Jika tahun 2025 ini merupakan awal dari babak baru, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab besar untuk menghentikan siklus empat dekade yang dipenuhi dengan kekerasan dan penderitaan.
Oleh: Siti Nuraisah
Gencatan Senjata 2025 Israel-Palestina
Gencatan senjata yang disepakati oleh Hamas dan Israel di tahun 2025 ini telah menyalakan harapan akan perdamaian di Timur Tengah. Namun apakah ini merupakan dari babak baru yang menandai berakhirnya siklus kekerasan, ataukah justru sejarah akan mengulang pola lama yang terjadi pada setiap generasi?
Kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar mulai berlaku sejak jum’at 10 oktober 2025 setelah kedua belah pihak menyetujui tahap pertama dari 20 poin rencana perdamaian. Rangkaian kesepakatan tersebut mencakup:
- gencatan senjata
- pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina
- penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza.
Meskipun demikian, masalah penting seperti penarikan sepenuhnya Israel, pembongkaran senjata Hamas, dan cara menjamin perdamaian yang berkelanjutan masih perlu diperbincangkan dalam sesi negosiasi yang akan datang (Metro TV News, 14 oktober 2025). Sebagaimana yang terjadi dengan banyaknya kesepakatan yang telah ada, nasib perjanjian ini sangatlah bergantung pada keinginan politik serta niat yang kuat dari kedua belah pihak. Dua aspek yang kerap kali tidak stabil dalam sejarah kawasan Timur Tengah.
Siklus 40 Tahun dalam Sejarah Konflik Israel-Palestina
Bila melihat ke belakang, sejarah panjang konflik Israel-Palestina ini menunjukan pada pola berulang dari konflik hingga peristiwa penting yang terjadi setiap empat puluh tahun antara kedua belah pihak. Salah satu rujukan yang kerap kali dikaitkan dengan konsep ini ialah pernyataan dari Pendiri Hamas, Syekh Ahmad Yassin, mengungkapkan bahwa terdapat siklus konflik yang telah berlangsung selama 40 tahun antara Hamas dan Israel. Ia mempresiksi bahwa Israel akan menghadapi keruntuhan pada tahun 2027, yang bertepatan dengan 80 tahun sejak pendirian negara Israel antara tahun 1947 dan 1948.
Dari pandangan tersebut, empat puluh tahun awal dipandang sebagai masa keemasan bagi Israel, sedangkan empat puluh tahun selanjutnya dianggap sebagai waktu yang dipenuhi dengan berbagai kesulitan bagi keberlangsungan bangsa Israel, dengan ancaman kehancuran di usia 80 tahun yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2027.
Lantas jika itu benar adanya, apakah tahun 2025 ini menjadi awal babak baru yang menandai berakhirnya siklus kekerasan?
Dalam perspektif spritual sendiri, angka empat puluh kerap kali dikaitkan dengan makna yang mendalam. Dalam tradisi Abrahamik, termasuk dalam sejarah Yahudi dan Islam. Angka ini sering kali melambangkan masa pengujian, penyucian, atau persiapan rohani. Nabi Musa a.s. menerima wahyu di Bukit Sinai selama empat puluh hari.(QS. Al-Baqarah 2:51), kemudian umat Israel berkelana di padang pasir selama empat puluh tahun sebelum memasuki Tanah Terjanji. Dalam Islam, usia empat puluh sering dimaknai sebagai puncak kematangan jiwa dan kebijaksanaan sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ yang diangkat menjadi Rasul pada usia empat puluh tahun. Dalam hal ini, siklus empat puluh tahunan bukan hanya sekedar kebetulan sejarah tetapi bisa juga dimaknai sebagai masa pembelajaran umat manusia untuk mencapai sebuah kedewasaan moral dalam menyikapi permasalahan.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an QS Al-Anfal ayat 8:61 yang artinya “Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut menekankan bahwa perdamaian bukan hanya sebuah indikasi kelemahan tetapi merupakan wujud dari iman dan keyakinan kepada Allah yang maha adil. Dalam konteks ini, gencatan senjata pada tahun 2025 dapat dipahami bukan hanya sekadar sebagai aksi politik saja, melainkan juga sebagai tantangan moral bagi kedua negara untuk memilih jalan yang dikehendaki Allah yaitu keadilan dan penyelesaian konflik.
Pandangan Arnold Toynbee dan Ibn Khaldun tentang Siklus Sejarah
Dalam teori siklus sejarah Arnold Tonynbee dan Ibn Khaldun sama-sama menekankan betapa pentingnya kesadaran generasi. Dalam bukunya A Study Of History menegaskan bahwa peradaban manusia akan terus mengalami siklus “Challenge and Respons” ia berpendapat bahwa sebuah bangsa akan bertahan bila mampu menghadapi tantangan sejarah yang berinovatif dan beretika. Jika tidak, mereka akan terjebak dalam siklus kehancuran yang terus berulang. Dalam hal ini konflik Israel-Palestina merupakan sebuah tantangan bukan hanya soal isu politik dan batas wilayah saja, tetapi juga merupakan sebuah ujian kemanusiaan dengan sejauh mana kedua bangsa ini akan merespons penderitaan serta sejarah panjang menanggapi permusuhan dengan kesadaran penuh.
Sementara itu dalam bukunya yang berjudul Muqaddimah, Ibn Khaldun menyatakan bahwa setiap komunitas memiliki “ʿasabiyyah” (solidaritas sosial) yang mengalami kekuatan dan kelemahan dalam waktu tertentu. Saat solidaritas mulai tergantikan oleh sikap egois dan keinginan untuk membalas, maka masyarakat akan terjerumus ke dalam siklus keruntuhan.
Konflik antara Israel dan Palestina pun mencerminkan keadaan tersebut. Meskipun generasi berbeda muncul, akan tetapi bekas luka sejarah itu tetap diturunkan. Dari sinilah ajaran Islam berperan memberikan solusi yang lebih mendalam daripada sekadar negosiasi yaitu islah (rekonsiliasi) dan ʿadl (keadilan). Perdamaian yang sejati tidak berasal dari paksaan militer, tetapi dari keberanian moral untuk mengakui hak-hak yang dilanggar dan menegakkan keadilan untuk semua pihak.
Jika tahun 2025 ini merupakan awal dari babak baru, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab besar untuk menghentikan siklus empat dekade yang dipenuhi dengan kekerasan dan penderitaan. Perdamaian bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang menuju kematangan spiritual dan sosial.
Sejarah bisa saja terulang, tetapi Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11, yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Mungkin inilah arti sesungguhnya dari siklus empat puluh tahunan tersebut. Bahwa setiap generasi mendapatkan peluang untuk memahami pelajaran dari masa lalu, sehingga tidak terjebak pada kesalahan yang serupa.
Tahun 2025 ini bisa menjadi momen krusial dalam sejarah, dimana ketika umat manusia memutuskan untuk menulis ulang narasi Timur Tengah bukan dengan kekerasan dan kebencian, melainkan dengan perdamaian dan keadilan.[] Sumber Foto : Canva

