Umat semestinya segera sadar bahwa sejatinya urusan Gaza, Palestina, ini ada pada tangan-tangan mereka karena sejatinya merekalah pemilik hakiki kekuasaan.
Oleh : Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulisdan Pengamat Kebijakan Sosial)
WacanaMuslim-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Senin (21/4/2025) malam bahwa dia tidak akan menerima pembentukan kekhalifahan mana pun di pantai Mediterania. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa respons Israel tidak akan terbatas pada Yaman, tetapi akan meluas ke Lebanon dan wilayah lainnya. Klaim Netanyahu menolak khilafah sejatinya menggambarkan ketakutan akan kekuatan umat Islam yang mulai terbentuk kesadarannya dengan menyerukan jihad dan tegaknya khilafah sebagai solusi di tingkat global. (Arrahmah.id, 23-4-2025)
Front pertempuran di Jalur Gaza kembali memanas dengan eskalasi besar-besaran. Faksi-faksi perlawanan Palestina melancarkan sejumlah operasi terhadap pasukan pendudukan Israel, bertepatan dengan lonjakan drastis jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil akibat serangan udara ‘Israel’ yang terus berlangsung sejak dini hari kemarin, Ahad. (Arrahmah.id, 27-4-2025)
Hingga 15 April 2025, Anadolu Ajansi melaporkan jumlah penduduk Gaza yang tewas sejak 7 Oktober 2025 sudah mencapai 51.000 orang. Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) pun telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Umat mulai menyadari bahwa solusi yang ditawarkan Barat bukanlah solusi hakiki. Makin jelas pula bahwa dakwah menyerukan jihad dan Khilafah bukan hanya sekedar bicara alias NATO – No Action Talking Only. Sudah seharusnya umat menyambut seruan ini.
Semua realitas yang terjadi ini semestinya menjadi pengingat bahwa harapan penyelesaian masalah Gaza dan Palestina bukan ada pada para penguasa Arab, Turki, Indonesia, dan lainnya. Apalagi ada pada negara-negara adidaya dan lembaga-lembaga internasional yang justru dibuat dan disetir untuk menjadi alat melanggengkan penjajahan mereka atas dunia. Umat semestinya segera sadar bahwa sejatinya urusan Gaza, Palestina, ini ada pada tangan-tangan mereka karena sejatinya merekalah pemilik hakiki kekuasaan. Di tangan merekalah hak untuk memilih penguasa yang siap menjalankan syariat Islam, termasuk yang siap mengurus dan menjaga rakyatnya dari segala bentuk kezaliman dan upaya penjajahan.
Kekuatan umat yang terkonsentrasi hari ini tidak boleh hanya berhenti pada menuntut penguasa membela Gaza dengan turun ke jalan. Tapi umat harus berupaya lebih massif mewujudkan kepemimpinan yang benar-benar berlandaskan Islam, yakni seorang khalifah yang berfungsi sebagai rain (pengatur) dan junnah (penjaga) bagi umat dengan menerapkan hukum-hukum Islam. Khalifah juga tidak akan tunduk pada kekufuran karena Islam jelas-jelas mengharamkan. Khalifah bahkan akan memobilisir seluruh kekuatan, termasuk memimpin jihad, mengerahkan tentara dan senjata, demi membela umat dan menghilangkan segala bentuk kezaliman, termasuk membela muslim Gaza. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR Muslim).
Khilafah adalah ajaran Allah dan bisyarah Rasulullah yang pasti akan terwujud. Musuh Allah pasti menghalangi tegaknya khilafah. Begitu juga penguasa muslim pengkhianat akan mendukung mereka karena kecintaan mereka pada kekuasaan dan dunia. Umat harus menguatkan keyakinannnya dan berjuang untuk menjemput nashrullah. Hari ini tampak jelas kerusakan sistem kapitalisme sekulerisme. Kebutuhan akan khilafah sudah makin nyata.
Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/palestina-butuh-bantuan-nyata-bukan-retorika/
Perjuangan ini harus dipimpin oleh jamaah dakwah ideologis yang mengikuti metode Rasulullah. Para pengembannya harus makin menguatkan dakwah kepada umat dan memanfaatkan situasi hari ini untuk membangun kesadaran umat. PR besar jamaah yang berjuang membangkitan kesadaran umat adalah bagaimana memahamkan umat bahwa seruan ini tidak mungkin disambut oleh para penguasa yang ada. Mereka justru membutuhkan seorang khalifah yang dibaiat oleh umat untuk menjalankan hukum-hukum syara termasuk memimpin jihad melawan musuh-musuh yang memeranginya. Sehingga seruan pengiriman tentara, semestinya disandingkan dengan seruan penegakkan Khilafah Islam yang akan menggantikan kedudukan para penguasa khianat.
Kedatangan kembali Khilafah memang sudah Allah janjikan dan merupakan bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah saw. Hanya saja, umat Islam dituntut untuk memperjuangkannya. Caranya adalah dengan menapaki jalan dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. bersama sebuah partai politik atau jemaah yang ikhlas berdakwah semata-mata karena Allah dan menjalankan seluruh aktivitas dakwahnya tanpa bergeser sedikit pun dari tuntunan-tuntunan Islam. Wallahu a’lam bisshowab.[] Sumber Foto : Canva

