Idul Adha Dan Persatuan Umat

Bagikan Artikel ini

Haji mengajarkan persatuan, maka kita wujudkan persatuan itu tidak hanya di padang arafah, tetapi dalam umat bersatu di bawah kepemimpinan khalifah

Iis Martina

WacanaMuslim-Dilansir dari Harapanrakyat.com (27-05-2026), Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat, melaksanakan Ibadah shalat Idul Adha 1447 H bersama warga di mesjid Al-Hikmah, Desa Mekarharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar. Dedi mulyadi tiba sekitar pukul 06.12 WIB. Beliau tampak langsung berbaur di barisan depan bersama para tokoh agama, jajaran Forkopimda Kota Banjar, dan tokoh masyarakat. Pesan Gubernur Jabar idul adha di Mekarharja Banjar. Dalam momentum yang merefleksikan nilai-nilai pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, Dedi Mulyadi mengajak seluruh elemen pemerintah untuk memaknai esensi kurban secara lebih mendalam.

Dedi Mulyadi menegaskan, bahwa semangat kurban bagi seorang pemimpin adalah keberanian untuk mengorbankan mengorbankan ego pribadi, dan jabatan demi kesejahteraan masyarakat. Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa filosofi hidup manusia seutuhnya adalah menyerahkan seluruh ibadah, hidup dan mati hanya demi Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap tahun umat islam menyambut idul adha dengan semarak takbir gemuru, do’a dan syiar penyembelihan hewan kurban. Jutaan manusia memenuhi tanah suci dalam ibadah haji yang agung, sementara umat lainya melaksanakan kurban di kampung halaman masing-masing. Secara lahiriah syiar IsIam tampak hidup. Apakah idul adha hari ini masih memancarkan makna hakikinya? Ataukah ia telah tereduksi sekedar ritual tahunan yang kehilangan ruh.

Islam bukan sekedar agama ritual, tetapi sistem hidup yang menyeluruh mencangkup akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, pendidikan, hingga politik. Ketika umat memisahkan agama dari kehidupan publik dan negara, mereka terjebak dari sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) akibatnya meski ibadah dijalankan dengan khusu. Banyak aspek kehidupan tetap diatur dengan sistem yang tidak berlandaskan hukum Allah swt.

Paham kapitalisme, dan sekularisme telah membuat momentum ibadah haji, dan idul adha kehilangan makna hakikinya, sehingga sering di pahami ibadah ritual semata. Padahal ibadah haji manifestasi nyata persatu umat islam. Bayangkan jutaan umat islam dari berbagai belahan dunia beragam warna kulit, bahasa, suku dan latar belakang kebangsaan. Memakai pakaian yang sama, melakukan ritual yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan menyeru kepada Tuhan yang sama. Tidak ada di muka bumi ini sebuah pertemuan keindahan agung melampaui ibadah haji dalam persatuan manusia, di padang Arafah seorang penguasa tidak bisa dibedakan dari seorang petani.

Inilah potret ukhuwah islamiyah yang sesungguhnya. Ikatan keimanan jauh lebih kuat dan lebih mulia dari sekedar ikatan darah, bahasa, atau kebangsaan, Rosulullah saw bersabda:

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” (Mutafaq ‘alayh)

Ini adalah fondasi solidaritas umat yang sama dalam kehidupan bersama yakni merasakan penderitaan sodara seiman, penolong saat mereka dizolimi, dan berkorban demi keadilan. Namun hari ini meski umat islam dari berbagai negara kumpul di Mekah dalam do’a yang sama. Setelah pergi ke negeri masing-masing mereka tetap terpisah oleh batas negara dan kepentingan nasional, akibatnya umat sering tidak mampu berbuat banyak sodara kita di Palestina, Kasmir dan lain-lain mengalami penindasan.

Umat islam pun kehilangan kekuatan dan pengaruh dalam Konstelasi Politik Internasional. Konsep Nations step atau negara bangsa yang di paksakan kedalam tubuh umat islam pasca runtuhnya Khilafah Usmani pada tahun 1924, telah memecah belah kekuatan umat. Haji yang seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki persatuan umat. Justru berahir hanya sebagai spiritual pertemuan yang tidak meninggalkan jejak apapun dalam arsitektur politik dunia islam.

Inti idul adha adalah kisah agung Nabi Ibrahim as dan Ismail as tentang ketaatan, pengorbanan, dan kepasrahan total kepada Allah swt. Saat di perintahkan menyembelih putranya Nabi Ibrahim as tidak menolak, dan Nabi Ismail as sabar menerima perintah itu. Keduanya tunduk sebagai kehendak Allah, sebagai mana dalam alquran (Qs. Ash-shaffat:102)

Inilah kepasrahan total dan mendalam tidak ada satupun hukum Allah yang bisa di kompromikan atas nama pragmatis atau tekanan situasi.

Namun lihatlah Paradok yang terlihat saat ini, umat islam dengan semangat menyembelih hewan kurban bagian dari perintah Allah swt. Namun pada saat yang sama justru menolak atau mengabaikan syariat Allah dalam bidang ekonomi, politik, dan pemerintahan.

Mereka bersedia melaksanakan sholat, haji dan zakat, ibadah-ibadah yang bersifat ritual dan personal, tetapi mereka menolak atau merasa tidak yaman ketika berbicara tentang sistem ekonomi islam yang melarang riba, sistem pidana islam yang menegakan hudud, sistem pemerintahan islam yang mensyaratkan satu khalifah sebagai pemimpin umat secara menyeluruh.

Idul adha dalam makna yang sejati adalah pengingat tahun tentang hakikat keberadaan kita sebagai hamba Allah swt , dan sebgai umat yang memiliki risalah agung untuk ditegakkan dimuka bumi. Haji mengajarkan persatuan, maka kita wujudkan persatuan itu tidak hanya di padang arafah, terapi dalam umat bersatu di bawah kepemimpinan khalifah.

Kurban mengajarkan pengorbanan, maka mari kita wujudkan pengorbanan itu tidak hanya dalam penyembelihan hewan kurban tetapi totalitas dalam menegaskan syariat Allah swt dalam kehidupan.

Khilafah Islam adalah kewajiban sekaligus janji Allah SWT yang pasti akan terwujud, dan tugas kita adalah menjadi bagian dari perjuangan Agung itu.

Sudahkah kita menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan seluruh kapasitas kita untuk perjuangan yang paling urgen mengembalikan kehidupan islam melalui tegaknya institusi islam ?[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *