Evakuasi Rakyat Gaza, Untuk Siapa ?

Bagikan Artikel ini

Pernyataan Presiden bahwa Indonesia siap menampung ribuan warga Gaza justru akan memuluskan agenda pengusiran warga Gaza seperti yang diinginkan oleh penjajah.


Oleh: Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)

WacanaMuslim-Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia siap menampung ribuan warga Gaza, Palestina justru menimbulkan masalah, karena sesungguhnya justru memuluskan agenda pengusiran warga Gaza seperti yang diinginkan oleh penjajah. Pengamat menganggap wacana itu justru menimbulkan blunder yang bisa memicu protes dari dalam dan luar negeri. Pengamat isu geopolitik Timur Tengah, Smith Alhadar, menyebut Prabowo harus mewaspadai protes dari dalam negeri. Alasannya, rencana kontroversial ini muncul ketika masyarakat Indonesia sedang resah dengan berbagai masalah ekonomi dan politik.(BBCNewsIndonesia,11-4-2025)

Pernyataan ini justru kontra produktif dengan seruan jihad yang disuarakan oleh banyak pihak hari ini – yang menyadari bahwa tidak ada solusi hakiki selain jihad melihat berbagai Upaya yang dilakukan nyatanya tidak menghentikan penjajahan dan genosida. Evakuasi rakyat Gaza jelas makin menjauhkan dari solusi hakiki, karena sejatinya Zionislah yang melakukan pendudukan bahkan perampasan wilayah. Sudah seharusnya Zionis yang diusir dari tanah Palestina dan bukannya warga Gaza yang dievakuasi. Di sisi lain, evakuasi tersebut bisa jadi merupakan bentuk tekanan AS terhadap Indonesia atas kebijakan baru AS menaikkan tarif impor. Keberhasilan upaya Indonesia dalam melakukan negosiasi atas kebijakan tersebut bisa jadi akan digunakan alat untuk menekan Indonesia agar melakukan evakuasi warga Gaza. Inilah buah simalakama bagi negeri yang tergantung pada negara lain.

Pemimpin negeri muslim seharusnya menyambut seruan jihad. Namun hari ini, nasionalisme dan prinsip tak boleh ikut campur urusan negara menjadi penghalang menyambut seruan jihad. Sikap ini menunjukkan pengkhianatan pemimpin negeri muslim. Negeri Muslim seharusnya menjadi negara adidaya yang memimpin dunia. Khilafah sebagai negara adidaya akan menerapkan syariat Islam sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam dan membela setiap muslim. Sayangnya hari ini Khilafah belum tegak, nasib umat islam pun makin sengsara.

Umat Islam di seluruh dunia menyadari bahwa para pemimpin muslim ini hanya menjadi “boneka” kekuatan kolonial asing. Dengan kesadaran ini, umat Islam dapat bersatu dalam memperjuangkan perubahan, menggantikan para pemimpin ini dengan para pemimpin muslim yang saleh dan takut kepada Allah Taala, mencintai sesama muslim, dan bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk membela saudara-saudari mereka yang tertindas dan terjajah,

Umat harus terus didorong untuk menolak evakuasi warga Palestina. juga menyeru penguasa untuk mengirimkan tentara demi membela saudaranya muslim Palestina. Pada saat yang sama, Umat juga makin kuat berjuang untuk menegakkan Khilafah. Karena hanya jihad dan tegaknya Khilafah solusi hakiki membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah. Gerakan umat ini membutuhkan kepemimpinan partai islam ideologis agar tetap berada di jalur perjuangan yang benar sehingga memberikan pengaruh besar dalam mendorong penguasa negeri muslim untuk mengirimkan tentara untuk berjihad dan tegaknya Khilafah. Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullaahu, seorang mujtahid mutlak sekaligus ulama mukhlis pengasas gerakan Khilafah abad ini pernah memberi nasihat, “Para pengemban dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang dibebankan Allah di pundak mereka. Hendaknya mereka melakukannya dengan gembira dan mengharapkan rida Allah Taala.”

Walhasil, seruan jihad ini hanya akan menjadi sekadar seruan, manakala tidak didukung oleh kekuatan yang seimbang. Bahkan seruan seperti ini pada akhirnya akan menjadi bumerang karena bisa digunakan kekuatan musuh untuk kian memonsterisasi Islam. Hal ini mengingat mereka telah berhasil mengaruskan berbagai narasi sesat seperti HAM, perdamaian dunia, dan sejenisnya. Artinya, jika tidak dibarengi edukasi yang benar, dampak seruan ini akan menguatkan tudingan bahwa Islam memang mengajarkan kekerasan. Oleh karenanya, umat semestinya juga dipahamkan bahwa menolong dan membebaskan Palestina, khususnya Gaza, butuh kekuatan yang sepadan.

BACA JUGA : Negara Dan Tentara Untuk Selamatkan Gaza

Kekuatan itu adalah kehadiran sebuah negara adidaya yang dibangun di atas kesadaran ideologis umat tentang kewajiban menerapkan seluruh syariat Islam dan kemestian mereka bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam. Dengan kata lain, upaya membebaskan Palestina dengan jihad sejatinya butuh komando seorang pemimpin yang kekuasaannya merepresentasi Islam dan umat Islam di seluruh dunia. Kepemimpinan inilah yang akan mampu memobilisasi semua potensi umat, termasuk tentara dan senjata yang tersebar di berbagai wilayah dan mengerahkannya untuk segera mengusir penjajah dan membungkam kekuatan sekutunya dari bumi Palestina.

Hanya saja isu tentang kepemimpinan Islam atau Khilafah saat ini belum menjadi opini umum di tengah mayoritas umat, melainkan baru sekadar wacana di tengah berbagai fitnah dan upaya-upaya yang dilakukan Barat untuk menghalangi penegakannya. Padahal, Khilafah Islam hanya bisa tegak jika ada dukungan mayoritas umat dan para pemilik kekuatan sebagai buah dari proses dakwah. Di samping itu, umat pun benar-benar harus disadarkan bahwa mereka sejatinya adalah pemilik hakiki kekuasaan. Merekalah yang bisa memberikan sekaligus mencerabut kekuasaan dari para pemimpin mereka saat ini. Mereka pula yang semestinya bisa memaksa para penguasa agar mau melakukan apa yang mereka inginkan, termasuk mengerahkan kekuatan senjata untuk menolong Gaza Palestina. Ketika mereka tidak mau, bahkan berdiri di pihak musuh, berarti mereka tidak berhak memegang jabatan kepemimpinan.
Itulah sebabnya, umat Islam pun wajib terlibat dalam upaya penegakan Khilafah. Bahkan mereka harus paham, bahwa agenda penegakkan Khilafah sejatinya menyangkut hidup matinya umat, tidak hanya untuk problem Palestina. Fakta kehidupan umat Islam di dunia di bawah kepemimpinan peradaban sekuler kapitalisme hari ini nyata-nyata begitu rusak, diliputi berbagai krisis, terpecah-belah, dan terjajah.

Sudah saatnya mereka berubah dengan jalan mewujudkan kembali kehidupan Islam. Apalagi jika mengingat, umat Islam telah diberi predikat sebagai khaira ummah dan selama belasan abad telah berhasil membuktikannya. Di bawah peradaban Islam, yakni Khilafah, potret kehidupan umat selama belasan abad begitu cemerlang. Khilafah juga mampu tampil sebagai mercusuar peradaban dan menjadi kekuatan besar yang membuat nyali musuh ciut di hadapannya. Kekuatan militer Khilafah dengan spirit jihad yang merasuk di tengah para tentaranya, bahkan kaum muslim seluruhnya, selalu menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya, baik masa perang maupun masa damai. Wallahu a’lam bisshowab.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *