Jeritan Palestina, Sunyi di Telinga Dunia

Bagikan Artikel ini

Ratusan ribu warga Gaza kini kehilangan tempat berlindung, mengungsi di tengah puing-puing yang tak lagi layak dihuni


Poppy Kamelia P. BA(Psych), CBPNLP, CCHS, CCLS
Islamic Parenting Coach, Penulis, Pegiat Dakwah

WacanaMuslim-Setiap detik yang berlalu di Gaza adalah pertempuran tak berujung antara hidup dan mati. PBB, melalui berbagai pernyataannya, menunjukkan “keprihatinan yang sangat mendalam” atas serangan yang menghantam Gaza, Lebanon, dan bahkan Iran dalam rentang waktu hanya 24 jam terakhir. Namun, di tengah kecaman internasional ini, tak terlihat tanda-tanda penghentian serangan, tak ada langkah konkret yang benar-benar melindungi warga sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), melalui juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, mengutuk “segala tindakan yang meningkatkan eskalasi” dan menyerukan penghentian segera terhadap kekerasan, tetapi seruan ini seolah bergema tanpa balasan. (Antara, 26-10-2024).

Pernyataan dari PBB ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak untuk menghentikan tindakan yang dapat memperburuk situasi di kawasan yang sudah begitu rawan. Ironisnya, meski ada kecaman dan seruan internasional untuk menghentikan kekerasan, serangan demi serangan tetap berlangsung tanpa kendali. Konflik ini tidak hanya mencederai rasa kemanusiaan, tetapi juga menunjukkan ketidakmampuan dunia untuk menegakkan keadilan bagi para korban di Palestina dan wilayah-wilayah lainnya yang terdampak konflik. Dunia menonton, tak berdaya, terjebak dalam sistem kehidupan yang gagal menjaga keamanan dan keadilan.

Laporan dari lapangan menunjukkan krisis kemanusiaan di Gaza yang kian tak terkendali. Joyce Msuya, pejabat senior PBB untuk urusan kemanusiaan, melaporkan bahwa rumah sakit telah diserang, para pekerja kesehatan ditahan, dan tempat-tempat penampungan hangus terbakar. (Republika, 27/10/2024). Sebagai gambaran, pada serangan 25 Oktober di Khan Younis, sedikitnya 88 warga Palestina tewas dalam satu hari, termasuk 14 anak-anak yang tak berdosa. (CNN Indonesia, 26-10-2024) Bayangkan sebuah keluarga kehilangan semua anaknya dalam satu malam hanya karena tinggal di tempat yang dianggap target serangan.

Ratusan ribu warga Gaza kini kehilangan tempat berlindung, mengungsi di tengah puing-puing yang tak lagi layak dihuni. Krisis kemanusiaan ini memicu ketakutan bagi setiap orang yang masih hidup. Seluruh penduduk Gaza Utara, sebagaimana dinyatakan PBB, kini terancam “sekarat.” (Republika, 27/10/2024) Namun, meskipun melihat tragedi kemanusiaan ini, dunia, khususnya negara-negara besar, hanya mengeluarkan pernyataan-pernyataan tanpa tindakan yang jelas.

Di Manakah Hati Nurani Dunia?

Ketidakberdayaan para pemimpin dunia menunjukkan satu hal yang sudah tak terbantahkan: sistem kapitalisme dan demokrasi internasional yang diterapkan saat ini tidak mampu memberikan keadilan. Justru, sistem ini malah memupuk keegoisan, mengutamakan keuntungan ekonomi dan politik, bukan kemanusiaan. Sistem yang digadang-gadang sebagai solusi terbaik ternyata justru menghasilkan negara-negara yang hanya mementingkan kepentingan ekonominya sendiri. Mereka memilih terdiam, atau lebih buruk lagi, mendukung diam-diam kezaliman yang sedang terjadi.

Dunia tampaknya tak benar-benar berdaya. Seakan memilih untuk menutup mata. Ketidakpedulian ini mencerminkan kegagalan ideologi yang mempromosikan demokrasi namun nyatanya justru mendukung kekerasan dan konflik, bahkan menoleransi tindakan zalim yang dilakukan secara terang-terangan.

Urgensi Solusi Hakiki

Dalam kondisi ini, solusi yang sebenarnya bukanlah melanjutkan ketergantungan pada sistem yang sudah terbukti gagal, melainkan dengan menghadirkan kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh kekuatan umat demi keadilan. Ini adalah saatnya umat Islam kembali melihat hakikat sebenarnya dari Khilafah, sistem kepemimpinan Islam yang sejati, yang membawa keadilan dan kemanusiaan sebagai prinsip dasarnya.

Khilafah bukanlah sekadar konsep politik, tetapi sebuah visi kepemimpinan yang merangkul semua manusia tanpa memandang latar belakang dan keyakinan. Dengan Khilafah, seluruh kekuatan umat, termasuk tentara, akan termobilisasi untuk menegakkan keadilan, melindungi hak asasi manusia, dan membebaskan negeri-negeri yang ditindas. Dalam konteks Palestina, Khilafah bukanlah sekadar ide utopis, melainkan solusi nyata yang telah terbukti dalam sejarah sebagai kekuatan yang membawa perdamaian dan keadilan sejati.

Untuk itu, kesadaran umat perlu dibangun, bukan hanya untuk memprotes ketidakadilan, tetapi untuk mendukung perjuangan yang sejati. Melalui dakwah yang mengikuti metode Rasulullah, yang politis, penuh pemikiran, dan tanpa kekerasan, umat Islam dapat bergerak bersama menuju perubahan yang hakiki. Kesadaran ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan bagi setiap umat Islam untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktif terlibat dalam usaha mewujudkan keadilan sejati.

Menghadirkan Khilafah berarti memperjuangkan sebuah sistem yang tidak mementingkan kekayaan segelintir orang atau negara, tetapi keadilan bagi semua. Itu artinya, kita sebagai umat Islam harus lebih aktif mendukung perjuangan ini, membangun kekuatan, dan menolak ketidakadilan yang berlangsung di hadapan mata kita.

Kemanusiaan di Tengah Keangkuhan Dunia

Sampai saat ini kita belum melihat tindakan konkret PBB, sebagai organisasi internasional terbesar, dalam menghentikan kezaliman ini. Hal ini menjadi tamparan keras bagi semua negara yang terus saja mengandalkan lembaga internasional tanpa berupaya membuat perubahan berarti di lapangan. Umat Islam harus menyadari bahwa pengharapan pada institusi-institusi kapitalis ini hanya akan membuahkan kekecewaan.

Sementara itu, ribuan nyawa terus berguguran. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil mereka malah harus bertahan di tengah reruntuhan. Inilah kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama. Membangun kekuatan umat yang sejati bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan, sebagai wujud kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang tertindas.

Konflik ini seharusnya membuka mata kita semua bahwa keadilan, perdamaian, dan rasa kemanusiaan sejati tidak bisa diraih dengan sistem kapitalisme dan demokrasi yang mementingkan keuntungan politik dan ekonomi. Ini adalah kegagalan sistematis yang menyedihkan, tetapi juga panggilan untuk berani mengupayakan solusi hakiki yang telah Allah SWT berikan.

Saat ini, kita tidak hanya butuh solidaritas, tetapi juga aksi nyata. Mari kita buang jauh-jauh ketergantungan pada sistem yang telah gagal ini dan beralih pada jalan Allah, jalan perjuangan untuk menghadirkan Khilafah. Mari jadikan kesadaran dan perjuangan ini sebagai warisan yang berharga bagi anak-anak kita kelak. Sebab, jika bukan kita yang berjuang untuk perubahan, siapa lagi yang akan melakukannya? Dan jika bukan sekarang, kapan lagi kita akan mulai?
Wallahu A’lam Bishawaab[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *