Umat Islam harus paham betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa, dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya.
Oleh: Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)
WacanaMuslim-Gerakan Global March to Gaza yang sedang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah menjadi sorotan dunia internasional sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina. Konvoi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai negara. Mereka hadir bukan sebagai perwakilan diplomatik resmi, melainkan sebagai representasi moral dan kemanusiaan.
Ribuan orang mewakili lintas etnis dan benua berhimpun, memulai langkah bersama dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah. Mereka bukanlah diplomat, tak ada mandat resmi dari negara. Yang mereka genggam dan bawa yaitu keyakinan bahwa isu kemanusiaan di Palestina tak bisa terus ditunda. Mereka datang dari Tunisia, Libya, Maroko, Amerika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Mereka berlatar belakang pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, pegiat HAM, hingga anak muda biasa yang ingin berbuat sesuatu yang lebih dari kata-kata, mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza. Gelombang nuranilah yang menuntun langkah mereka. Munculnya gerakan Global March To Gaza (GMTA) menujukkan kemarahan umat yang sangat besar. Hal itu menadakan bahwa tidak bisa berharap kepada lembaga-lembaga internasional dan para penguasa hari ini. (Republika.co.id, 18/6/2025)
Di Indonesia, Sejumlah peserta aksi mengikuti aksi dukungan gerakan Global March to Gaza di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (15/6/2025). Global March to Gaza merupakan aksi jalan kaki internasional sejauh kurang lebih 50 kilometer (km). Peserta aksi akan berjalan kaki dari Kairo. Mesir menuju Gerbang Rafah. Aksi tersebut dikabarkan akan diikuti 10.000 orang, yang berasal dari lebih 50 negara. Minggu 15 Juni 2025 akan menjadi puncak gerakan Global March to Gaza ketika seluruh peserta tiba di Gerbang Rafah untuk menyerukan dibukanya akses kemanusiaan ke Gaza. Sebelumnya, pada Kamis (12/6/2025), Kepala Badan Bantuan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) Philippe Lazzarini mengatakan, gangguan terhadap distribusi bantuan kemanusiaan memperparah kelaparan di Jalur Gaza. Otoritas kesehatan Gaza pada Kamis (12/6/2025) juga melaporkan sedikitnya 21 orang tewas dan lebih dari 290 orang luka-luka ketika mencoba mengakses bantuan kemanusiaan. (Liputan6.com,15/6/2025)
Tertahannya mereka di pintu Raffah justru makin menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah bisa menyolusi masalah Gaza karena ada pintu penghalang terbesar yang berhasil dibangun penjajah di negeri-negeri kaum muslimin, yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa. Paham ini telah memupus hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka, hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata bahkan ikut menjaga kepentingan pembantai hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka yakni Amerika.
Dalam kitab mafahim siyasi yang ditulis Al Alamah Syaikh Taquyuddin An Nabhani, Zionis dipelihara AS sebagai anak emas. Jadi, mustahil mengharapkan PBB menjadi juru damai yang di dalamnya ada AS, Inggris, dan sekutu Zionis yang pasti akan menganulir upaya apa pun untuk membebaskan Palestina dari penjajah zionis. Sejatinya, Zionis memang sengaja didesain di bumi Palestina sebagai penjaga ideologi kapitalisme. Sebagaimana sifat ideologi, kapitalisme akan terus berambisi menguasai dan menjajah negeri-negeri muslim demi mengamankan kepentingan dan eksistensi ideologi ini.
Umat Islam harus paham betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa, dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Keduanya justru digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri islam. Kaum muslim harus berani mengambil langkah konkret dan taktis. Pertama, jangan lagi berharap pada lembaga dunia seperti PBB. Hadirnya PBB tidak berpengaruh apa pun pada Palestina. Lihatlah kepongahan Zions yang mempermainkan lembaga ini dengan sesuka hati. Dewan Keamanan PBB juga mandul dalam peran sentral AS di lembaga tersebut. Sebagai contoh, keanggotaan Indonesia sebagai anggota DK PBB tidak berimplikasi apa pun terhadap perilaku Zions yang kian keji. Hanya kutukan dan kecaman yang nyaring dibunyikan, tetapi minim hasil. Zion*s acuh, AS pun tutup mata dan telinga.
Kedua, menyeret Israel ke Mahkamah Internasional atas kejahatan kemanusiaan adalah hal yang mustahil. Buktinya, keputusan sementara yang dihasilkan di pengadilan ini tidak membuat Zions gentar dan menghentikan genosida. Yang ada, mereka makin menjadi-jadi menarget warga sipil tanpa ampun. Ketiga, “two state solution” dan diplomasi bukanlah solusi. Membagi dua tanah untuk Palestina dan entitas Yahudi adalah bentuk pengkhianatan. Palestina adalah tanah kharajiyah yang diperoleh dengan darah dan air mata kaum muslim. Selamanya akan menjadi milik kaum muslim. Sementara itu, Zions hanyalah entitas parasit yang menumpang hidup di Palestina. Keberadaannya sebagai negara dipaksakan oleh Barat. Berbagai jalan diplomasi hingga gencatan senjata berujung tumpul dan nihil. Keempat, persatuan kaum muslim harus segera diwujudkan. Palestina adalah ujian ikatan akidah (ukhuwah Islamiah). Ukhuwah itu tidak tampak tatkala nation state telah mengerat tubuh kaum muslim menjadi puluhan negara. Negara bangsa inilah yang membuat negeri muslim sedunia termasuk Liga Arab sulit melawan Zion*s meski mereka mendukung Palestina.
Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menyolusi konflik Palestina harus bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia. Masalah Palestina adalah masalah kaum muslim. Tidak boleh ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti zionis. Oleh karena itu, sikap seharusnya terhadap Zion*s yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah Swt. perintahkan, yakni perangi dan usir! Demikian sebagaimana firman-Nya, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum mukmin.” (QS At-Taubah [9]: 14).
Umat islam harus mewujudkan kekuasaan Islam yang menyerukan jihad fi sabilillah. Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain Khilafah Islamiah. Dengan Khilafah, sekat bangsa akan tercerai, persatuan kaum muslim akan mewujud, akidah Islam menjadi fondasi kekuatan Islam. Khalifah akan menyerukan jihad memerangi musuh-musuh Islam. Dalil kewajiban Khilafah sudah banyak dinyatakan dalam hadis. Salah satunya, “Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada Khilafah dan rahmat.” (HR Al-Bazzar).
Untuk itu sangat penting untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis, yang berjuang tanpa kenal sekat dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam tersebut di berbagai tempat. Jamaah dakwah ini harus ada di tengah-tengah kaum muslim dan beraktivitas membangun kesadaran yang benar pada diri umat dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat, yaitu penerapan syariat Islam kafah dalam institusi Khilafah Islamiah. Umat Islam sudah seharusnya menjawab seruan jamaah dakwah Islam ideologis ini dan berjuang bersama menjemput pertolongan Allah Taala. Sesungguhnya pertolongan Allah Taala itu dekat bagi orang-orang yang yakin, sebagaimana firman-Nya, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 214). Wallahualam bissawab[] Sumber Foto : Canva

