Banjir bukan sekadar bencana alam, tetapi juga buah dari sistem tata kelola yang lemah.
WacanaMuslim-Awal Ramadan yang seharusnya disambut dengan kekhusyukan justru dirundung musibah banjir tahunan. Berbagai daerah kembali terendam, aktivitas warga terganggu, harta benda hanyut, dan lebih parah lagi, nyawa pun melayang. Masyarakat hanya bisa pasrah, sementara pemerintah kembali mengulang pola lama berupa bantuan darurat, seruan waspada, dan janji perbaikan. Namun, bukankah skenario ini sudah sering terjadi?
Kita perlu bertanya lebih dalam, apa yang salah?. Jika banjir terus berulang, berarti ada masalah yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Kerusakan lingkungan, tata ruang yang amburadul, deforestasi, serta eksploitasi alam demi keuntungan segelintir pihak adalah beberapa penyebab utama. Anehnya, semua ini dibiarkan terjadi di bawah kebijakan pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.
Banjir bukan sekadar bencana alam, tetapi juga buah dari sistem tata kelola yang lemah. Alih fungsi lahan, pembangunan tanpa kajian ekologi, serta lemahnya pengawasan terhadap eksploitasi sumber daya alam adalah cerminan dari sistem kapitalisme yang lebih mengutamakan keuntungan ekonomi dibanding kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan.
BACA JUGA : Banjir Berulang, Akibat Sistem Sekuler Kapitalis
Lalu, bagaimana Islam menangani masalah ini? Dalam sistem pemerintahan Islam, pengelolaan lingkungan bukan sekadar tanggung jawab individu, tetapi kewajiban negara. Rasulullah Saw menegaskan bahwa air, padang rumput, dan api adalah milik umum yang harus dikelola demi kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan bisnis. Negara wajib menjaga keseimbangan ekosistem, mencegah eksploitasi berlebihan, dan menerapkan kebijakan tata ruang yang berbasis kemaslahatan, bukan kepentingan oligarki.
Dalam sejarah peradaban Islam, kota-kota seperti Baghdad dan Cordoba dirancang dengan sistem drainase yang canggih dan ruang hijau yang luas untuk mencegah bencana ekologis. Negara Islam juga menerapkan aturan tegas bagi siapa saja yang merusak lingkungan, karena Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
Selama kita masih bertahan dengan sistem yang terbukti gagal mengatasi banjir, musibah ini akan terus berulang. Sudah saatnya kita mempertimbangkan solusi dari sistem Islam yang terbukti mampu mengelola alam dengan bijak dan berkelanjutan. Jika kita ingin Ramadan menjadi bulan berkah, maka sudah seharusnya kita mencari sistem yang membawa keberkahan bagi seluruh umat.
Wallahu’alam bishshowwab[]
Syahida
Dramaga Bogor
Sumber Foto : Canva

