Rezim Baru Dan Tantangan Dakwah

Bagikan Artikel ini

Sekalipun pemimpinnya berganti,akan tetap banyak tantangan yang harus dihadapi oleh orang-orang yang menginginkan politik Islam kembali mengatur medan kehidupan

Oleh : Puspita Ningtiyas S.E

WacanaMuslim-Presiden dan wakil presiden yang baru, telah dilantik. Dalam pidato pertamanya, P menyampaikan tentang visi dan misi selama lima tahun ke depan. Mengusung visi “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”, keduanya menawarkan delapan misi utama, yang dikenal sebagai “Astacita,” 1. Penguatan Ideologi dan Demokrasi: Memperkokoh ideologi Pancasila serta menjunjung demokrasi dan hak asasi manusia (HAM). 2. Pertahanan dan Kemandirian Bangsa: Memantapkan sistem pertahanan serta mencapai kemandirian dalam pangan, energi, dan ekonomi digital. 3. Lapangan Kerja dan Infrastruktur: Memperluas lapangan kerja, mendorong kewirausahaan, dan melanjutkan pembangunan infrastruktur. 4. Pengembangan SDM dan Kesehatan: Fokus pada peningkatan pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender. 5. Peningkatan Industri Domestik: Melanjutkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produksi dalam negeri. 6. Pemerataan Ekonomi di Desa: Membangun desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. 7. Reformasi Politik dan Birokrasi: Mendorong reformasi untuk meningkatkan pemberantasan korupsi dan perbaikan birokrasi. 8. Harmoni Sosial dan Lingkungan: Menguatkan toleransi antarumat beragama dan harmoni dengan alam untuk kesejahteraan yang berkelanjutan. (kompasiana.com)

Menilik dari apa yang menjadi visi dan misi rezim yang baru, tidak akan ada perubahan yang signifikan dengan pemerintahan Indonesia ke depan baik secara paradigmatis maupun dari program-program praktis yang akan dijalankan. Terlebih dalam kampanyenya, PG ini sudah menyampaikan dengan jelas bahwa akan meneruskan program yang sudah dimulai oleh pemimpin sebelumnya dengan slogan “pemerintahan berkelanjutan”. 

Ternyata tawaran keberlanjutan inilah yang menggiurkan para investor baru maupun investor lama untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia. Usai dilantik, mulai tanggal 8 November,  P seperti kejar tayang melakukan kunjungan demi menjalin kerja sama ( investasi ) proyek strategis nasional dengan berbagai negara seperti China, Amerika Serikat dan Inggris. Disebutkan juga, RI 1 ini mengikuti dua konferensi tingkat tinggi di bidang ekonomi dalam waktu yang beruntun, yakni KTT APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) di Peru, dan KTT G20 2024 di Brazil. “Dampak (kunjungan) untuk mengembangkan potensi-potensi kerja sama dan ekonomi Indonesia, maka beliau menjalankan perjalanan ke luar negeri,” ujar Hasan Nasbi, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) dalam wawancaranya dengan RI 1 tersebut. ( Liputan6.com,10-10-2024). 

Begitulah faktanya pemimpin baru dengan sistem yang sama, tidak ada yang berubah hanya pembawaan pribadinya saja. Selama ideologi kapitalisme yang diemban, maka sistem ekonomi kapitalisme-lah yang diterapkan dan mendominasi setiap kebijakan. Delapan Misi P banyak mengusung isu ekonomi, tapi sebagai pemimpin bukannya memperkuat kemandirian negara sebagaimana janji yang telah dibuat sendiri, sebaliknya, malah meminta  bantuan asing yang justru akan membuat rakyat dan negerinya semakin terjajah tak berdaya. Karena itulah tidak ada harapan baru kecuali dengan sistem yang baru dan dengan sistem yang terbukti benar dari Sang Maha Benar, Allah Swt yaitu sistem politik Islam. 

Medan Dakwah Dan Tantangannya

Medan dakwah selalu menemukan tantangannya. Begitu juga hari ini, ketika kehidupan ditata oleh sebuah sistem rusak kapitalisme yang secara sistemik menjajah negeri-negeri muslim dengan pola penjajahan gaya baru, sekalipun pemimpinnya terus berganti, tetap saja ada banyak  tantangan yang harus dihadapi oleh orang-orang yang menginginkan agar politik Islam kembali eksis mengatur medan kehidupan. Tantangan itu bisa dari  internal pengemban dakwah itu sendiri atau dari lingkungan tempat pengemban dakwah melakukan aktivitas dakwah politik Islam.

  1. Kualitas Syakhsiyah Islamiyah Pengemban Dakwah 

Pengemban dakwah adalah contoh atau representasi ideologi Islam baik dari segi pemikiran (aqliyah) maupun dalam bersikap (nafsiyah). Maka pengemban dakwah seharusnya menjadi teladan dalam ber-Islam di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, atau dari syariat yang mengatur individu sampai syariat yang mengatur urusan negara, pengemban dakwah harus memahami, menjalankann serta  memperjuangkan penerapannya dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Allah Swt. 

Dulu Rasulullah Saw membina para shahabat agar memiliki syakhsiyah Islamiyah sehingga siap mengemban beratnya amanah dakwah dan mampu menjadi pejuang yang bahdilan juhdi di jalan dakwah yang penuh tantangan. Sekarang  di era rezim yang tidak menerapkan Islam, terkungkung demokrasi dan pengusung moderasi beragama, yang harus dilakukan tetaplah sama sebagaimana dulu yang dilakukan Rasul, yaitu melakukan pembinaan Islam ideologis secara talqiyan fikriyan kepada umat terkhusus kepada pengemban dakwah sebagai subyek perubahan agar terbentuk syakhsiyah Islam yang kuat dan menjadi pengemban dakwah yang siap menerjang aral rintang perjuangan. 

  1. Penolakan dari Masyarakat

Dakwah di era kapitalisme tidaklah mudah. Karena tolak ukur (maqayis),  pemahaman ( mafahim ) dan penerimaan ( qanaah ) masyarakatnya bukan lagi dari Islam melainkan dari hal-hal yang bersumber dari ideologi kapitalisme itu sendiri. Seringkali masyarakat menggunakan tolak ukur adat istiadat/kebiasan, menjadikan fakta sebagai hukum, silau dengan kemajuan teknologi barat, memperturutkan hawa nafsu, dan mengikuti pendapat dan perilaku mayoritas orang sehingga mereka menolak dakwah yang dianggap berbeda dan bertentangan dengan kultur masyarakat yang ada. Ketika hal ini terjadi maka pengemban dakwah harus tetap berpegang teguh pada hukum Allah yang bersumber dari Alquran, Sunnah, Ijma Shahabat dan qiyas. Tugas pengemban dakwah adalah mewarnai masyarakat bukan justru diwarnai oleh mereka. Berbagai uslub harus dikerahkan untuk mengubah penolakan masyarakat menjadi peneriman terhadap hukum Islam dan pengemban dakwahnya. Yang juga penting, pengemban dakwah juga harus terus upgrade amunisi tsaqafah agar siap melakukan perang pemikiran (shiro’ul fikr) melawan pemikiran rusak yang diemban masyarakat hari ini akibat penerapan penerapan kapitalisme sekularime. Karena pengemban dakwah bukanlah robot, penting untuk jamaah terus menguatkan dan menjadi bahan bakar api perjuangan para anggotanya sehingga pergerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat tidak sampai berhenti.

  1. Ancaman Penguasa

Sudah menjadi keniscayaan bahwa dakwah Islam akan berbenturan dengan penguasa. Hal itu dikarenakan, pertama, dakwah Islam yang menyerukan penerapan Islam secara sempurna ( politik Islam) dianggap akan menggeser penerapan ideologi yang ada saat ini. Karena itulah penguasa negeri-negeri muslim yang notabene sebagai penjaga penerapan ideologi kapitalisme tidak akan membiarkan pengemban dakwah melenggang begitu saja mengancam pemikiran dan ideologi kapitalisme. Ketika negara adidaya kapitalisme AS merasa terancam dengan keberadaan Ideologi Islam, maka antek-antek mereka ( penguasa negeri-negeri muslim ) juga akan melakukan segala upaya untuk menghadang pergerakan dakwah Islam ideologis tersebut. Hal ini menjadi hal yang biasa dari dulu sejak masa Rasulullah mendakwahkan Islam di Mekkah sampai hari ini ketika pengemban dakwah harus berhadapan dengan penguasa dengan seperangkat aturan yang bertentangan dengan Islam bahkan sengaja menyudutkan Islam dan pengemban dakwahnya. Kedua, penguasa hari ini yang terbuai dengan gemerlap dunia dan kekuasaan tidak akan melepaskan semuanya begitu saja demi Islam sebab mereka sudah dibutakan oleh kecintaan terhadap dunia. Bahkan ketika Islam didakwahkan sebagai sebuah sistem politik, bisa jadi para penguasa negeri muslim inilah yang pertama kali merasa terancam kepentingannya. Karena itulah mereka menjadi garda  terdepan untuk menentang dakwah penerapan politik Islam. 

Setidaknya dua alasan inilah yang menyebabkan dakwah politik Islam pasti akan berbenturan dengan penguasa. Karena itu pengemban dakwah harus menyiapkan keimanan, mental dan amunisi tsaqafah Islam serta tsaqafah kepartaian agar siap untuk membongkar makar penguasa dan terdepan dalam memperjuangkan penerapan politik Islam.

Tiga tantangan di atas jamak dialami oleh pengemban dakwah islam politik yang juga dialami oleh para pendahulunya. Siapapun pemimpinnya, sejatinya musuh terbesar Islam adalah ideologi kapitalisme sekulerisme karena selama ideologi rusak ini masih tegak di atas muka bumi, pengemban dakwah harus terus melakukan perlawanan demi penerapan politik Islam sampai akhirnya nanti Allah memenangkan perjuangannya. 

Peluang Dakwah di Era Sekarang 

Di balik tantangan, Allah memberikan kekuatan dan peluang. Berikut ini beberapa kekuatan dan peluang di dalam dakwah Islam yang menurut penulis bisa dioptimalkan.

  1. Pemikiran Yang Mustanir

Pemikiran yang mustanir ( cemerlang ) bersumber dari aqidah aqliyah yang menjadikan pengembannya memiliki ketundukan 100 % terhadap hukum Allah. Hambatan ekonomi, masalah kesehatan, bahkan ancaman penguasa tidak akan bisa menghentikan arus perjuangan pengemban dakwah yang memiliki pemikiran mustanir. Karena itu pengemban dakwah harus bisa terus mengupgrade aqidah aqliyahnya baik melakukannya sendiri atau dibantu oleh jamaah. Penting untuk jamaah terus mensuasanakan keimanan yang bersumber dari aqidah aqliyah di dalam diri para anggotanya.

  1. Tsaqafah Islam & Tsaqafah Kepartaian

Harta terbesar yang dimiliki oleh umat Islam bukanlah peninggalan fisik dari peradabannya di masa lalu seperti masjid atau istana yang megah melainkan pemikiran yang menghasilkan tsaqafah Islam. Peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya ketika tsaqafah Islam dipakai dalam kehidupan. Sebaliknya kekhilafahan jatuh ketika tsaqafah Islam diabaikan. Adapun tsaqafah partai adalah pemikiran yang diadopsi oleh partai sebagai alat untuk mencapai tujuannya yaitu mengembalikan kehidupan Islam. Tsaqafah partai ada di dalam kitab-kitab yang dikaji oleh partai dan juga selebaran-selebaran resmi yang dikeluarkan oleh partai.

  1. Dunia Maya Tak Bertuan

“Setiap 60 detik, terdapat sekitar 700.000 pencarian di Google, 695.000 status baru di facebook, 98.000 status twitter, 1.500 tulisan blog, 600 lebih video diunggah ke Youtube dan statistik mencengangkan lainnya” (Globe.com)

Informasi mengalir dengan sangat deras di masa serba internet seperti sekarang. Begitu banyak yang bisa kita lihat, baca dan dengar di internet. Apalagi dengan adanya kecerdasan buatan ( AI ) , produksi informasi bisa dilakukan dengan sangat cepat. Sayangnya tidak semua bisa menyaring mana fakta, mana opini, mana informasi yang bermanfaat dan mana informasi yang merusak.

Inilah kesempatan kita untuk lebih mudah dan lebih luas jangkauannya menyampaikan perspektif kita sendiri berdasarkan ideologi Islam di sosial media agar  media saat ini yang telah mengemas ribuan informasi dengan sudut pandang mereka baik untuk kepentingan komersial dan juga ideologi tertentu kalah dengan konten Islam dan dakwah Islam.

  1. Objek Dakwah Yang Islami

Indonesia adalah negeri muslim terbesar. Per tahun 2023, muslimin Indonesia mencapai 87% dari total 276 juta penduduk (perkiraan 240 an juta orang ). Dengan jumlah muslimin sebesar itu ditambah lagi bonus demografi dengan jumlah usia produktif yang sangat tinggi, sebenarnya potensi target dakwah di Indonesia sangat besar. Seperti seorang sales yang senantiasa mensegmentasi calon pelanggannya, dakwah pun harus dipetakkan berdasarkan segmentasi yang sesuai agar potensi objek dakwah yang besar ini bisa terkelola dengan baik dan dakwah bisa mencapai tujuannya.

  1. Negeri Yang Aman ( Tidak ada perang fisik ) 

Dibandingkan dengan ujian yang dihadapi oleh saudara muslim di negeri Palestina, ujian dakwah di negeri ini jauh lebih mudah dan leluasa. Bagaimana tidak, di sana untuk mencari sepotong roti saja harus mempertaruhkan nyawa. Jika dalam keadaan begitu genting muslimin Palestina masih teguh berpegang pada Islam, lantas apa alasan kita untuk tidak mendakwahkan Islam dalam keadaan leluasa seperti di negeri ini ?. 

Masa depan adalah hal yang ghaib, di era rezim baru lima tahun ke depan, kita tidak tahu dengan pasti bagaimana perlakuannya kepada Islam dan pengemban dakwahnya. Maka terhadap hal ghaib ini, menambatkan asa serta harapan kita kepada Allah swt adalah langkah yang benar. Tantangan yang ada tidak boleh membuat kita lemah. Keimanan adakah modal paling utama dalam menghadapi semua tantangan ini. Allah Swt berfirman 

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi ( derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” ( TQS. Ali Imran : 139 )

Dakwah adalah kewajiban dan kebutuhan mendesak bagi kita semua. Seorang pengemban dakwah akan mampu melihat setiap kesulitan sebagai sebuah kesempatan. 

 Apalagi kita tahu Allah telah menjanjikan kemenangan bagi siapa saja yang memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam dan kemenangan atas kaum muslimin.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan bekerja amal soleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai penguasa; dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi agama mereka yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta Dia akan menggantikan mereka setelah rasa takut mereka dengan rasa aman. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun yang kafir setelah itu, maka merekalah orang-orang yang fasik.” (TQS. An-Nur : 55 )

Wallahu a’lam bis shawab[]

Sumber Foto : Canva

One thought on “Rezim Baru Dan Tantangan Dakwah

  1. MasyaAllah tulisan yang mencerdaskan, analisa yang detail dan gaya bahasa yang mudah dipahami. Barakallah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *