“Beliaulah yang mendesainnya. Berbentuk segi lima berwarna hitam, yang artinya sama seperti bentuk ka’bah. Beliau ingin agar di setiap pencapaian kita, kita akan selalu teringat dengan tempat suci utama umat muslim yaitu Ka’bah”
Oleh. Diyah M Ummah
WacanaMuslim–“Selamat ya“, ujar seorang laki-laki berbaju batik.
“Terimakasih Rad“. Jawab Ve sambil menerima sebuah buket bunga edelwise berpita warna biru.
“Maaf aku baru datang, tadi masih bantu dokter Daniel buat visit beberapa pasien”.
Ve mengerucutkan bibirnya, “Taulah, bapak dokter yang satu ini memang super sibuk”.
Rad menyengirkan senyumnya. “So, jadi apa rencanamu selanjutnya?”
“Sama seperti rencana awal. Mendapatkan gelar Magister adalah salah satu langkah untuk meraih cita-citaku”.
“Mendirikan sekolah?”
Ve menganggukkan kepalanya mantap.
“Dari dulu kau tidak pernah berubah, selalu tertarik dengan dunia pendidikan”.
“Karena aku kagum”.
Rad mengangkat sebelah alisnya, “Kagum? Dengan siapa?”
“Namanya, Fatimah binti Muhammad al-Fihriya al-Qurashiyah atau dikenal dengan nama Fatimah Al-Fihri. Beliau adalah muslimah yang mendirikan Universitas pertama di dunia dengan nama Universitas Al-Qarawiyyin di Fez Maroko. Beliau adalah wanita yang cerdas dan murah hati. Dan topi ini..”
Ve melepas topi toga yang ada di kepalanya, “Beliaulah yang mendesainnya. Berbentuk segi lima berwarna hitam, yang artinya sama seperti bentuk ka’bah. Beliau ingin agar di setiap pencapaian kita, kita akan selalu teringat dengan tempat suci utama umat muslim yaitu Ka’bah”. Lanjut Ve
“Keren. Memang benar adanya istilah perempuan peradaban. Ingin peradaban membaik, maka didik perempuan-perempuan dengan cara yang baik yang tentunya sesuai syariat Islam”.
Ve mengangguk, tanda mengiyakan.
“Lalu, apa kabar cita-citamu?“, Lanjut Ve
“InsyaAllah cita-citaku juga akan segera terwujud”. Jawab Rad dengan mengembangkan senyumnya.
“Wahhh selamat”.
“Ucapan selamatnya nanti aja Ve, bulan depan”.
“Nyicil dari sekarang kan tidak apa-apa Rad”. Ujar Ve sambil tertawa renyah.
“Sebenarnya aku masih ada cita-cita lain yang belum terwujud”.
“Serius? Apa?”
Rad menganggukan kepalanya, “Ada pokoknya. Tapi aku butuh partner buat mewujudkannya. Butuh kamu juga pakde dan bude”
“Kamu ngajak aku, ibu dan bapak buat bisnis?”
Rad menggelengkan kepalanya, “Bukan bisnis tapi kerja sama”.
Ve mengerutkan dahinya.
“Gimana? Mau?”. Lanjut Rad
“Kerja sama dalam hal apa dulu nih?”
“Kerja sama dalam membangun rumah tangga. Maka dari itu aku butuh restu pakde dan bude juga pastinya kamu yang akan menjadi partner kerja samaku yang insyaAllah seumur hidup..”
Rad menjeda kalimatnya, “Menjadi istri dan Ibu dari anak-anakku, mau?” []
Sumber Foto : Canva

