Kamu Capek Tapi Takut Resign? Let’s Talk About Job Hugging!

Bagikan Artikel ini

Sistem ini membuat kita percaya “Kalau mau sukses, harus kerja keras. Nanti juga hasilnya kelihatan”, padahal realitanya nggak seindah itu.


Oleh: Putri Melati
(Aktivis Remaja Muslimah)

WacanaMuslim-Bayangin kamu lagi ada di fase setiap hari bangun pagi, buka mata, dan langsung ngerasa berat, tertekan dan hampa. Bukan karena kurang tidur, tapi karena harus kerja lagi, di tempat yang penuh tekanan dan ngga bikin kamu bahagia, Tapi mau gimana?
Keluar juga takut, karena cari kerja itu makin susah. Dunia kerja lagi suram, PHK di mana-mana, dan harus menghadapi in this economy, ketidakpastian!

Sounds familiar?

Selamat datang di era job hugging, fenomena di mana banyak anak muda memilih bertahan di pekerjaan yang udah nggak bikin bahagia, cuma demi “main aman”. Fenomena ini nggak cuma terjadi di Indonesia. Di Amerika, di Eropa, sampai di Indonesia, banyak orang yang tetap kerja, meski stres, burnout, atau kehilangan semangat, karena takut kehilangan penghasilan.

Menurut penelitian Guru Besar UGM, fenomena ini muncul karena ketidakpastian pasar kerja, banyak lulusan perguruan tinggi yang terjebak di pekerjaan yang nggak sesuai minatnya, semata demi keamanan finansial. (Sumber: Detik Finance, CNBC Indonesia, Kompas, CNN Indonesia, September 2025)

Sistem kerja dunia saat ini yaitu kapitalisme, ternyata bikin banyak anak muda “tersesat”. Sistem ini membuat kita percaya “Kalau mau sukses, harus kerja keras. Nanti juga hasilnya kelihatan”, padahal realitanya nggak seindah itu. Kamu bisa punya skill, pengalaman, bahkan semangat, tapi ya kalau di sistem saat ini, semuanya tidak cukup, bahkan terasa sia-sia, saat ini kita dihadapkan dengan permasalahan “Lapangan kerja makin sempit, sementara lulusan baru terus bertambah.”

Perusahaan-perusahaan besar berlomba mencari untung, bukan menciptakan kesejahteraan. Yang udah kerja pun belum tentu aman, kapan aja bisa kena PHK. Belum lagi gaji yang segitu-gitu aja, sementara harga kebutuhan terus naik. Di tengah tekanan itu semua, pelan-pelan muncul rasa takut: takut kehilangan penghasilan, takut nggak bisa bantu keluarga, takut dibilang gagal. Sampai akhirnya banyak anak muda memilih bertahan, “Daripada nganggur, mending kerja aja deh… meski udah nggak bahagia.”

Tapi kalau kita lihat lebih dalam, rasa takut itu bukan muncul begitu saja. Ada sistem yang menanamkannya, sistem yang bikin kita percaya bahwa nilai diri cuma diukur dari seberapa produktif kita. Sistem Kapitalisme ini mengajarkan kita buat ukur segalanya dari untung dan rugi.
Kalau perusahaan rugi, mereka PHK.
Kalau karyawan sakit, gampang diganti.
Dan negara? Alih-alih melindungi rakyat, malah lepas tangan dan menyerahkan urusan ekonomi ke pasar bebas.

Padahal Allah sudah mengingatkan:
“…Dan janganlah kamu menyerahkan (urusanmu) kepada orang-orang yang lalai.”
(QS. Al-Kahfi: 28)

Sistem kapitalisme bikin manusia kehilangan makna kerja. Yang awalnya pengen berkontribusi, lama-lama cuma pengen bertahan hidup.

Dan di sinilah kita mulai sadar bahwa selama bekerja hanya diukur dari materi, manusia nggak akan pernah bahagia. Kita butuh sistem yang menempatkan manusia bukan sebagai mesin, tapi sebagai makhluk yang punya tujuan. Kita sadar bahwa manusia butuh sistem yang bukan cuma mengejar profit, tapi juga memberi arahan hidup. Sesuatu yang bisa memberi makna di balik setiap kerja keras.

Do you know how Islam’s system arrange it? Islam datang bukan sekadar mengatur ibadah, tapi seluruh aspek kehidupan, termasuk pekerjaan dan ekonomi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, negara wajib memastikan setiap rakyat memiliki kehidupan yang layak danbertanggungjawab memenuhi kebutuhan pokoknya.

Dalam sistem Islam (Khilafah), negara akan menyediakan:

  1. Membuka lapangan kerja riil, dengan mengelola sumber daya alam dan industri publik.
  2. Memberi akses tanah dan modal, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi)
  3. Mendidik generasi bukan cuma untuk ‘siap kerja’, tapi siap memimpin.

Dalam Islam, pendidikan membentuk manusia bertakwa dan sadar bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar untuk survival.

So, kalau kamu di fase Job Hugging, Islam punya solusi loh! Tapi supaya tidak hilang arah, Allah memberi kita petunjuk, yaitu:

  1. Niatkan Ulang: Kerja = Ibadah
    Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
    Ubah niat dari “aku kerja biar nggak miskin” menjadi “aku kerja untuk mencari ridha Allah.” Itu bikin lelahmu punya makna.
  2. Temukan Makna di Tengah Rutinitas
    Gunakan sela waktu buat hal yang bisa me-recharge jiwa kita, seperti: dengerin kajian, menulis jurnal rasa syukur tiap hari, terlibat dalam project-project kebaikan. “Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya syukurnya itu adalah untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman: 12)
    Sadari dan syukuri bahwa Allah masih menuntunmu bahkan di masa berat.
  3. Upgrade Diri dengan Niat Ibadah
    Belajar hal baru, bukan buat gengsi, tapi bentuk tanggung jawab atas amanah pekerjaanmu. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh).” (HR. Thabrani)
  4. Percaya, Ada Jalan Lain yang Lagi Allah Siapkan
    Mungkin sekarang kamu belum nemu pekerjaan impian, tapi Allah lagi siapin jalanmu, asal kamu tetap takwa dan berusaha. Sperti yang tercantum dalam FirmanNya “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
    So guys, udah waktunya kita Bangkit, Bukan Cuma Bertahan!
    Fenomena job hugging bukan sekadar tentang takut kehilangan pekerjaan, tapi tentang manusia yang kehilangan makna hidup di tengah sistem yang rentan!

You have a choice, mau terus bertahan tanpa arah di sistem yang menindas, atau bangkit, menata niat, dan hidup dengan visi/pemikiran Islam yang memuliakan manusia

Allah SWT berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia…” (QS. Al-Qashash: 77)

So, jangan sampai kita hilang arah dalam bekerja, Karena dalam Islam, bekerja bukan sekadar cari nafkah tapi juga termasuk salah satu cara kita menggapai ridha Allah. Wallahu ‘allam bishawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *