Himpitan Ekonomi Mematikan Naluri Keibuan

Bagikan Artikel ini

Islam memiliki sistem ekonomi yang mensejahterakan rakyat melalui berbagai mekanisme, termasuk banyaknya lapangan pekerjaan. Islam juga memiliki sistem pendidikan yang akan membentuk kepribadian Islam. Media juga berperan mendukung terbentuknya keimanan.


Oleh : Dewi yuliani

WacanaMuslim-Kesulitan ekonomi ibu di medan menjual bayinya Rp 20-juta. “Bayi ini anak kandung dari anak salah satu pelaku yang ditangkap, dijual Rp 20 juta. Penyerahan uang dilakukan bertahap, pertama Rp 5 juta, kedua Rp 15 juta. Keempat pelaku yang ditangkap, diharapkan sebagai penjual, pembeli dan perantara,” kata Madya didampingi Kepala Saksi Humas Polrestabes Medan Inspektur Satu Nizar Nasution, Kamis, 15 Agustus 2024. Hal ini dikutip dari Medan.kompas.com.

Himpitan ekonomi mengakibatkan hilangnya akal sehat dan matinya naluri keibuan
sampai rela mejual bayi dengan harga yang terbilang cukup murah, terlebih bila dukungan sistem juga tidak berjalan, baik karena sama-sama miskin ataupun individualistis. Abainya negara wujudkan kesejahteraan juga berperan termasuk dalam penyediaan lapangan kerja bagi suami.

Hal ini erat dengan sistem ekonomi yang diterapkan saat ini. Hal ini Nampak dari Kasus serupa banyak terjadi. Di sisi lain, gagalnya sistem Pendidikan membentuk pribadi yang bertakwa. Islam menetapkan peran negara sebagai raa’in, kesejahteraan menjadi kewajiban negara untuk mewujudkannya.

Islam memiliki sistem ekonomi yang mensejahterakan rakyat melalui berbagai mekanisme, termasuk banyaknya lapangan pekerjaan. Islam juga memiliki sistem pendidikan yang akan membentuk kepribadian Islam. Media juga berperan mendukung terbentuknya keimanan.

Penerapan Islam kafah akan mewujudkan optimalnya Fungsi keluarga, Kaum ibu sejatinya butuh kehadiran sistem Islam. Sistem ini lahir dari asas keimanan dan aturannya berfungsi sebagai solusi atas seluruh masalah kehidupan sehingga manusia dan seluruh alam bisa merasakan rahmat Allah Yang Maha adil dan Maha sempurna.

Islam memiliki seperangkat aturan yang mendukung peran keibuan. Dalam pandangan Islam, peran ini berkedudukan penting bagi eksistensi peradaban Islam cemerlang. Dari merekalah lahir generasi umat yang mengemban amanah penciptaan manusia, yakni sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi yang Dia ciptakan.

Dukungan itu tidak lain berupa hukum-hukum yang menetapkan jaminan finansial, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan semua hal yang dibutuhkan sehingga mereka bisa menjalankan peran strategisnya dengan optimal.

Hal itu melibatkan semua pihak, mulai dari suami atau wali melalui hukum nafkah dan perwalian, lalu masyarakat dengan fungsi amar makruf dan nahi mungkarnya, serta negara sebagai pengurus dan penjaga rakyatnya.

Baca Juga : Paket Stimulus Ekonomi, Mampukah Jadi Solusi?

Peran negara dalam Islam benar-benar sangat dominan. Melalui negara yang tegak di atas asas imanlah penerapan seluruh aturan Islam yang menjamin kesejahteraan bisa diwujudkan.

Aturan-aturan tersebut meliputi politik ekonomi Islam, termasuk APBN dan moneter, sistem pemerintahan, sistem sosial, sistem pendidikan, pertahanan dan keamanan, sistem media massa, serta sistem hukum dan sanksi. Jika semua aturan Islam ini diterapkan kafah, benar-benar dijamin akan membawa kebahagiaan dan keberkahan.

Tidak heran jika sepanjang sejarah peradaban Islam, lahir generasi hebat tanpa tandingan. Peradaban Islam bahkan mampu menjadi mercusuar dan trendsetter bagi peradaban bangsa-bangsa lainnya di dunia. Diakui atau tidak, seluruh bangsa-bangsa di dunia telah berutang pada umat Islam.

Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah, dan seni mengalami kejayaan luar biasa.

Hal ini niscaya karena sistem Islam tegak di atas landasan ruhiyah. Kepemimpinan dalam Islam tidak sekadar berdimensi duniawi, melainkan juga ukhrawi. Maka paradigma inilah yang mendorong para penguasa berusaha sungguh-sungguh mengurus dan melayani rakyat karena beratnya pertanggungjawaban di akhirat.

Hal ini ditunjang oleh kehadiran aturan Islam yang berfungsi sebagai solusi kehidupan sehingga ketika diterapkan secara kafah, dipastikan akan mewujudkan kebahagiaan yang hakiki yang dirasakan oleh semua rakyat hingga orang per orang.

Terkait jaminan kesejahteraan anak dan ibu, Islam memberi aturan yang begitu komplet. Strategi politik ekonomi Islam yang diterapkan, membuat distribusi kekayaan berjalan ideal dan optimal.

Baca Juga : Deflasi: Ekonomi Merosot, Rakyat Tak Sejahtera

Tidak boleh ada kekayaan yang dikuasai segelintir orang karena Islam mengatur soal kepemilikan, antara lain mengatur bahwa kekayaan alam yang luar biasa besar ini adalah milik rakyat secara keseluruhan. Negara diamanahi oleh Islam untuk mengelolanya dengan optimal demi sebesar-besar kemakmuran atau kesejahteraan rakyat.

Hal ini ditunjang oleh sistem-sistem lain yang diterapkan secara kafah, mulai dari sistem sosial, politik, sanksi, dan lain-lain sehingga semua celah kerusakan benar-benar akan tercegah. Termasuk, semua hal yang bisa menghambat optimasi kemampuan ibu dalam mengawal tumbuh kembang anak sehingga mereka akan menjadi generasi unggul di masa depan.

Pada praktiknya, jaminan kesejahteraan anak dan ibu ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, dalam hal ini suami atau walinya melalui hukum nafkah dan perwalian. Juga melibatkan masyarakat melalui fungsi amar makruf dan nahi mungkar, serta negara sebagai pengurus dan penjaga umat melalui penerapan seluruh hukum-hukum Islam atas landasan keimanan.

Tidak heran jika sepanjang penerapan Islam itu umat Islam mampu tampil sebagai sebaik-baik umat. Dari rahim para ibu umat Islam, lahir generasi yang juga mulia, yakni generasi penerus peradaban Islam yang tiada tandingan.

Wallahu’alam bishawab[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *