Bila kita cermati instabilitas ekonomi, pendidikan, politik, sosial, hingga isu lingkungan adalah niscaya dalam penerapan sistem kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Oleh. Rahmi Ummu Atsilah
WacanaMuslim-Sungguh mengkhawatirkan kecenderungan doom spending yang menggejala saat ini. Kecenderungan memperturutkan nafsu belanja yang tidak terkendali dan berlebihan, akibat gejolak emosi yang dihadapi. Hal ini melanda generasi milleneal dan Gen Z atau Zilenial. Generasi yang sejatinya merupakan harapan terbesar bangsa Indonesia di masa yang akan datang.
Zilenial ini terpengaruh iklan yang sengaja menarget mereka dengan produk sekunder yang tidak penting. Cenderung tergoda dengan barang-barang hanya karena terlihat lucu dan menarik. (detik.com, 1-10-2024).
Mereka terjebak dalam kamuflase self reward yang salah dan dikhawatirkan akan memberikan dampak stress baru, terutama jika pengeluaran tak direncanakan dengan baik. Masyarakat umum pun dianggap perlu mengatur perilaku komsumtif. Karena perilaku belanja impulsif, yang digunakan sebagai cara mencari kesenangan atau pengalihan dari frustasi dan stres, masih sering ditemui pada rata-rata orang Indonesia. (nu.or.id, 11 Oktober 2024)
Aliffia Safira Ayu Ditta, Kaprodi D3 Manajemen Pajak, Fakultas Ekonomi dan bisnis , Universitas PGRI Madiun menyampaikan, fenomena doom spending sebagai pereda stres sementara masalah ekonomi, politik, dan pendidikan. Selain itu juga dipengaruhi oleh rasa takut ketinggalan (FOMO) yang sering kali muncul akibat pengaruh media sosial. Mereka cenderung mengikuti teman dan influencer dengan menghabiskan uang untuk tren terbaru. Sehingga mereka lebih merasa terhubung dan terbebas dari kecemasan. (Rri.co.id 31-10-2024)
Dari laman Sky News, sebuah studi menemukan 43 persen generasi milenial dan 35 persen dari gen Z menghabiskan uang mereka untuk membuat diri mereka lebih baik. Mereka mengeluhkan masa depan keuangan dan merasa terjebak dalam situasi tak menentu. Mereka kemudian mencari pelarian dengan berbelanja tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan. (kompas.com, 30-09-2024)
Para ahli mendorong para zilenial lebih bijak dalam memilih cara mengatasi stres, seperti investasi kesehatan mental atau dengan menjalankan hobi baru. Diharapkan pula dengan pemahaman yang mendalam tentang doom spending ini zilenial bisa mengambil langkah menuju kebiasaan belanja yang sehat dan berkelanjutan dengan tidak menghamburkan banyak uang. (Rri.co.id, 28-10-2024)
Keberkahan Membelanjakan Harta di Jalan Allah Swt.
Banyak orang merasa bahwa rezekinya adalah karena kerja kerasnya. Dengan akidah Islam yang mendalam, kita akan menemukan bahwa rezeki benar-benar pemberian dari Allah Swt. baik itu dengan sebuah usaha yang dilakukan ataupun tanpa usaha. Meyakini itu semua adalah perintah dari Allah Swt. Hal ini telah banyak disampaikan dalam ayat Al-Quran. Dalam QS. Thaha ayat 132 Allah Swt. berfirman yang artinya:
“Kami (Allah) tidak meminta rezeki kepada engkau, kamilah yang memberi engkau rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
Sekalipun mengimani rezeki datangnya dari Allah Swt. namun, seorang mukmin tidak akan memilih berdiam diri. Karena Allah Swt. juga memerintahkannya untuk bekerja. Sesuai dimensi manusiawinya dan hukum sebab akibat yang ada. Orang mukmin akan melaksanakan perintah mengimani rezeki adalah pemberian dari Allah Swt. dan perintah bekerja sebagai jalan datangnya rezeki. Sebagaimana dalam QS. Al Jumu’ah ayat 10 yang artinya:
“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
Ketika tertanam dalam keyakinan kita bahwa rezeki adalah dari Allah Swt. maka sudah sepantasnya kita mempergunakannya sesuai pula dengan apa yang Allah Swt. perintahkan. Diantaranya menentukan prioritas dalam pengeluaran. Memenuhi apa yang menjadi kewajiban sebagaimana pemenuhan kebutuhan pokok dalam keluarga, membayar zakat, dan sebagainya.
Seorang mukmin juga tidak diperbolehkan untuk bersikap tabzir (mubazir), menghabiskan harta hanya untuk barang-barang yang diharamkan oleh Allah Swt.. Menyederhanakan penampilan juga merupakan sikap seorang mukmin. Tidak terpengaruh oleh trend supaya populer. Mereka akan membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan, serta menjauhi hutang. Tidak latah dengan trend FOMO bila itu menyesatkan dan membawa pada kesengsaraan.
Selain itu, kaum muslimin akan lebih banyak bersedekah yang disunnahkan. Daripada menghambur-hamburkan uang untuk hal yang mubah. Mereka memiliki motivasi keimanan yang kuat dalam dirinya, bahwa Allah Swt. akan memberikan balasan dan pahala yang besar bagi setiap harta yang dibelanjakan di jalan Allah Swt.. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 18, yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.”
Menghadapi Kecemasan Tanpa Timbul Masalah
Kesehatan mental yang semula lebih banyak dialami oleh orang orang tua, saat ini juga melanda remaja. Remaja saat ini bersentuhan dengan kabar berita yang mudah sekali diakses lewat media sosia. Hal ini menimbulkan kecemasan dan menjadi beban berat baginya. Suatu keadaan yang muncul dari perasaan, sebenarnya itu dikendalikan oleh pemikiran. Namun, juga bisa berdampak bagi kesehatan fisik. Tidak heran bila orang-orang yang mengalami kecemasan fisik kadangkala merasakan pusing, sakit perut, jantung berdebar dan sebagainya.
Untuk mengatasi emosi yang timbul akibat perasaan ini, dibutuhkan pemikiran cemerlang yang bisa mengendalikan. Pemikiran yang melahirkan keyakinan bahwa apa menimpa dan menguasai manusia adalah qada atau ketetapan dari Allah Swt.. Baik dan buruknya dari Allah Swt. serta tidak dimintai pertanggung jawaban atasnya. Maka hal tersebut tidak perlu dicemaskan. Berbeda dengan perbuatan atau keadaan di mana kita mempunyai kuasa untuk memilih. Maka semua haruslah terikat dengan aturan Islam.
Perbuatan yang terpuji adalah perbuatan yang terpuji menurut Islam. Baik buruknya perbuatan adalah bagaimana Islam memandang.Dengan demikian, seorang mukmin tidak akan bertindak gegabah melanggar aturan Islam, hanya karena merasa cemas ataupun senang dengan keadaan. Seorang mukmin menyadari bahwa sekecil apapun perbuatan pasti akan dimintai pertanggung jawaban.
Bila kita cermati instabilitas ekonomi, pendidikan, politik, sosial, hingga isu lingkungan adalah niscaya dalam penerapan sistem kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Ekonomi kapitalisme meniscayakan cengkraman ekonomi berada di tangan para kapital. Biaya pajak yang semakin tinggi, Sekolah dan rumah sakit semakin mahal.
Sementara pekerjaan semakin sulit dan PHK terjadi di berbagai lini. Politik dinasti semakin menjadi-jadi. Demikian juga politik balas budi sudah tradisi. Kenakalan remaja merajalela di luar nalar. Semua adalah sekelumit akibat penerapan sistem demokrasi kapitalisme sekuler.
Sistem demokrasi sekuler sejatinya sistem rusak yang merusak. Hasil pemikiran manusia yang terbatas. Mempertahankannya sama saja menjerumuskan diri menuju kesengsaraan. Jadi wajar jika timbul banyak keresahan dan kecemasan, yang jika tidak dilandasi keimanan, akan timbul pelampiasan dengan cara yang tak sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Berbeda dengan sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. Sang Khalik dan Mudabbir. Sistem yang berlandaskan kepada akidah Islam. Hukum Islam diterapkan di tengah-tengah masyarakat, sehingga mampu membentuk kesadaran individu maupun kesadaran kelompok yang membuat mereka disiplin menjalankan syariat. Karena, pelanggaran sekecil apapun berarti dosa atau maksiat.
Dengan penerapan syariat Islam secara sempurna dalam kehidupan, masyarakat akan terjaga. Garis keturunan terpelihara karena adanya sistem pergaulan Islam. Akal sehat terpelihara dengan adanya perintah mengonsumsi makanan yang halal lagi baik. Kehormatan dan kemuliaan terjaga dengan larangan tajassus, khalwat, ikhtilat, ghibah, dan saksi palsu.
Demikian juga dengan pemeliharaan jiwa manusia, dengan sanksi keras atas pembunuhan. Pemeliharaan atas harta dengan sanksi berat bagi pelanggaran atas harta orang lain, mengharamkan israf atau mengeluarkan harta pada jalan haram. Dalam sistem Islam ini pula agama seseorang terpelihara. Karena tidak ada paksaan dalam beragama. Namun, bagi muslim yang murtad akan dibunuh ketika tidak mau kembali ke agama Islam selama tiga hari.
Dalam naungan sistem Islam yakni khilafah islamiyah juga ada pemeliharaan atas keamanan. Terdapat hukuman bagi para pembegal, dan menetapkan hukuman dan menghentikan siapa saja yang memiliki pikiran untuk mengganggu keamanan wilayah negara. Di samping ada pula pemeliharaan atas negara. Negara khilafah adalah representasi dari umat Islam untuk menerapkan aturan Islam. Menentangnya berarti menentang Allah Swt. dan umat Islam. Sehingga berhak atas sanksi bagi para pelaku bughat. Wallahu a’lam bisshawab.[]
Sumber Foto : Canva


Rezeki (berupa harta) yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan akan di hisab kelak di Yaumil akhir. Sejati orang2 beriman akan berpikir membelanjakan harta hanya untuk kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan tersier saat diperlukan untuk kemudahan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Berbeda dalam sistem kapitalisme, masyarakat di Landa belanja yg berlebihan, sampai2 mengoleksi barang2 yang tidak di perlukan, hanya sebatas gaya hidup. Saatnya umat Islam kembali kepada Islam Kaffah. Allahuakbar