Malin Kundang Zilenial

Bagikan Artikel ini

Islam mengajarkan kewajiban anak hormat kepada orang tua dan melarang keras bersikap durhaka. Rasulullah SAW bersabda, “Dosa besar yaitu menyekutukan Allah dan durhaka pada orang tua.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi). 

Oleh: Eni Imami, S.Si, S.Pd (Pendidik dan Pegiat Literasi)

WacanaMuslim-Siapa yang tak kenal legenda malin kundang dari Sumatera Barat. Kisah anak durhaka kepada ibunya yang dikutuk jadi batu. Kisah anak durhaka masih terus ada dan makin parah. Bukan hanya menghardik orang tua, bahkan tega menghilangkan nyawanya. Sungguh sadis, inikah potret malin kundang zilenial?

Malin Kundang Milenial

Viral di media sosial seorang bapak ditemukan tewas di toko perabot kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Menurut penyelidikan polisi, pelakunya adalah anaknya sendiri. Dua gadis berusia 16 dan 17 tahun. Mereka menusuk ayahnya menggunakan sebilah pisau lantaran sakit hati karena dimarahi usai kedapatan mencuri uang korban. ( Liputan6.com 23-6-2024).

Kasus serupa juga terjadi di Lampung, SPA (19) remaja Kabupaten Pesisir Barat menganiaya ayah kandungnya yang menderita stroke hingga meninggal dunia. Pelaku kesal karena sedang makan diminta korban untuk ke kamar mandi. Akhirnya terjadi percekcokan antara keduanya. Dalam kemarahannya, pelaku memukul korban berkali-kali hingga tersungkur. Dalam kemarahannya, pelaku memukul korban berkali-kali hingga tersungkur. Korban mengalami luka robek pada alis mata kanan dan kiri serta memar di bagian mata. Setelah sempat dirawat inap di Puskesmas, keesokan harinya korban meninggal dunia.(beritasatu.com, 14-6-2024).

Sungguh miris, perilaku anak kepada orang tuanya sudah melampaui batas. Hal ini menunjukkan rapuhnya kondisi generasi dan keluarga muslim. Tatanan kehidupan hari ini telah menjauhkan keluarga dengan agama. Manusia mudah kosong hatinya dan tidak mampu mengontrol emosinya. 

BACA JUGA : Rusaknya Bangunan Akibat Penerapan Sistem Sekularisme Kapitalisme

Tatanan Hidup Sekularisme Biang Keroknya

Perilaku anak berani membunuh orang tua merupakan tindakan tercela. Agama (Islam) mengajarkan anak harus menghormati orang tua. Namun, ketika kehidupan dijauhkan dari agama menjadikan manusia bertingkah bak binatang. Tidak mengenal batasan dan aturan, hanya menuruti hawa nafsu. Inilah kehidupan sekularisme yang bercokol di negeri ini.

Sekularisme telah merusak tatanan kehidupan. Seyogyanya keluarga menjadi tempat berkasih sayang antara anak dan orang tua, rumah menjadi tempat tinggal yang nyaman justru menjadi petaka. Hak dan kewajiban anak terhadap orang tua diabaikan. 

Pada saat yang sama, kapitalisme menjadikan materi sebagai sumber kebahagiaan dan tujuan hidup. Orang dapat melakukan apa saja demi materi, termasuk anak mencuri harta orang tuanya dan mengabaikan urusannya. Hal ini diperparah dengan sistem pendidikan sekuler yang diterapkan, tidak mampu menghasilkan semua anak menjadi baik dan memahami kewajiban birrul walidain. 

Hubungan antara anak dan orang tua hanya dilandasi kemanfaatan saja. Akibatnya, jika anak merasa orang tua sudah tidak memberikan manfaat, tidak berguna, bahkan dianggap menghalangi mereka untuk mencapai ambisi materi, maka menghilangkan nyawanya dianggap lumrah. 

Sungguh miris, jika malin kundang dalam legenda durhaka dengan tidak mengakui ibunya, malin kundang zilenial jauh lebih parah. Mereka berani durhaka hingga menghilangkan nyawa orang tua. Inilah potret generasi yang lahir dalam tatanan kehidupan sekularisme, memisahkan aturan agama dari kehidupan. 

Sistem Islam Melahirkan Anak-anak Bertakwa

Kisah Uwais Al Qarni memberikan gambaran bagaimana Islam mendidik anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ia tak kenal lelah dalam merawat ibunya yang lumpuh serta menderita kusta. Ia juga mengabulkan permintaan ibunya untuk berhaji dengan menggendongnya berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah. Ketegarannya tersebut menjadi kisah mulia bagi anak dan ibu semasa zaman Rasulullah SAW. 

Begitulah ketika sistem Islam diterapkan mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia. Islam mengajarkan kewajiban anak hormat kepada orang tua dan melarang keras bersikap durhaka. Rasulullah SAW bersabda, “Dosa besar yaitu menyekutukan Allah dan durhaka pada orang tua.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi). 

Allah SWT juga menjelaskan bagaimana seharusnya akhlak anak kepada orang tuanya. Berkata _”Uff”_ (membentak orang tua) saja tidak boleh, apalagi sampai memukul hingga membunuh._”Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra : 23)_

Islam memiliki mekanisme dalam mewujudkan anak-anak yang bertakwa. Melalui pendidikan Islam, generasi dididik berdasarkan akidah Islam. Selain itu, keluarga juga memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anaknya di dalam rumah. Sehingga terbentuk suasana penuh kasih sayang dan ketakwaan. 

Masyarakat juga turut andil dalam aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar. Jika masih terjadi tindak kejahatan, maka Islam memiliki sanksi tegas yang memberikan efek jera. Mekanisme ini dapat ditempuh ketika negara menerapkan syariat Islam secara total. Wallahu a’lam bishoswab.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *