Langkah ini menunjukkan kepedulian Indonesia terhadap Gaza, tapi sayangnya bantuan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak akan menyelesaikan akar persoalan
Oleh : Miatha (Aktivis Muslimah)
WacanaMuslim-Gaza kembali membara. Begitulah fakta keadaan Gaza saat ini pasca adanya gencatan senjata yang dilakukan tahun 2024 yang lalu. Dengan gencatan senjata, rakyat Gaza berharap kedamaian, tetapi kenyataannya berbanding terbalik. Mulai dari Januari 2025 sampai dengan sekarang, Zionis Israel melancarkan serangannya yang makin bertubi-tubi kepada rakyat Gaza. Beberapa serangan udara pada Minggu dini hari (30 Maret 2025) menghantam tenda dan rumah saat warga Palestina merayakan hari raya Idul Fitri. Demikian juga Setidaknya 35 orang tewas di kota-kota selatan Rafah dan Khan Younis (tempo.co, 15-4-25).
Palestina, khususnya jalur Gaza, telah menjadi medan perjuangan dan simbol perlawanan umat Islam atas penjajahan paling lama yang tak kunjung berakhir. Media kerap kali menyebutnya sebagai “konflik Israel-Palestina,” seolah-olah dua pihak ini memiliki posisi setara dan hanya berselisih paham. Padahal kenyataannya, ini adalah penjajahan terang-terangan oleh entitas Zionis terhadap tanah air rakyat Palestina sekaligus tanah suci umat Islam. Tanah mereka direbut, rumah mereka dihancurkan, bahkan sejarah dan identitas mereka dihapuskan agar dunia tak mengenal bahwa di dunia ada wilayah bernama Palestina.
Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade telah menempatkan Palestina dalam posisi yang makin terjepit dan sulit. Masyarakat internasional, termasuk Indonesia, telah menunjukkan solidaritas melalui bantuan kemanusiaan dan penerimaan pengungsi. Akan tetapi, Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan kemanusiaan atau simpati dari dunia, tetapi yang lebih penting adalah kebebasan dan kedaulatan atas tanah air mereka.
Bantuan Kemanusiaan Bersifat Sementara
Pada April 2025, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan kesiapan negara untuk menampung sekitar 1.000 pengungsi Palestina yang terdampak konflik di Gaza. Rencana ini mencakup evakuasi anak-anak yatim piatu dan individu yang terluka atau trauma akibat perang (beritasatu.com, 15-4-25).
Meskipun langkah ini menunjukkan kepedulian Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina, bantuan tersebut bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahan. Pengungsian bukanlah solusi permanen. Rakyat Palestina tidak hanya membutuhkan tempat untuk berteduh, tetapi juga hak untuk hidup dalam kedamaian dan kedaulatan di tanah air mereka.
Sejak serangan entitas Zionis besar-besaran dimulai pada Oktober 2023, bantuan kemanusiaan memang kerap berdatangan. Akan tetapi hingga kini, serangan Israel tidak berhenti. Bahkan, warga yang menerima bantuan pun tetap hidup dalam ketakutan, tanpa jaminan keselamatan dan masa depan.
BACA JUGA : Palestina Butuh Kepemimpinan Islam
Bukan Simpati Tapi Solusi Hakiki
Sudah terlalu lama umat Islam hanya menanggapi krisis Palestina dengan simpati dan bantuan kemanusiaan. Kini saatnya umat Islam dunia menyadari bahwa krisis Palestina bukan hanya masalah kemanusiaan, tapi juga masalah ideologis dan politik. Sejarah membuktikan bahwa tanah suci hanya bisa dibebaskan dengan kekuatan yang sah dan terorganisir, yakni jihad fi sabilillah di bawah kepemimpinan yang menyatukan umat Islam secara global, yaitu khilafah.
Jihad bukan sekadar perang fisik, tetapi upaya total dalam membela kehormatan dan tanah suci umat Islam. Jihad merupakan bentuk tertinggi dari cinta terhadap sesama Muslim dan bukti nyata kepatuhan kepada perintah Allah Swt.
Sementara itu, khilafah adalah sistem kepemimpinan tunggal umat Islam yang mampu menyatukan kekuatan politik, militer, dan ekonomi dunia Islam. Hanya dengan kekuatan seperti ini, pembelaan terhadap Palestina bisa dilakukan secara nyata dan terarah.
Sudah cukup umat Islam terjebak dalam narasi palsu perdamaian yang dibuat oleh Zionis dan sekutunya. Sudah cukup umat Islam hanya menjadi penonton tanpa berbuat apa-apa. Sudah cukup umat Islam yang hanya mampu menengadahkan tangan tanpa pernah menggerakkan kaki. Sudah waktunya kita bersatu dalam satu barisan perjuangan. Palestina tak akan bebas dengan air mata, tapi dengan kekuasaan dan kekuatan umat Islam di bawah satu kepemimpinan global, yaitu Khilafah Islamiyah.
Palestina bukan sekadar membutuhkan atap untuk berlindung, tetapi langit yang bebas untuk bernapas, dan tanah yang bisa mereka pijak dengan martabat sebagai bagian dari kaum muslimin yang merdeka dan berdaulat bersama syariat dari Allah Swt. Sistem kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah akan menjadi solusi atas penjajahan Palestina.
Jangan lupakan Gaza, jangan biarkan Palestina hanya menjadi topik musiman. Kaum muslimin mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai umat Muslim dan sebagai hamba Allah SWT, ketika setiap pilihan yang kita ambil akan dihisab di akhirat kelak. Palestina tak hanya butuh simpati, Palestina butuh kebebasan, dan hanya Islam yang mampu memberikan solusi, yaitu dengan jihad dan Khilafah.
Allah Swt. berfirman “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).
Wallahualam bisawab.[] Sumber Foto : Canva

