Tragedi Nakba hari ini bukan lagi sekadar peristiwa pengusiran massal di masa lalu, tetapi siklus panjang penjajahan dan kekerasan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi
Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
WacanaMuslim-Tujuh puluh delapan tahun telah berlalu sejak tragedi Nakba pada 15 Mei 1948. Hari ketika rakyat Palestina terusir dari tanahnya sendiri setelah entitas Yahudi merebut Palestina dengan dukungan Inggris dan kekuatan Barat. (un.org, 15/5/2026)
Namun bagi rakyat Palestina, Nakba bukan sekadar catatan sejarah yang diperingati setiap tahun. Nakba adalah luka yang terus hidup. Rumah dirampas, tanah dijajah, anak-anak dibunuh, dan rakyat Palestina hingga hari ini masih bertahan di tengah penjajahan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Setiap tahun dunia memperingati Nakba dengan pidato, pernyataan sikap, dan seruan perdamaian. Liga Arab kembali mendesak perlindungan global bagi rakyat Palestina, sementara negara-negara BRICS menyerukan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan gencatan senjata di Gaza. (Antaranews.com, 15/5/2026)
Tapi di lapangan, darah rakyat Palestina tetap mengalir. Bom masih dijatuhkan. Rumah sakit masih dihancurkan. Anak-anak masih menangis kehilangan keluarga mereka. Dunia seolah terbiasa melihat penderitaan Palestina tanpa benar-benar menghentikannya.
Tragedi Nakba hari ini bukan lagi sekadar peristiwa pengusiran massal di masa lalu, tetapi siklus panjang penjajahan dan kekerasan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Palestina hidup dalam blokade, serangan militer, perampasan tanah, dan penghinaan terhadap hak kemanusiaan yang paling dasar. Bahkan Masjid Al-Aqsa yang menjadi simbol kemuliaan umat Islam terus berada dalam ancaman penjajahan Zionis. Setiap hari rakyat Palestina dipaksa hidup di bawah ketakutan, kehilangan tempat tinggal, dan ketidakpastian masa depan yang panjang.
Yang paling menyakitkan, rakyat Palestina masih harus berjuang hampir sendirian di tengah diamnya banyak pemimpin negeri Muslim. Negeri-negeri Muslim yang memiliki jumlah penduduk besar, kekayaan alam melimpah, dan kekuatan militer yang tidak sedikit, nyatanya belum mampu menghentikan penjajahan Zionis. Palestina terus diserang, sementara dunia Islam tetap terpecah dalam batas-batas nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing.
Inilah bukti gagalnya sistem dunia hari ini dalam menghadirkan keadilan dan rahmat bagi manusia. Sistem negara bangsa yang lahir dari pemikiran sekuler justru membuat umat Islam kehilangan kekuatannya sebagai satu kesatuan umat. Kaum Muslim dipisahkan oleh bendera, wilayah, dan kepentingan nasional sehingga penderitaan Palestina sering dipandang hanya sebagai masalah satu negara, bukan luka seluruh umat Islam.
Padahal penjajahan Palestina tidak mungkin dilepaskan dari dukungan negara-negara besar dunia. Entitas Zionis terus bertahan karena dilindungi secara politik, militer, dan ekonomi oleh kekuatan Barat. Karena itu, harapan pembebasan Palestina tidak bisa digantungkan pada negara-negara adidaya, lembaga internasional, ataupun forum-forum global yang selama ini justru menjaga kepentingan penjajah. Resolusi demi resolusi hanya berakhir menjadi tumpukan dokumen tanpa kekuatan nyata menghentikan pembantaian.
Selama umat Islam masih bergantung pada sistem internasional buatan manusia, maka Palestina akan terus menjadi korban kepentingan politik global. Dunia hanya akan sibuk mengutuk tanpa keberanian menghentikan penjajahan. Sementara Zionis terus memperluas pendudukan dengan keyakinan bahwa tidak ada kekuatan besar yang benar-benar akan menghalangi mereka. Inilah sebabnya tragedi kemanusiaan di Palestina terus berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian hakiki.
Islam memandang Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi bagian dari kehormatan umat yang wajib dibela. Palestina adalah tanah kaum Muslimin yang tidak boleh dibiarkan berada di bawah penjajahan. Karena itu, pembebasan Palestina harus menjadi bagian dari agenda besar kebangkitan umat Islam melalui kepemimpinan yang berlandaskan aqidah Islam dan persatuan umat secara menyeluruh.
Sejarah Islam membuktikan bahwa Palestina pernah dibebaskan dan dijaga kemuliaannya ketika umat Islam berada di bawah kepemimpinan yang kuat dan bersatu. Salahuddin Al-Ayyubi tidak membebaskan Al-Quds dengan diplomasi kosong, tetapi dengan persatuan umat dan kekuatan politik Islam yang kokoh. Dari sana lahir kekuatan besar yang mampu mengusir penjajah dan menjaga kehormatan kaum Muslimin.
Hari ini, umat Islam kehilangan kekuatan itu karena tercerai-berai dalam sistem nasionalisme. Setiap negeri lebih sibuk menjaga kepentingannya sendiri daripada memikirkan nasib umat secara keseluruhan. Akibatnya, Palestina terus berdarah sementara umat hanya mampu menyuarakan kemarahan di media sosial tanpa kekuatan nyata untuk menghentikan penjajahan.
Karena itu, agenda perjuangan umat hari ini tidak cukup hanya mengirim bantuan kemanusiaan atau menyuarakan boikot. Umat harus disadarkan tentang pentingnya persatuan Islam dan kepemimpinan yang mampu menyatukan potensi politik, ekonomi, dan kekuatan kaum Muslimin. Dengan persatuan itu, umat Islam akan kembali memiliki kewibawaan di hadapan dunia dan tidak lagi mudah diinjak oleh kekuatan penjajah.
Selain itu, umat juga harus kembali memahami bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi aturan hidup yang mengatur urusan masyarakat dan negara. Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, umat akan memiliki arah perjuangan yang jelas, termasuk dalam menjaga negeri-negeri Muslim dari penjajahan dan penindasan. Kesadaran inilah yang harus terus dibangun melalui dakwah dan pendidikan politik Islam di tengah masyarakat.
Nakba seharusnya tidak hanya diperingati dengan air mata dan poster duka. Nakba harus menjadi alarm yang membangunkan kesadaran umat tentang pentingnya persatuan Islam dan perjuangan menghadirkan kepemimpinan yang melindungi kaum Muslimin. Sebab selama umat tetap tercerai-berai, tragedi Palestina akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Palestina hari ini sedang menunggu bukan hanya simpati, tetapi kebangkitan umat yang benar-benar mampu menghentikan penjajahan. Dan selama penjajahan masih berdiri di tanah suci itu, sesungguhnya luka Nakba belum pernah berakhir.
Wallahu A’laam Bisshawaab[] Sumber Foto : Canva

