Ketergantungan impor membuat rakyat kecil selalu menjadi pihak pertama yang terkena dampak ketika nilai tukar rupiah melemah
Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
WacanaMuslim-Tempe telah lama menjadi makanan rakyat. Dari meja sederhana di kampung hingga warung kecil di sudut kota, tempe hadir sebagai lauk yang murah, mengenyangkan, dan mudah dijangkau masyarakat. Namun hari ini, makanan sederhana itu perlahan berubah menjadi simbol sulitnya hidup rakyat kecil. Pelemahan rupiah membuat harga kedelai impor terus naik dan menekan para perajin tahu-tempe di berbagai daerah. Di saat kebutuhan hidup semakin mahal, para perajin justru dipaksa bertahan di tengah biaya produksi yang terus melonjak. (Kompas.id, 20/5/2026)
Banyak pedagang akhirnya memilih memperkecil ukuran tempe dan mengurangi jumlah produksi demi tetap bertahan. Tempe yang dahulu cukup untuk satu keluarga kini semakin kecil dan tipis. Sebagian masyarakat mungkin menganggapnya sekadar perubahan ukuran, tetapi bagi rakyat kecil, itu adalah tanda bahwa kebutuhan pangan semakin sulit dijangkau. Ketika makanan pokok rakyat mulai dikurangi ukurannya, sesungguhnya yang sedang mengecil bukan hanya tempe, tetapi juga daya hidup masyarakat. (Kumparan.com, 23/5/2026)
Kesulitan itu semakin berat karena kenaikan harga kedelai juga diikuti naiknya harga plastik kemasan. Para perajin kecil harus menghadapi dua tekanan sekaligus. Modal usaha terus bertambah, sementara daya beli masyarakat justru melemah. Banyak pelaku usaha tahu-tempe bertahan di batas tipis antara terus berjualan atau berhenti produksi. Di tengah kondisi seperti ini, negara tampak belum mampu memberi perlindungan nyata bagi usaha rakyat kecil. (Kompas.id, 23/5/2026)
Persoalan ini tidak bisa dipandang sekadar naik turunnya harga pasar. Kenaikan harga kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang membuat negeri ini bergantung pada pasar global. Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan tanah subur yang luas, tetapi ironisnya masih sangat bergantung pada impor kedelai hingga mencapai triliunan rupiah setiap tahun. (CNBCIndonesia.com, 21/5/2026)
Ketergantungan impor membuat rakyat kecil selalu menjadi pihak pertama yang terkena dampak ketika nilai tukar rupiah melemah. Saat dolar naik, harga kedelai ikut melonjak. Akibatnya, para perajin kecil harus menanggung beban yang semakin berat. Mereka tidak memiliki kekuatan menghadapi gejolak pasar internasional, sementara negara hanya menjadi penonton yang sibuk mengatur stabilitas angka tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalan.
Inilah wajah kapitalisme pangan hari ini. Negara tidak dibangun untuk mewujudkan kemandirian, tetapi justru membiarkan kebutuhan pokok rakyat bergantung pada impor dan mekanisme pasar global. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor strategis yang wajib dijaga, tetapi sekadar komoditas ekonomi yang tunduk pada keuntungan pasar. Akibatnya, petani lokal tidak berkembang, produksi kedelai dalam negeri lemah, dan rakyat terus bergantung pada produk luar negeri.
Dalam sistem kapitalisme, negara juga cenderung menyerahkan pengaturan pangan kepada mekanisme pasar. Ketika harga naik, rakyat diminta memahami situasi global. Ketika usaha kecil terhimpit, mereka diminta bertahan sendiri. Negara hanya hadir sebagai regulator, bukan pengurus rakyat. Akibatnya, usaha kecil seperti perajin tahu-tempe terus hidup dalam ketidakpastian.
Padahal pangan adalah kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin negara. Ketika rakyat mulai kesulitan membeli makanan sederhana seperti tempe, itu menunjukkan ada persoalan besar dalam pengelolaan ekonomi negara. Sebab ukuran kesejahteraan tidak bisa hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau investasi, tetapi dari mudah atau tidaknya rakyat memenuhi kebutuhan pokoknya.
Islam memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengatur persoalan ekonomi dan pangan. Dalam Islam, negara wajib memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi dengan baik. Negara tidak boleh membiarkan rakyat bergantung pada pasar global yang mudah mengguncang kehidupan masyarakat kecil.
Khilafah menerapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak yang nilainya lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan. Dengan sistem ini, gejolak nilai tukar seperti yang terjadi dalam sistem uang kertas hari ini dapat diminimalisir. Harga barang tidak mudah melonjak hanya karena permainan kurs dan kepentingan pasar internasional.
Islam juga mewajibkan negara membangun kemandirian pangan. Negara akan menghidupkan lahan pertanian, memberikan dukungan kepada petani, menyediakan sarana produksi, serta memastikan distribusi hasil pertanian berjalan optimal. Produksi kedelai tidak akan diserahkan pada mekanisme impor terus-menerus, tetapi dibangun agar mampu memenuhi kebutuhan rakyat secara mandiri.
Politik ekonomi Islam pun berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Negara akan melindungi para perajin kecil agar tidak hancur oleh tekanan pasar. Negara hadir bukan sebagai fasilitator bagi korporasi besar, tetapi sebagai pelindung rakyat kecil agar dapat hidup layak dan bermartabat.
Selain itu, Islam melarang praktik ekonomi yang merugikan rakyat seperti penimbunan, monopoli, dan permainan harga. Negara memiliki kewenangan kuat untuk mengawasi pasar agar kebutuhan pokok tetap mudah diakses masyarakat. Dengan pengaturan seperti ini, rakyat tidak terus-menerus menjadi korban gejolak ekonomi global.
Karena itu, persoalan mahalnya kedelai impor bukan hanya masalah pangan, tetapi gambaran rapuhnya sistem ekonomi yang diterapkan hari ini. Selama kapitalisme tetap menjadi fondasi ekonomi negeri ini, maka ketergantungan impor, gejolak harga, dan penderitaan rakyat kecil akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Tempe yang semakin kecil seharusnya menjadi alarm bagi negeri ini. Sebab yang sedang menyusut bukan hanya ukuran makanan rakyat, tetapi juga rasa aman hidup masyarakat kecil di tengah sistem yang gagal melindungi mereka. Rakyat tidak membutuhkan sekadar janji stabilitas pasar, tetapi sistem ekonomi yang benar-benar berpihak pada kebutuhan manusia. Wallahu A’laam Bisshawaab[] Sumber Foto : Canva

