Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Oleh. Diah Indriastuti
WacanaMuslim-Kita sering dihadapkan kepada berbagai macam masalah di dalam kehidupan, dan menganggap masalah tersebut adalah biasa, sebagaimana umumnya dihadapi oleh kebanyakan masyarakat. Begitupun dengan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut, cenderung untuk mengikuti perasaan kita. Dimana perasaaan, kita jadikan standar penentu apakah keputusan yang kita ambil adalah baik atau buruk. Setelah itu kita menganggap masalah tersebut sudah selesai, tetapi perasaan tidak dapat dibohongi, kita merasa tidak baik-baik saja, seperti gagal move on, over thinking, masih marah, dan perasaan lainnya
Pernahkah kita berfikir bahwa ketika kita menjadikan perasaan sebagai penentu/standar baik atau buruk itu lah yang menjadi penyebab perasaan kita jadi bermasalah? Tidak mendapat ketenangan, hidup jadi kosong/hampa. Apakah kehidupan seperti ini yang kita cari ? Tentu saja tidak. Ketika kita bertanya kepada siapapun orangnya, mereka pasti menjawab ingin mendapatkan kebahagian dalam hidup. Meski dengan versi mereka.
Untuk menjawab hal ini, maka kita butuh memahami bahwa manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang tidak memahami apapun, kemudian Allah memberikan sedikit ilmu kepadanya , yang membuatnya faham tentang segala sesuatu di dunia.
إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh. (QS. Al Ahzab : 72)
Ketika memahami hal ini diharapkan terbentuk kesadaran berfikir bahwasanya manusia lemah dan tetbatas. Sehingga bila dirinya menjadikan perasaan atau pikirannya sebagai penentu baik dan buruk terhadap suatu masalah maka hal ini jelas pasti berbeda-beda pada masing-masing individu. Akibatnya akan membuat perselisihan dan pertentangan karena merasa paling benar apalagi tidak adanya standar yang menjadi penentu benar atau salah , semua berdasarkan versi masing-masing manusia. Yang terjadi adalah yang paling kuat akan menindas yang lebih lemah.
Sebagaimana kita rasakan saat ini, perasaan dan pemikiran kita dipaksa untuk menerima sesuatu yang berasal dari manusia, seperti : paham pluralisme, sekularisme, kapitalisme, demokrasi, liberalisme, hedonisme, yang itu jelas-jelas dari akal dan perasaan manusia. Bentuk paksaannya berupa kesepakatan bersama yang harus ditaati baik regional maupun internasional. Penjajahan dianggap mempertahankan diri dari kelompok yang dituduh teroris dalam kasus Palestina, ekploitasi kekayaan alam hingga merusak lingkungan dan manusia dianggap investasi menguntungkan, manusia diekploitasi untuk kepentingan industri dianggap modernitas padahal perbudakan modern, kerakusan dan ketamakan tampak dari kebijakan-kebijakan yang digulirkan, kemiskinan dianggap kemalasan, dan lain sebagainya.
Hal di atas merupakan hasil dari standarisasi yang digunakan untuk memaksakan kepentingan guna meraih keuntungan, tanpa memandang apapun, apalagi dosa. Standar seperti ini jelas keliru, tidak sesuai fitrah manusia yang butuh dihargai, ditempatkan pada posisi mulia, dihormati tanpa memandang siapapun dirinya.
Upaya untuk merubah kondisi banyak dilakukan dalam berbagai macam bentuk upaya. Baik merubah orangnya, metode partainya di format ulang, arah perjuangannya. Tanpa menahami hakikat perubahan seperti apa dan mau dibawa kemana. Kecenderungannya hanya mengikuti aktivitas yang pernah ada. Sehingga tidak bisa terwujud sesuai dengan yang diharapkan.
Standarisasi perubahan saat ini di dunia manapun dimaknai dengan bergantinya seseorang dalam menjalankan sistem. Ini diambil tanpa ada upaya untuk mengjaji lebih mendalam, benarkah hanya dengan mengubah sosok semata akan mampu menghantarkan kepada perubahan yang diharapkan?
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(surat-ar-rad-ayat-11)
Sesungguhnya yang mendasari adanya perubahan adalah ketika ada keinginan yang kuat untuk berubah. Keinginan akan muncul setelah seseorang terbentuk kesadaran berupa pemahaman yang benar bagaimana memandang hidupnya di dunia, hingga memahami standarisasi siapa yang layak digunakan untuk mengatur dirinya. Ketika memahami hal ini maka dia akan berupaya melakukan perubahan terhadap dirinya dan lingkungan dimana dia hidup, saat mendapati ketidaksesuaian antara realitas dengan yang seharusnya diwujudkan. Ini dari aspek orangnya. Adapun orang baik tanpa didukung sistem yang baik maka tidak akan terwujud kehidupan yang baik. Kembali lagi bahwa sustem yang baik haruslah sesuai standar dari Allah yaitu sistem Islam bukan yang lain. Sistem ini sudah teruji selama +/- 13 abad dan tidak perlu diragukan lagi. Dan tidak ada yang mampu menandinginya sepanhang sejarah kekuasaan di dunia.
Perubahan seperti ini membutuhkan kerja kolektif/bersama, tidak bisa dilakukan sendiri. Karena perubahan ini akan memberikan dampak terhadap seluruh aspek kehidupan, sehingga butuh untuk dipahami bersama dan saling support. Perubahan itu bukan milik tertentu, perubahan itu kewajiban bersama untuk mewujudkannya. Tidak memandang muda, siapapun punya potensi yang sama untuk mewujudkan perubahan. Perubahan itu bukan sebatas sekup kecil, tetapi mendunia. Ini menunjukkan pada QS Ar Ra’d : 11 bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Perubahan bisa dilakukan sebagai bentuk ikhtiyar manusia yang meyakini keperkasaan Rabbnya.
Allah Sang Pemilik Alam Semesta telah menetapkan standar bagi manusia sebagai penentu baik atau buruknya aktivitas manusia. Tidak ada yang dapat mengintervensi atau kecenderungan kepada pihak manapun dalam menetapkan standar tersebut. Justru manusia membutuhkannya sebagai penyelesai seluruh aktivitas yang dijalani dalam kehidupan. Untuk mencapai kehidupan yang tenang dan bahagia dunia akhirat. Termasuk standarisasi perubahan.
Kita butuh memahami hal ini, agar kita memiliki harapan yang besar dalam diri kita, tidak meremehkan upaya yang dilakukan saudara kita yang ingin memperjuangkan perubahan menuju Islam kaffah. Hakikatnya perjuangan ini untuk memenuhi perintah Rabbnya, mempersatukan umat, dan menyelamatkan kehidupan semua makhluk dari kebinasaan.
Inilah standar baik dalam kehidupan di dunia yakni mengabdikan seluruh hidup kita kepada Sang Pencipta secara total. Berjuang menuju perubahan yang diinginkanNya bukan kita inginkan. Dikatakan buruk ketika kita diam apalagi menolak mengikuti standar Pencipta kita Allah SWT. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pemahaman kita selama ini tentang perubahan sebatas perubahan individu saja. Singsingkan lengan untuk bergandeng tangan mewujudkan perubahan besar dengan menerapkan Islam Kaffah dalam naungan Khilafah. Aamiin[] Sumber Foto : Canva

