Krisis Sampah Bandung: Tantangan Kota Kreatif yang Terabaikan

Bagikan Artikel ini

Bandung kembali dilanda krisis sampah. Mahasiswa bersuara, DPRD mendorong perbaikan, namun akar masalah tetap pada tata kelola kota yang belum sistematis.

Oleh. Hanny N

WacanaMuslim-Bandung dikenal sebagai kota kreatif, kota wisata, kota kuliner, bahkan kota pendidikan. Namun di balik gelar-gelar itu, ada satu wajah lain yang terus membayangi yaitu krisis sampah yang tak kunjung selesai. Gunungan sampah di berbagai titik, darurat TPA, dan kota yang sesak oleh limbah membuat Bandung harus bercermin—ada masalah serius yang belum ditangani dengan cara yang tepat.

Mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung pun mulai bersuara. Mereka melihat krisis sampah ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi simbol gagalnya tata kelola kota. Sementara di sisi lain, DPRD mendorong pemerintah kota untuk mengoptimalkan kembali pengelolaan sampah. Namun apakah dorongan itu cukup? Ataukah Bandung memerlukan pendekatan baru yang lebih menyeluruh?

Sampah Bandung: Saat Kota Kreatif Kehilangan Kreativitas

Masalah sampah Bandung bukan cerita baru. Hampir setiap tahun, muncul darurat baru TPA Sarimukti terbakar, armada angkut tidak memadai, TPS meluber, dan warga kelimpungan karena sampah menumpuk berhari-hari.

Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, Bandung gagal mengelola sampah secara sistemik. Bukan hanya soal fasilitas yang kurang, tetapi mindset pengelolaan yang tambal sulam.

Kedua, tidak ada peta jalan jangka panjang yang memadai. Kebijakan berganti seiring pergantian pejabat, bukan berdasar kebutuhan kota. Padahal, kota kreatif seharusnya mampu melakukan lompatan inovatif dari pengurangan sampah, daur ulang, circular economy, edukasi masyarakat, hingga penegakan aturan.

Namun yang terjadi justru kota terjebak dalam pola reaktif menunggu krisis baru, lalu mencari solusi sementara.

Mahasiswa Bersikap: Bandung Tidak Baik-baik Saja

Mahasiswa, yang setiap hari hidup di kota ini, mulai menyuarakan kritik. Mereka melihat bahwa krisis sampah bukan sekadar persoalan estetika, tetapi krisis tata kelola, krisis visi pemerintahan, krisis keseriusan, dan krisis keberlanjutan kota.

Mereka khawatir kota ini makin jauh dari citra “Bandung Juara” yang dulu diagungkan. Bahkan, Bandung berisiko berubah dari kota wisata menjadi kota yang dicap “kotor dan kumuh.” Dan memang, poin itu masuk akal. Tidak ada kota yang bisa disebut berdaya saing jika sampah saja tidak bisa ditangani.

DPRD Kota Bandung menyatakan perlu optimalisasi pengelolaan sampah. Mereka menekankan kolaborasi antara pemda dan masyarakat, peningkatan fasilitas TPA/TPSS, percepatan teknologi pengolahan, dan evaluasi sistem angkutan. Namun, optimalisasi tanpa reformasi struktural tetap tidak cukup. Bandung butuh regulasi berani, sistem pengawasan ketat, sanksi tegas, pendidikan publik yang merata, dan yang paling penting, komitmen politik yang kuat dari berbagai pihak. Tanpa itu, “optimalisasi” hanya akan menjadi slogan.

Mengapa Masalah Sampah Selalu Berulang?

Karena akar masalahnya bukan pada masyarakat semata, tetapi pada sistem dan arah tata kelola kota. Ada tiga kelemahan fundamental. Pertama, Pemerintah kota bersikap reaktif, bukan preventif. Masalah dibiarkan menumpuk sampai menjadi krisis, baru kemudian dicari solusi darurat.

Kedua, pengelolaan sampah tidak berbasis data dan peta kebutuhan. Padahal, setiap hari Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah—angka besar yang tidak bisa ditangani dengan pola lama.

Ketiga, tidak ada komitmen jangka panjang lintas kepemimpinan. Setiap wali kota punya program berbeda; tidak ada kesinambungan. Pola seperti ini akan terus menghasilkan siklus masalah yang sama setiap tahun.

Bandung Bisa Maju, Dengan Syarat…

Untuk keluar dari siklus sampah yang tak ada habisnya, Bandung harus punya visi besar, berani melakukan reformasi, menata ulang sistem pengelolaan, memastikan pejabat publik bekerja dengan amanah, dan belajar dari prinsip tata kelola yang terbukti sukses dalam sejarah.

Bandung terlalu besar dan terlalu berharga untuk dibiarkan tenggelam dalam krisis sampah. Kota kreatif butuh kreativitas kebijakan—bukan hanya kreativitas event.

Islam Mengajarkan Kebersihan Sebagai Sistem, Bukan Sekadar Slogan

Kota-kota Islam di masa lalu terkenal bersih, tertib, dan sehat. Bukan karena warganya sempurna, tetapi karena negara mengatur dengan sistem yang jelas dan tegas.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kebersihan adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim)

Hadist ini bukan hanya ajakan moral. Ketika Islam diterapkan dalam aturan publik, kebersihan menjadi kebijakan negara, bukan sekadar ajakan pribadi.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab, misalnya Kota Madinah dibangun dengan sistem drainase teratur. Pasar diawasi agar tidak mengotori kota. Para pejabat dipilih berdasarkan amanah dan kemampuan, bukan kepentingan politik. Negara menyediakan fasilitas umum yang layak, termasuk sanitasi.

Bahkan, dalam riwayat sejarah, Muslim memiliki jabatan khusus bernama ‘Aamil al-Mazbalah’ (pengelola sampah), yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kota secara sistematis.

Ini menunjukkan bahwa kebersihan dalam Islam bukan kerja individu semata, tetapi tanggung jawab negara yang dijalankan dengan serius.

Apa yang Bisa Bandung Pelajari dari Sistem Islam?

Esensi sistem Islam memberikan beberapa prinsip penting yang bisa menginspirasi tata kelola kota. Pertama, Negara harus menjadi pengelola utama layanan publik. Tidak menyerahkan sepenuhnya kepada pihak swasta atau proyek-proyek jangka pendek.

Kedua, ada pengawasan ketat dan sanksi tegas untuk pihak yang melalaikan tugas. Pegawai publik tidak boleh bekerja setengah hati. Ketiga, kebersihan kota dipandang sebagai kewajiban negara, bukan sekadar tanggung jawab warga. Warga memang harus disiplin, tetapi negara wajib menyediakan sistem yang memudahkan.

Keempat, penataan ruang, sarana, dan infrastruktur dirancang untuk jangka panjang. Bukan hanya untuk masa kampanye atau pencitraan pejabat.

Dengan prinsip seperti itu, kota akan bersih bukan karena dipaksa oleh keadaan, tetapi karena sistemnya memang mendukung.

Penutup: Sampah Bandung Adalah Cermin

Krisis sampah adalah cermin untuk mengukur kualitas sebuah kota sejauh mana pemerintahnya amanah, sejauh mana warganya peduli, dan bagaimana sistemnya bekerja.

Jika Bandung ingin benar-benar menjadi kota kreatif, kota juara, dan kota masa depan, maka masalah sampah ini harus selesai secara serius. Bukan dengan tambal sulam, tetapi dengan sistem tata kelola yang terencana, terarah, dan berkelanjutan—sebagaimana prinsip-prinsip yang pernah menjadikan kota-kota Islam sebagai peradaban paling bersih pada masanya.

Bandung dan kota lainnya bisa maju, asal berani berubah menuju Islam yang kaffah. Agar tak hanya bersih, tapi berkah. Wallahu’alam bish shawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *