Banyaknya remaja yang mengalami kesehatan mental saat ini, menunjukkan gagalnya negara membina generasi
Oleh: Rey Fitriyani, AmdKL
WacanaMuslim-Jutaan remaja Indonesia kini telah menghadapi masalah kesehatan mental yang semakin serius. Fenomena ini menjadi perhatian nasional, yang disoroti oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN), Isyana Bagoes Oka, dalam pembukaan Simposium dan Konsolidasi Nasional Pemimpin Muda Hindu di Tangerang Selatan (Jumat, 14-02-2025). Oleh karena itu isu kesehatan mental di kalangan remaja menjadi permasalahan yang sangat mendesak untuk segera ditangani.
Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024, tercatat 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan data terbaru dari BPS (Susenas 2022) menunjukkan sekitar 72 ribu atau 8,2 persen perempuan memilih untuk tidak memiliki anak sebagai akibat dari gangguan kesehatan mental ini. Fenomena ini semakin berkembang selain masalah mental, adalah semakin banyak generasi muda yang merasa takut untuk menikah atau memilih untuk tidak memiliki anak (childfree). “Tentu saja isu ini menjadi keprihatinan kita bersama, generasi muda harus menyadari tantangan yang semakin kompleks, mengingat Indonesia adalah negara besar dan penduduk merupakan modal dasar dari pembangunan, ” kata Isyana. (disway.id, 16-02-2025)
Terkait isu kesehatan mental yang dialami oleh para remaja, Hastuti Wulanningrum, Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menjelaskan bahwa risiko tersebut disebabkan oleh eksposur berlebihan terhadap standar sosial yang tidak realistis. Penggunaan media sosial yang berlebihan atau tidak bijak dapat membawa sejumlah risiko. Seperti paparan terhadap standar kecantikan yang tidak realistis, cyberbullying, dan kecanduan digital. Remaja yang memiliki ketergantungan pada media sosial cenderung menutup diri dan terisolasi. Mereka sering merasa cemas dan kurang percaya diri, karena kepercayaan diri mereka ditentukan oleh standar media sosial. Sehingga tidak heran, jika banyak remaja yang memiliki mmasalah kesehatan mental akibat kecanduan media sosial.
Sementara itu Anggini Setiawan, Communications Director, TikTok Indonesia, menyebutkan bahwa beberapa platform media sosial telah berusaha sebaik mungkin untuk mencegah dampak negatif media sosial terhadap remaja. Misalnya, TikTok yang menyediakan fitur-fitur seperti “Family Pairing” yang menghubungkan orangtua ke akun anak remajanya. Dengan begitu, mereka dapat memantau aktivitas digital anak secara bijak. Di sisi lain, Reda Gaudiamo, selaku Kreator Parenting TikTok menerangkan, orangtua perlu diberikan pendidikan soal pembatasan media sosial, karena mereka perlu memahami apa yang baik dan buruk buat anak-anaknya. (Kompas.com, 13-02-2025)
Semakin banyaknya remaja yang menderita kesehatan mental hingga mencapai 15,5 juta orang dari total remaja Indonesia. Maka langkah BKKBN dalam mengatasai permasalahan ini dengan mendirikan komunitas remaja melalui program Generasi Berencana (GenRe). Program ini berada di tingkat desa hingga nasional. Menurut Isyana, tujuan program ini adalah untuk membekali remaja dengan kesiapan berkeluarga melalui perencanaan pendidikan, karier, dan pernikahan yang matang. Dengan perencanaan ini, mereka dapat membentuk keluarga yang berkualitas. Langkah ini juga diambil dalam rangka untuk menguatkan karakter generasi muda, sekaligus menjadi proses persiapan menuju agenda bonus demografi dan Indonesia emas 2045. (Tempo.co, 15-02-2025)
BACA JUGA : Sistem Islam Menjamin Kesehatan Mental Rakyat
Banyaknya remaja yang mengalami kesehatan mental saat ini, menunjukkan gagalnya negara membina generasi. Remaja yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. Penyakit mental juga dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, yaitu merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, dan dapat menurunkan prestasi di sekolah serta produktivitas kerja. Beberapa jenis masalah kesehatan mental yang paling umum terjadi, yaitu stres, kecemasan, dan depresi.
Jika ditelisik lebih jauh penyebab gangguan kesehatan mental pada remaja adalah pola asuh orang tua, krisis identitas atau kesulitan menemukan jati diri, mendapatkan persepsi keliru dari media sosial, tekanan dari lingkungan sekitar, kondisi keluarga tidak harmonis, hubungan buruk dengan teman, masalah ekonomi dan sosial yang buruk, bullying atau kekerasan seksual. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka generasi emas 2045 mustahil nyaris terwujud.
Disamping berbagai faktor diatas, faktor sistem kehidupan yang mengatur kehidupan saat ini yaitu sistem sekuler kapitalisme telah gagal mengatur kehidupan. Sistem kapitalisme berasas sekuler berhasil membuat kaum muda agar jauh dari agamanya. Mereka cenderung berperilaku mengikuti hawa nafsu, ingin bebas tanpa aturan. Akibatnya mereka menjadi rusak dan terganggu kesehatan mentalnya. Masyarakat yang tercipta dari sistem sekuler juga berprinsip, bahwa tujuan hidupnya adalah mencari kesenangan dunia yaitu materi. Maka ketika materi yang berupa harta, jabatan, dan prestise tidak mampu dicapai, mereka akan merasa gagal dan akan disingkirkan dari kehidupan. Alhasil, lahirlah orang orang yang bermental rapuh, termasuk kaum muslim sendiri yang tidak memahami tujuan hidupnya. Begitu ditimpa kesulitan hidup, mereka tidak bisa menanganinya dengan benar, sehingga mengambil jalan pintas, yaitu bunuh diri. Tidak heran, meski berbagai program pencegahan kesehatan mental telah didirikan oleh pemerintah namun hasilnya tidak nampak, justru membuat kesehatan mental pada remaja semakin bertambah.
Kondisi ini sangat berbeda dalam sistem kehidupan Islam. Islam menjadikan pentingnya pendidikan dan pembinaan agar setiap individu maupun masyarakat memiliki kepribadian Islam dan menjadikan Islam sebagai solusi bagi setiap permasalahan. Landasan pendidikan akidah yang kuat, akan menjadikan individu muslim memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Dari pola pikir dan pola sikap yang islami inilah akan melahirkan sosok muslim yang tangguh dan cerdas serta berakhlakul karimah. Keluarga juga berperan dalam membentuk generasi yang memiliki mental kuat. Keluarga menjadi tempat anak-anak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang, kenyamanan, keamanan, ketenteraman, dan sebagainya. Selain itu, masyarakat di sistem Islam akan menjadi pengontrol bagi masyarakat lainnya, suasana yang diciptakan adalah saling mengingatkan atau amar makruf nahi mungkar jika ada pihak yang melakukan kesalahan atau bertindak kriminal.
Selain itu negara berperan sangat penting, yaitu sebagai pelindung warganya, negara akan menciptakan lingkungan mental yang sehat, memberikan pemahaman dan pemikiran tentang tujuan hidup di dunia, yaitu sebagai hamba Allah SWT yang selalu terikat dengan aturanNya, menyelenggarakan pendidikan yang dapat memunculkan kesehatan mental dengan membiayai program-program rehabilitasi mental. Oleh karenanya hanya sistem kehidupan Islamlah, generasi akan mendapatkan pendidikan berbasis aqidah Islam yang tujuannya adalah membentuk kepribadian Islam sekaligus memiliki keterampilan menyelesaikan permasalahan kehidupan, sehingga tidak akan pernah kita jumpai lagi generasi yang rapuh akibat penyakit kesehatan mental.[] Sumber Foto : Canva

