Begal Merajalela Bikin Panik Warga

Bagikan Artikel ini

Banyak faktor pemicu terjadinya pembegalan saat ini, himpitan ekonomi, mahalnya semua kebutuhan sedangkan lapangan kerja minim, sehingga beban rakyat semakin berat


Oleh: Lielie Herny

WacanaMuslim-BolinggoRawanBegal, tagar ini beberapa hari berseliweran di dunia medsos terutama di Facebook. Bukan tanpa alasan warga net memviralkan tagar ini, karena memang beberapa pekan terakhir warga dibuat resah dengan maraknya kasus pembegalan. Bahkan bukan hanya terjadi di daerah sepi yang memang rawan, tetapi di perkampungan pun terjadi berulang.

Seperti yang dilansir dari media Radar Bromo pada 23-4-2025. Pembegalan beruntun terjadi di Probolinggo, kamis (17-04-2025) di Leces, seorang ibu muda dirampok sepedanya, tangannyapun dibacok pula. Sabtu (19-04-2025) malam, giliran warga Desa Puspon Kecamatan Maron dibegal di Desa Selogudig Kulon Kecamatan Pajarakan, korban bersama istri dan anaknya merelakan motornya digondol begal. Minggu (20-04-2025) malam, kawanan begal bereaksi kembali di Desa Brani Wetan Kecamatan Maron, mereka membegal seorang perempuan yang baru pulang kerja, Honda Vario miliknya raib.

Hidup dalam Sistem Kapitalisme

Keamanan saat ini seolah menjadi sesuatu yang langka. Tak cuma terhadap harta, bahkan nyawa pun menjadi sesuatu yang dipertaruhkan. Begal tak segan untuk melakukan penganiayaan bahkan pembunuhan terhadap korbannya.

Banyak faktor pemicu terjadinya pembegalan saat ini, himpitan ekonomi, mahalnya semua kebutuhan, baik itu pendidikan, kesehatan dll, sedangkan lapangan kerja minim, sehingga beban rakyat semakin berat dan menghimpit. Negara berlepas tangan dalam mengayomi rakyatnya. Rakyat dibiarkan menanggung beban hidup yang semakin sulit. Negara hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kroni-kroninya. Itulah akibat dari sistem ekonomi Kapitalisme.

Maraknya pembegalan juga karena minimnya pendidikan yang berakidah Islam, sehingga melemahkan keimanan dan memudahkan seseorang untuk melakukan kriminalitas (pembegalan) tanpa memikirkan halal dan haram, apakah melukai dan menghilangkan nyawa orang lain. Semua itu terjadi akibat sistim pendidikan sekularisme kapitalis yang menjauhkan nilai-nilai dari ajaran Islam. Islam dipelajari hanya sebatas hubungan manusia dengan penciptanya saja, tapi tidak boleh dipelajari sebagai sistem kehidupan agar bisa diterapkan dalam kehidupan.

Begitupula sanksi yang diterapkan tidak bisa menjerakan, bahkan didalam penjarapun mereka masih aktif berkomunikasi dan berbagi informasi tentang lokasi yang dianggap aman untuk bereaksi kembali. Mereka punya jaringan yang terus aktif.

BACA JUGA : Teror Batu Bukti Lemahnya Jaminan Keamanan

Hidup didalam Islam

Bebeda dengan isalm, negara sebagai pelayan (Ra’in) dan pelindung (Junnah) rakyat, maka negara akan membuka lapangan kerja seluas -luasnya, menstabilkan harga, menggratiskan pendidikan, kesehatan dll. Sehingga Rakyat hidup sejahtera.

Negara juga akan memberikan pendidikan yang berbasis dasar Islam. Dengan pendidikan Islam maka akan membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Dengan begitu akan membentuk pribadi-pribadi yang takut bila melakukan perbuatan yang melanggar syariat islam. Dengan pendidikan Islam akan terbentuk benteng dalam diri setiap individu yang membentenginya dari perbuatan maksiat.

Negara akan menutup rapat -rapat akses komunikasi dan informasi yang menjadi penyebab kemaksiatan. Jaringan kejahatan akan diberantas habis hingga ke akarnya. Sehingga pelaku tidak bisa lagi berkoordinasi merencanakan kejahatan.

Sedangkan bagi sanksi pembegal akan dihukum dengan tegas dan menjerakan yaitu, jika pembegal membunuh dan merampok harta korban ia akan dibunuh dan disalib, jika hanya membunuh saja maka hukumannya dibunuh, jika hanya merampok maka akan dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Perbuatan membegal diibaratkan sebgai perbuatan yang memerangi Allah dan Rasulnya, sebagaimana yang tercantum didalam (Qs-Al-Maidah (5) :33), “Sesungguhnya balasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasulnya dan membuat kerusakan dibumi ialah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya) yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan bagi mereka didunia dan akhirat untuk mendapat siksaan yang berat”. Hanya dengan sistim islamlah yang mampu menarapkan semua itu.
Wallahu a’lam.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *