“Program MBG menjadi pengingat bahwa begini seharusnya negara hadir, jika satu program bisa begitu meringankan, bayangkan jika seluruh sistem kehidupan diatur oleh Islam yang meringankan kehidupan rakyat secara menyeluruh”
Oleh: Esnaini Sholikhah, S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)
WacanaMuslim-MBG adalah program strategis pemerintah yang di gadang-gadang untuk pembangunan SDM dengan dampak ekonomi dan sosial yang besar. Namun dalam pelaksanaannya, Program MBG yang sudah berjalan setahun, dampaknya terhadap ancaman stunting tetap tak terselesaikan. Beberapa indikatornya diantaranya Kualitas Gizi: Muncul keraguan terhadap gizi makanan yang disajikan dan efektivitasnya dalam mencegah stunting. Keracunan Pangan: Terjadi kasus keracunan makanan di sekolah yang menjadi sasaran program. Salah Sasaran: Riset menunjukkan adanya inclusion error, dimana sebagian yang menerima bukan target utama. Beban Anggaran: Anggaran besar MBG dikritik mengalihkan dana dari kebutuhan dasar lain.
Bahkan saat libur sekolah seperti saat ini, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengkritik program makan bergizi gratis (MBG) yang tetap disalurkan atau berjalan, padahal sekolah saat ini sedang libur. Masyarakat bingung, bagaimana mungkin ketika anak-anak sekolah libur, kemudian MBG itu masih jalan, orang tua harus ke sekolah, guru tetap harus di sekolah, dan lain-lain,” katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Jumat (26/12/2025).
Media mengatakan, ada kesalahan sangat signifikan dalam tata tata kelola MBG, terutama pada saat libur sekolah. “Karena kebijakan itu kan harus ada tiga hal. Siapa sasaran, bagaimana mekanismenya, dan apa yang terjadi ketika konteksnya berubah,” ujarnya. Menurut Media, sekarang konteksnya jadi berubah. Ia menyebut ketika libur, anak-anak tidak ada di sekolah, sementara MBG program yang berbasis sekolah. “Penerimannya jelas, logistiknya jelas, dan kalau anak-anak itu enggak ada di sekolah, siapa yang kemudian bisa diawasi?” ucapnya.
Beberapa problem yang muncul dari program MBG yang menyeruak di media diantaranya keracunan massal MBG, ompreng mengandung babi, SPPG tak sesuai standar, budgeting anggaran besar berdampak pada pengurangan anggaran bidang lain mewarnai masalah MBG. Dari sini jelas bahwa MBG adalah program populis kapitalistik sehingga yang dipentingkan adalah terlaksanakannya program, bukan manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat dan tidak menyelesaikan masalah stunting. MBG dipaksakan untuk terus berjalan, meski banyak permasalahan krusial di lapangan. Ini menunjukkan bahwa MBG bukan untuk kepentingan rakyat, tapi kepentingan penguasa dan pengusaha yang mengelola dapur SPPG yang kebanyakan adalah kroni penguasa. Program MBG menunjukkan bahwa penguasa kapitalistik tidak amanah terhadap anggaran negara yang strategis.
Berbeda dengan pengelolaan Islam. Dalam sistem Islam, setiap kebijakan adalah untuk kemaslahatan rakyat dan sesuai syariat. Visi negara adalah raa’in sehingga kebijakan harus dalam rangka melayani kebutuhan rakyat, bukan untuk kepentingan pengusaha atau untuk popularitas penguasa. Kebutuhan gizi rakyat dipenuhi secara integral melibatkan semua sistem yang ada. Sistem pendidikan mengedukasi tentang gizi. Dalam konteks Daulah Islam (Pemerintahan Islam), MBG (Makan Bergizi Gratis) adalah wujud nyata peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat, meneladani praktik di masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin dengan menyediakan pangan berkualitas (halal dan thayyib) melalui struktur seperti dapur umum (imaret) dan baitulmal, bertujuan memberantas stunting dan malnutrisi dengan dana publik, serta memastikan pendidikan dan kesehatan terpenuhi sebagai tanggung jawab pemimpin (raa’in wal junnah), bukan hanya sekadar program populis kapitalis.
Sistem ekonomi memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Negara menyediakan lapangan kerja sehingga kebutuhan gizi keluarga bisa dipenuhi oleh kepala keluarga. Negara Islam berfungsi sebagai pengurus dan pelindung (raa’in wal junnah) yang memastikan semua kebutuhan dasar, termasuk gizi, terpenuhi secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan zakat. Sumber Dana dari Baitulmal: Pendanaan berasal dari pos-pos baitulmal seperti fai, kharaj, dan kepemilikan umum (pertambangan, hutan, dll.), bukan hanya zakat yang peruntukannya terbatas pada delapan asnaf.
Negara menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau sehingga makanan bergizi mudah diakses rakyat. Islam tidak hanya menyeru pemimpin untuk peduli, tapi juga menyediakan sistem yang menjamin terlaksananya tanggung jawab itu. Negara Islam dalam sistem Khilafah bertugas menjamin kebutuhan pokok rakyat: pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Para ayah tidak dibiarkan sendiri memikirkan nafkah, karena negara menjamin lapangan kerja dan sistem ekonomi yang adil. Para ibu tidak dipaksa memutar otak mencari jalan keluar atas mahalnya kebutuhan hidup, karena harga-harga dijaga tetap stabil dan pelayanan dasar diberikan tanpa biaya.
Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah: Memberi makan orang miskin dengan makanan terbaik (daging kambing terbaik), menunjukkan penghormatan dan kepedulian. Setelah Rasul wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh para khalifah yang meneladani Beliau mengamalkan hal ini. Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah memikul sendiri gandum untuk seorang ibu miskin, karena merasa takut akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Umar bin Abdul Aziz bahkan membuat negara begitu sejahtera hingga sulit menemukan orang yang layak menerima zakat. Di masa Khilafah Utsmaniyah, negara mendanai pendidikan, membangun dapur umum, dan memberikan tempat tinggal bagi para pelajar dan fakir miskin. Inilah bentuk negara yang benar-benar mengurusi rakyat, bukan sekadar tampil di baliho dan pidato.
Program MBG hari ini, meskipun kecil dan belum merata, menyentuh satu sisi penting dalam kehidupan rakyat dan menjadi pengingat bagi kita bahwa beginilah seharusnya negara hadir. Jika satu program bisa begitu meringankan, bayangkan jika seluruh sistem kehidupan diatur oleh syariat Islam secara menyeluruh. Itulah janji yang pernah nyata dalam sejarah, dan insya Allah akan kembali hadir dalam kehidupan kita. Semoga kita tidak puas hanya dengan secuil gambaran ini, tapi semakin rindu pada kehadiran sistem Islam kaffah yang benar-benar menjadikan penguasa sebagai pelayan rakyat, bukan penghisap jerih payah mereka. Semoga hati-hati kaum muslimin dibuka untuk kembali memperjuangkan kehidupan yang diatur oleh Islam, sebagaimana yang dulu pernah menyejahterakan umat manusia selama berabad-abad. Wallahu a’lam bisshowab[] Sumber Foto : Canva

