Seharusnya yang bertanggung jawab atas pendidikan bagi seluruh masyarakat adalah pemerintah karena semua kebutuhan pasilitas pendidikan mulai dari tempat, pembangunan, kurikulum, pendidik, semua itu adalah tanggung jawab pemerintah.
Oleh Teti Ummu Azka
Aktivis Muslimah
WacanaMuslim-Beberapa waktu lalu, tepatnya Senin (29-9-2025), gedung pondok pesantren Al Khoziny. Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk pada saat para santri tengah melaksanakan salat Ashar. Akibat ambruknya ponpes tersebut ada sekitar 160 santri yang tertimpa runtuhan bangunan, diantaranya sebanyak 67 santri meninggal dunia. Menurut perkiraan, jumlah orang yang berada di dalam gedung ponpes pada saat itu tidak sesuai dengan kapasitas bangunannya. Sehingga mengakibatkan ambruknya gedung tersebut dan memakan banyak korban. Hal ini terjadi karena lalai dan buruknya pengawasan pemerintah terhadap lembaga pendidikan.
Dikutip dari Kompas TV, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, bahwa pemerintah akan mengevakuasi ponpes baru jika di temui risiko yang membayakan. Ia juga menjelaskan sebagian besar ponpes mencari dana secara mandiri dengan sedikit bantuan anggaran dari pemerintah, selain itu ia juga menyoroti kesulitan anggaran yang berimbas pada pengelolaan di tengah minat besar masyarakat belajar ke pesantren. Kini, pemerintah mewajibkan pengelola ponpes untuk membenahi izin pembangunan dan mengantongi Persetujuan Pembangunan Gedung ( PPG). Begitu juga
Menteri Pekerjaan Umum (MPU) Doni Hanggono, menjamin pengurusan perizinan bangunan bebas biaya. Ia pun memastikan tim kementerian PU akan aktif mendatangi ponpes jika membutuhkan konsultasi perizinan pembangunan.
Seharusnya yang bertanggung jawab atas pendidikan bagi seluruh masyarakat adalah pemerintah karena semua kebutuhan pasilitas pendidikan mulai dari tempat, pembangunan, kurikulum, pendidik, semua itu adalah tanggung jawab pemerintah. Dan untuk pelaksanaannya tidak sembarangan. tetapi harus diserahkan pada ahlinya. Pada faktanya pemerintah hari ini terkesan lepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai pengurus rakyat.
Di samping itu, karena ketidakpuasan dengan pasilitas pendidikan yang ada, akhirnya banyak diantara masyarakat yang mendirikan lembaga-lembaga pendidikan mandiri. Padahal ini bukanlah bagian dari kewajiban masyarakat.
Berkaitan dengan biaya, seharusnya di tanggung oleh pemerintah dan tidak di bebankan kepada masyarakat ataupun para donatur yang kemungkinan terbatas. Jika hanya hanya mengandalkan dari situ saja otomatis pelaksanaan pembangunannya pun akan terbatas karena menyesuaikan dana yang ada. Hal inilah yang menyebabkan kualitas pembangunan tidak terjamin. Dengan adanya
pasilitas pendidikan yang di bangun oleh masyarakat, seakan pemerintah lepas tanggung jawabnya.
Jika kita amati pernyataan dari Nasaruddin Umar dan Dodi Hanggono, persoalan ini bukan hanya masalah ponpes saja, tetapi seluruh lembaga pendidikan harus benar-benar memperhatikan proses pembangunan dari awal sampai akhir terkait keamanannya. Jadi tidak menunggu hal buruk terlebih dahulu terjadi untuk mengatasinya. Selain itu, bukan hanya masalah perizinan yang harus di benahi atau diberikan biaya gratis untuk perizinan, tetapi pemerintahlah yang seharusnya berinisiatif dalam membangun sekolah-sekolah yang berkualitas dan terjamin keselamatannya sehingga pelajar bisa fokus dalam belajar. Di samping itu, pembiayaannya pun menjadi tanggung jawab pemerintah yang bersumber dari APBN, salah satunya dari SDA yang dikelola mandiri oleh pemerintah.
Namun saat ini, SDA yang seharusnya menjadi sumber pemasukan kas negara di serahkan kepada asing dan pemilik modal. Alhasil rakyat yang menjadi tumbal, pemasukan bagi negara kapitalisme ditarik dari masyarakat berupa pajak yang jumlahnya mencekik. Inilah fakta sistem hari ini yang lahir dari pemisahan agama dari kehidupan. Agama tidak boleh turut campur mengatur kehidupan. Maka hak membuat aturan ada ditangan manusia. Ketika hukum diserahkan pada manusia, maka siapapun yang berkuasa dan memiliki cuan, maka dia yang berhak menentukan aturan sesuai kepentingannya.
Demikian juga yang terjadi pada sistem pendidikan hari ini, negara abai dalam pemenuhan infrastruktur pendidikan. Hal ini menyebabkan lembaga pendidikan membiayai Pembangunannya secara mandiri. Pembangunan pun dilakukan secara bertahap dan jarang sekali yang melibatkan tenaga arsitek akibat minimnya dana. Ambruknya ponpes Al Khoziny menjadi bukti lalainya dan tidak seriusnya pemerintah dalam melayani rakyatnya.
Hal ini berbeda dengan sisem pemerintahan dalam Islam yang memiliki pengaturan terstruktur sehingga mampu menjadikan umatnya betul-betul sejahtera dibawah pengawasan yang dipimpin oleh seorang khalifah yang amanah, termasuk dalam masalah pendidikan.
Negara Islam benar-benar memperhatikan berbagai sarana pendidikan. oleh karena itu Islam mewajibkan setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Bahkan seluruh warganya mendapatkan pasilitas pendidikan yang sama secara gratis baik miskin maupun kaya. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat baik akidah ataupun hukum. Sehingga melahirkan generasi-generasi berkualitas.
Berkaitan dengan pembangunan infrastruktur sekolah, negara akan melibatkan para ahli konstruksi agar menghasilkan bangunan tidak hanya megah, tetapi yang kokoh dan kuat. Dengan demikian rakyatnya pun bisa merasakan kenyamanan dan keamanan, serta kesehatan dalam proses belajar mengajar. Sarana pendidikan seperti perpustakaan dengan buku-buku penunjangnya yang lengkap, sarana olahraga untuk para peserta didik, bahkan dibangun tempat belajar dengan taman yang indah untuk tempat diskusi para pelajar.
Infrastruktur pendidikan yang kokoh, lengkap, dan terbaik hanya bisa diwujudkan oleh sistem khilafah dengan dukungan sistem ekonomi Islam. Sumber daya alam yang berlimpah dikelola sesuai syariat Islam, sehingga negara memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk membangun infrastruktur pendidikan yang berkualitas. Penguasa akan hadir sebagai raa’in yang akan mengatur dan mengurus rakyat sesuai yang dikehendaki Islam. Oleh sebab itu pendidikan yang baik dan benar serta kenyamanan dan keamanan hanya akan di dapatkan di dalam sistem Islam. Allahu’alam bishshowwab.[] Sumber Foto : Canva

