya pula menyingkirkan sistem demokrasi kapitalisme yang hanya memberikan janji – janji manis tanpa ada realitasnya.

Wallahu A’lam Bishawab[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *