Keluarga yang menjadikan Islam sebagai akidah maka akan lebih memiliki kekuatan dalam menghadapi kehidupan. Akidah menjadi tonggak utama dalam berbuat. Karena setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggung jawaban. Dengan akidah yang kuat akan membuat seseorang taat terhadap syariat.
Oleh : Desi Melza,S.Hum
WacanaMuslim- Berbuat baik kepada orang tua adalah suatu kewajiban. Namun apa jadinya jika anak durhaka kepada orang tuanya. Jangankan untuk menghilangkan nyawa, berkata ah atau cis saja sudah termasuk menyakiti hatinya. Tetapi keadaan saat ini hubungan antara anak dan orang tua tidak semuanya baik-baik saja. Tatanan kehidupan yang didasarkan atas materi yang membuat hubungan antara anak dan orang tuanya dilihat dari untung rugi belaka.
Dikutip dari liputan 6, seorang pedagang perabot di kawasan Duren Sawit Jakarta Timur yang tewas di tokonya sendiri. Setelah diusut ternyata yang membunuh adalah kedua anaknya sendiri. Korban yang saat ini masih berusia remaja yaitu 16 dan 17 tahun. Modus dari kasus ini ternyata karena sakit hati lantaran sering dimarahi oleh bapaknya. (Liputan6.com, 23/06/2024)
Kerapuhan pondasi keluarga adalah sebuah keniscayaan dalam sistem kapitalisme. Sistem ini membuat kenyamanan dan kepercayaan yang bisa dibangun di dalamnya menjadi semakin rusak. Kapitalisme melahirkan orang-orang dengan keimanan yang kosong dan susah dalam mengendalikan emosi. Untuk berbuat baik terhadap kedua orang tua masih memandang sisi materi. Ketika orang tuanya mendatangkan manfaat maka akan disayang. Namun sebaliknya jika tidak mendapatkan manfaat dari orang tuanya maka akan dibuang.
Kapitalisme Akar Segala Masalah
Semua aspek kehidupan saat ini berasaskan kapitalis semata. Segala sesuatu dipandang dengan dalih untung dan rugi. Termasuk dalam hubungan berbuat baik kepada orang tua atau birrul walidain. Setiap anak wajib berbakti kepada kedua orang tua. Karena hubungan ini merupakan pondasi yang akan dibangun untuk menjaga keutuhan keluarga. Jika pondasinya kokoh maka kuatlah keluarga tersebut. Keluarga merupakan kelompok pertama dan utama untuk seseorang anak belajar, tumbuh dan berkembang. Segala nilai kehidupan dipelajari dari keluarga seperti nilai agama, nilai moral bahkan emosional.
Jika dianalisis kondisi keluarga yang ada saat ini sungguh memprihatinkan. Setiap keluarga mesti menyesuaikan dengan kondisi kebutuhan hidup dan cara pemenuhannya. Ketika ekonomi tidak menopang segala kebutuhan maka keluarga tersebut akan berusaha dengan bekerja bahkan tidak hanya kepala keluarga, anak-anak pun ikut andil dalam hal ini. Akhirnya membuat hubungan keluarga hanya fokus untuk pemenuhan kebutuhan saja.
Dengan kesibukan yang seperti itu akan membuat proses pendidikan yang mesti didapatkan seorang anak jadi terhambat. Orang tua sibuk bekerja dan anak juga ikut ambil peran juga. Akhirnya pendidikan yang di dalam keluarga tadi kurang diperhatikan bahkan bisa berkurang. Ujungnya adalah anak mendapatkan proses pendidikan tadi dari lingkungan, sekolah atau teman sepermainan.
Ditambah lagi sistem pendidikan dalam kapitalis berlandaskan akidah sekuler. Ketika peran agama terpisah dari kehidupan. Agama hanya sebatas ibadah ritual saja. Asas sekuler ini menganggap segala sesuatu bisa dilakukan sebebasnya. Apalagi yang mendatangkan manfaat. Bentuk sistem pendidikan ini akan membentuk suasana keimanan yang kosong, jiwa yang hampa dan melakukan sesuatu atas kehendaknya tanpa memikirkan akibat ke depan.
BACA JUGA : Marak Anak Durhaka, Kapitalisme Biangnya
Islam Mengembalikan Fungsi Keluarga
Keluarga adalah sebuah institusi pembelajaran bagi seorang anak. Baik untuk nilai agama , moral dan kepribadian. Dari keluarga inilah semua akan dibentuk. Ketika pondasinya di dalam keluarga kokoh maka keseluruhan dari kehidupannya juga akan kokoh.
Keluarga yang menjadikan Islam sebagai akidah maka akan lebih memiliki kekuatan dalam menghadapi kehidupan. Akidah menjadi tonggak utama dalam berbuat. Karena setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggung jawaban. Dengan akidah yang kuat akan membuat seseorang taat terhadap syariat.
Aspek pendidikan Islam juga memberikan pengaruh kepada seseorang untuk lebih berhati-hati dalam emosi dan melakukan perbuatan. Karena dasar dari pendidikan Islam adalah akidah Islam. Akidah Islam membentuk seseorang dengan keimanan yang kokoh dan ketika dihadapkan dengan masalah maka bisa mengendalikannya dan berpikir akan melakukan apa. Dengan Islam, seseorang akan berpikir berkali-kali untuk menghilangkan nyawa seseorang. Dengan akidah Islam maka akan dihasilkan pola pikir islami dan pola sikap islami yang akan berujung kepada terbentuknya kepribadian Islam. Inilah yang akan membentengi seseorang untuk berbuat kebaikan apalagi untuk berbakti kepada orang tua yang memang merupakan kewajiban.
Sanksi Tegas Dalam Islam
Apapun perbuatan memiliki konsekuensi akhirnya. Dalam hal ini adalah kasus pembunuhan ayah oleh anak kandung sendiri. Ketika sistem yang digunakan masih kapitalis maka hukuman yang ada masih belum memberikan efek jera. Hal ini dapat dilihat dari masih banyak kasus yang sama dan terus berulang.
Islam dengan tegas menentang segala bentuk kejahatan dan kejahatan memiliki konsekuensi hukuman yang tepat dan jelas. Sistem sanksi di dalam Islam memiliki fungsi jawabir (penebus dosa) dan zawajir (memberikan efek jera). Dengan sanksi ini seseorang akan berpikir untuk melakukan kejahatan. Fungsi sanksi ini juga akan menekan angka kriminal dan kejahatan. Namun, sanksi ini hanya dapat ditegakkan ketika Islam sudah diterapkan secara kafah dan tidak bisa diterapkan dalam negara dengan sistem kapitalis ini. Wallahualam bishawab []
Sumber Foto : Canva

