Seruan tentang jihad ini sudah tepat, mengingat akar masalah Palestina adalah penjajah Zionis dengan pasukan militernya yang didukung kekuatan negara adidaya.
Oleh: Daryeti Ummu Kafie
WacanaMuslim-Kondisi Gaza, Palestina kian memburuk. Zionis Israel terus menggempur wilayah Gaza dan korban jiwa terus-menerus berjatuhan. Kementerian kesehatan Gaza mengatakan bahwa sedikitnya 1.563 warga Palestina telah tewas sejak 18 Maret ketika gencatan senjata runtuh, sehingga jumlah korban tewas secara keseluruhan sejak perang dimulai menjadi 50.933. (mediaindonesia.com, 13-04-2024)
Pesawat tempur Israel pada Ahad (13-4-2025) dini hari membombardir unit darurat dan resepsionis Rumah Sakit (RS) Baptis Al-Ahli di Kota Gaza, Palestina, sehingga menyebabkan fasilitas tersebut berhenti beroperasi. RS Baptis Al-Ahli diketahui menjadi rumah sakit terakhir yang masih berfungsi di Jalur Gaza. (news.republika.co.id, 13-04-2025)
Kebiadaban tentara Israel juga menuai kutukan keras saat mereka mengepung lima ambulans beserta awaknya 15 orang (tenaga medis, pekerja kemanusiaan dan petugas PBB), memborgol, mengeksekusi, dan mengubur mereka dalam kuburan massal sebelum menghancurkan kendaraan tersebut, 23 Maret 2025 lalu, di Tal al-Sultan, Rafah, Gaza Selatan. (satumedia.id, 05-04-2025)
Dan seolah ingin membungkam informasi tentang kekejaman mereka, militer Israel membombardir tenda tempat menginap wartawan di dekat Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Gaza Selatan, Minggu (7/4/2025). Sejauh ini tiga jurnalis gugur dan delapan lainnya luka akibat serangan tersebut. (inews.id, 08-04-2025)
Selain berbagai surangan brutal tersebut, Israel juga melakukan blokade terhadap bantuan kemanusiaan yang akan memasuki Gaza. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan 75 persen misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditolak masuk ke Jalur Gaza akibat blokade dan serangan Israel. (khazanah.republika.co.id, 11-04-2025)
Kondisi tersebut memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza dan membuat masyarakat setempat semakin terekspos pada ancaman kelaparan, malnutrisi, serta kekurangan air bersih, tempat tinggal, dan layanan medis yang layak. Risiko penyakit dan kematian juga semakin meningkat di kalangan warga Gaza akibat hal tersebut.
Melihat kondisi Palestina banjir darah selama kurang lebih 1,5 tahun ini, sudah merupakan kewajiban kita sebagai muslim untuk memberikan pembelaan atas penderitaan yang dirasakan saudara muslim kita di Gaza. Karena seorang muslim dengan muslim yang lain ibarat satu tubuh. Seperti sabda Rasulullah saw., “Perumpamaan kaum mukmin itu—dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi—bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya).” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Dikuatkan juga dengan pesan Rasulullah saw., “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Itulah pentingnya wujud rasa cinta kepada sesama muslim. Bahkan Rasul saw. menafikan kesempurnaan iman seseorang sampai terwujud rasa kasih sayang kepada saudara seiman. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memberikan perhatian, pembelaan, dan pertolongan kepada kaum muslim di Gaza dengan segenap kemampuannya baik berupa bantuan harta, tenaga, ataupun seruan dakwah dan juga do’a meminta pertolongan Allah atas muslim Palestina dan meminta kehancuran Zionis dan sekutu-sekutunya.
Merespons situasi Gaza dan belum berhasilnya semua ikhtiar umat menolong kaum muslim di sana, para ulama internasional akhirnya bersuara menyerukan jihad untuk membela Gaza. Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), Ali Al Qaradaghi, menyerukan seluruh negara Muslim “untuk segera campur tangan secara militer, ekonomi, dan politik demi menghentikan genosida dan kehancuran total ini, sesuai dengan mandat mereka”. Lebih lanjut Qaradaghi dalam fatwa yang berisi sekitar 15 poin tersebut menyatakan “Ketidakmampuan pemerintah Arab dan Islam dalam membela Gaza saat sedang dihancurkan, menurut hukum Islam, merupakan kejahatan besar terhadap saudara-saudara kita yang tertindas di Gaza,” (cnnindonesia.com, 08-04-2025)
Seruan tentang jihad ini sudah tepat, mengingat akar masalah Palestina adalah kehadiran penjajah Zionis dengan pasukan militernya yang didukung secara penuh oleh kekuatan negara adidaya, khususnya AS dan Eropa. Jihadlah satu-satunya cara yang syar’i untuk menghadapi kekuatan musuh Islam yang jelas-jelas telah menimbulkan kerusakan dan membantai umat Islam. Bukan dengan jalan diplomasi yang sudah terbukti gagal, apalagi sekadar retorika yang dipertunjukkan para pemimpin Arab dan Dunia Islam.
Perintah jihad defensif (jihad difaa’i) atas setiap invasi musuh yang ditujukan kepada negeri-negeri muslim telah ada dalam Al-Qur’an telah. Allah Swt. berfirman, “Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 194).
Perintah untuk mengusir siapa pun yang telah mengusir kaum muslim juga terdapat dalam firman Allah Swt., “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 191).
Namun masalahnya, apakah seruan ini akan efektif jika “hanya” berupa fatwa? Sementara itu, fatwa sifatnya tidak mengikat dan faktanya kekuatan militer berupa pasukan dan senjatanya ada di tangan para penguasa. Sayangnya penguasa negeri-negeri muslim saat ini begitu mengagungkan spirit negara bangsa atau nasionalisme. Mereka bungkam seribu bahasa melihat genosida di Gaza. Negara-negara muslim tersebut bahkan secara tidak langsung turut memberi jalan dan bantuan bagi entitas Zionis untuk mengusir dan membunuhi warga Palestina, khususnya Gaza. Mereka enggan menggerakkan jutaan tentara mereka dan berbagai peralatan militer canggih yang mereka miliki. Tidak ada pertolongan yang mereka berikan untuk Gaza.
Walhasil, seruan jihad para ulama ini hanya akan menjadi sekadar seruan, manakala tidak didukung oleh kekuatan yang seimbang. Padahal untuk menolong dan membebaskan Palestina, khususnya Gaza, butuh kekuatan yang sepadan. Kekuatan itu adalah kehadiran sebuah negara adidaya yang dibangun di atas kesadaran ideologis umat tentang kewajiban menerapkan seluruh syariat Islam dan kewajiban bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam. Dengan kata lain, upaya membebaskan Palestina dengan jihad sejatinya butuh komando seorang pemimpin yang kekuasaannya merepresentasi Islam dan umat Islam di seluruh dunia. Kepemimpinan inilah yang akan mampu memobilisasi semua potensi umat, termasuk tentara dan senjata yang tersebar di berbagai wilayah dan mengerahkannya untuk segera mengusir penjajah dan membungkam kekuatan sekutunya dari bumi Palestina.
Baca Juga : Bukan Simpati, Gaza Butuh Solusi Hakiki
Kepemimpinan seperti ini tidak lain adalah Khilafah dengan pemimpinnya yang disebut khalifah. Menghadirkan kepemimpinan seperti ini harus menjadi agenda utama umat Islam, khususnya para ulama dan gerakan-gerakan dakwah yang ingin menolong muslim Gaza Palestina khususnya, sekaligus membela seluruh kaum muslim yang saat ini sedang terzalimi di negeri-negeri lainnya, karena khilafah adalah perisai umat. Ini sebagaimana sabda Nabi saw., “Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya.” (HR Muslim).
Khilafah adalah solusi tuntas untuk mengatasi persoalan Gaza dan berbagai persoalan lain seperti derita muslim Myanmar, muslim Uyghur, dan lain-lain. Inilah satu-satunya institusi pemerintahan yang dituntut oleh syariat Islam, yang bisa menyelesaikan persoalan Gaza. Khilafahlah yang akan melindungi Palestina dan mengusir entitas Yahudi dari seluruh tanah Palestina. Adalah tugas kita untuk menegakkan kembali Khilafah Islam, karena khilafahlah yang akan membebaskan tanah Palestina dengan jihad fi sabilillah. Wallahualam bissawab.[] Sumber Foto : Canva

